29 Februari 2012,
Page 60 of 366,
PNS = PelayaN maSyarakat
Ps. : Setelah dibaca2 (terbiasa nulis dulu baru baca ulang) postingan ini agak narsis, ga apa2 yah, kan hari istimewa :D
"Buah paling manis dari berani bermimpi, adalah kejadian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan menggapainya" -Andrea Hirata-
29 Februari 2012,
Page 60 of 366,
PNS = PelayaN maSyarakat
“Karena bertanya tak membuatmu berdosa”
Honestly, baru kali ini saya menghadiri sebuah forum group discussion (FGD) dalam rangka menjaring aspirasi masyarakat, dimana peserta murni berasal dari perwakilan warga (bukan para praktisi atau LSM). Ya, dan saya tercengang. Saya melihat langsung bagaimana sebuah pembodohan masyarakat sedang berlangsung dengan aman dan lancar.

Ibuku adalah :
- Orang yang tak pernah mengeluh sejak mengandung, melahirkan dan membesarkanku hingga sekarang
- yang paling banyak berkorban untukku
- yang tak pernah melewatkan sedetik pun untuk memikirkanku
- yang selalu berbinar bangga melihat perkembanganku
- yang memanjatkan doa untukku siang dan malam
- yang paling peka tentang apa yang terjadi padaku, meski aku tak memberitahunya
- yang memberi motivasi dan dukungan, saat aku terjatuh
- yang tersenyum gembira bersamaku, saat aku bahagia
- yang menguatkanku saat aku terjatuh
- yang mengajariku tentang berjuang dan berusaha
- yang mengajariku tentang pengorbanan dan keikhlasan
- yang paling berpengaruh dalam hidupku
- yang mencurahkan cintanya yang tak terhingga untukku
- yang selalu berkata padaku ”kamu pasti bisa”
- yang terbaik yang pernah aku miliki di dunia ini
Aku meneteskan air mata saat berpikir, aku takkan sanggup membalas semua itu. Tapi melihat tatapannya yang begitu sejuk dan penuh kasih sayang, seolah ia pun berkata ”Kau tak perlu membalas apa-apa untukku..”. Sebuah ketulusan dari seorang ibu...telah mengantarkanku menjadi seperti sekarang...
Ya Allah...
Berilah balasan yang sebaik-baiknya pada ibu
atas didikannya padaku
atas kasih sayang yang dilimpahkan untukku
peliharalah ibu seperti ia memeliharaku
Apa saja gangguan yang ia rasakan
atas kesusahan yang diderita karena aku
atas hilangnya hak nya karena perbuatanku
jadikanlah itu semua
penyebab rontok dosa-dosanya
dan meninggi kedudukannya di hadapanMu
dan bertambahnya pahala kebaikannya dengan perkenanMu
For my dearest mom
In mother’s day...
Melihat senyumnya yang tulus, mendengar sapanya yang ramah, menyimak cerita-cerita menyenangkan darinya, siapapun takkan bosan bertemu dengannya. Semua orang akan ikut terbawa keceriaan bersamanya.
Kecantikannya meliputi luar dalam. Kesabarannya luar biasa. Hampir tak pernah mengeluh. Tak pernah hilang dari ingatanku, kesibukannya di rumah sejak pagi hingga malam hari, tetap dengan senyum tulus serta keceriannya. Ia telah menjadi ibu muda yang ideal. She is a wise wife, a best mother and a great woman.
Setahun lalu ia meninggalkan kami, menjadi seorang syuhada (InsyaAllah..), bersama adik bayi yang saat itu sedang diperjuangkannya untuk lahir ke dunia. Sungguh kami semua sangat menyayanginya, namun Allah lebih menyayangi keduanya, dan membawa mereka ke tempat terbaik di sisiNya, InsyaAllah..
Selalu kulantunkan dalam doa, agar kami dipertemukan dengan keduanya, di SyurgaNya kelak,
Amin ya Rabb..
# yang sedang merindumu, teh Dini..
1 Des '09 - 1 Des '10
Latar : Metromini 640 ( Tanah Abang – Pasar Minggu)
Sketsa 1 : Seniman Jalanan dan Aishiteru
Sepertinya setiap sepuluh menit sekali seniman jalanan (orang-orang biasa menyebutnya pengamen) memasuki metromini ini. Sepanjang perjalanan, jika tak salah ingat, ada 6 seniman jalanan (belum terhitung rekan kerjanya) yang masuk. Ada pemuda berusia menjelang dua puluh, ada juga anak-anak berusia sekitar sepuluh tahun. Ada yang bernyanyi dengan diiringi permainan gitar dan tabuhan drum lipat, ada yang diiringi dengan gitar kecil dan tabuhan pipa-pipa yang lubangnya ditutup karet, ada juga yang merasa cukup diiringi kecrekan botol air mineral berisi sedikit beras. Ada yang bersuara emas, ada juga yang pas-pasan. Lima dari enam seniman jalanan ini menyanyikan lagu yang sama, yaitu “Aishiteru”. Entah karena lagu ini memang sedang populer atau karena lagu ini mudah dihafal, atau karena seniman-seniman jalanan ini “satu perguruan”.
Tak semuanya perlu diberi apresiasi, tentu saja, karena apresiasi hanya untuk seniman yang bersungguh-sungguh dalam pertunjukkan kecilnya di atas Metromini itu. Terlalu berlebihan? Tidak juga, ini namanya perhargaan atas sebuah karya. Terlepas dari apakah mereka bernyanyi karena keinginan sendiri untuk mencari nafkah, karena memang hobby bernyanyi, atau terpaksa karena telah menjadi alat pengumpul uang bagi para preman. Maka dari itu sejak tadi saya menyebut mereka seniman jalanan (bukan pengamen), sekedar ber-positive thinking saja.
Sketsa 2 : Oma, Cucu, dan Mama
Hampir sepanjang jalan sang Oma sibuk memarahi sang Cucu (sepertinya semata wayang) yang tak bisa diam duduk manis di kursi Metromini. Layaknya anak-anak, ada-ada saja kelakuan yang aneh-aneh dan membuat orang-orang dewasa (yang nampaknya lupa masa kecilnya seperti apa) tak nyaman melihat hal tersebut. Barangkali Oma teramat sayang pada cucunya ini, maka beliau berkali-kali mengingatkan Cucu, sayangnya dengan omelan, celaan, bahkan cubitan. Beberapa penumpang lain (yang tak punya pilihan pemadangan lain) sepertinya agak terhentak saat melihat Cucu menendang-nendang Oma untuk meminta dibelikan sesuatu, lalu Oma pun membalas dengan tepukan (agak keras) di kaki cucu disertai dengan pelototan mata yang tentu sangat tajam. Ahh.. orang lain pasti tak tega melihat keduanya. Para penumpang lain pun semakin terkejut ketika Cucu memanggil wanita yang duduk di sebelahnya dengan panggilan “Mama”. Ohlala.. Jadi wanita yang sejak tadi diam saja melihat keributan Oma dan Cucu itu adalah Mama (Anak sang Oma, dan Ibu sang cucu)??
“Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki”
“Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi”
“Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri”
Sketsa 3 : Si Gadis Hitam Manis
Kecantikan alami si gadis hitam manis ini masih terlihat, meski bajunya kumal dan aromanya (maaf) agak bau. Ia membawa kresek putih yang juga kumal. Tadinya dikira si gadis ini mau mengamen, tapi ternyata tidak. Ia hanya berdiri mematung di dekat pintu Metromini. Saat seorang penumpang akan turun, si gadis terkejut dan tiba-tiba saja berteriak-teriak tak karuan memarahi penumpang yang akan turun itu. Sontak semua penumpang kaget dan ketakutan.
"Orang stress kali ya..” bisik seorang penumpang ibu-ibu paruh baya.
Metromini terhenti, Pak kernet dan Pak Supir sibuk membujuk si gadis turun dari Metromini, alih-alih turun, si gadis malah berteriak-teriak sambil menangis
“Saya turun di lampu merah depan. Ini saya juga mau pulang!!!” rengeknya.
Barangkali karena tak tega, akhirnya Pak Kernet dan Pak Supir membiarkan si gadis terus menumpang Metromini, tentu saja dengan resiko : Pertama, dijamin si gadis tidak akan membayar ongkos. Kedua, tak ada penumpang yang mau naik (karena si gadis berpakaian kumal dan agak bau ini berdiri di pintu depan). Ketiga, para penumpang yang ada di dalam Metromini pasti ketakutan, khawatir si gadis akan melakukan hal yang tidak-tidak. Namun akhir cerita boleh membuat semua penumpang cukup lega, si gadis turun dengan sendirinya di lampu merah Pancoran (tepat seperti yang ia bilang saat menangis merengek pada Pak Kernet tadi).
Andai saya petugas sosial, akankah saya membawa si gadis ke panti rehabilitasi lalu mempertemukan kembali dengan keluarganya? sepertinya ia masih ingat masih mengingat beberapa hal tentang kehidupannya.
Epilog
Melihat, mengamati dan menyimpulkan, dengan mata, telinga, otak, dan hati.. Karena tugas seumur hidup manusia adalah belajar. Salah satunya belajar memaknai kehidupan
#dalam perjalanan bersama Metromini 640 , that’s why I like public transportation
Sebelum lupa, tadi sore saya dapet sedikit kuliah ilmu politik, materinya tentang siklus politik
Jadi ceritanya begini. Kebijakan dan peraturan dibuat oleh pemerintah untuk masyarakat dengan tujuan untuk mengatur kehidupan bermasyarakat agar aman, sejahtera dan tentram. Masyarakat disini bukan hanya masyarakat sipil saja, tapi juga termasuk instansi, perusahaan, organisasi, kelompok masyarakat. Disinilah terjadi conflic of interest, dimana ketika ada yang merasa tak nyaman atau tak setuju dengan kebiajakan yang dibuat pemerintah, maka ia akan memperjuangkan hal tersebut. Caranya adalah dengan menggaet kelompok-kelompok yang berkepentingan, karena mereka ini biasanya lebih mempunyai kekuatan daripada orang sipil.
Kelompok yang berkepentingan ini kemudian mendekati LSM untuk meraih akses-akses yang tak terjangkau. Aspirasi LSM lebih efektif jika disalurkan melalui Partai Politik, karena Parpol lah yang akan meneruskan aspirasi ke jenjang yang lebih berwenang dan berkuasa. Jenjang ini adalah Dewan yang duduk di Senayan. Dewan mempunyai setumpuk permasalahan untuk diselesaikan. Tapi karena Dewan bersifat legislatif, maka pelaksana segala keputusan Dewan adalah sang eksekutif, yaitu Pemerintah. Disinilah siklus akan kembali ke asal mulanya.
Designed by EZwpthemes | Converted into Blogger Templates by Theme Craft