Tampilkan postingan dengan label seriusan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seriusan. Tampilkan semua postingan

C-nya sudah hilang

29 Februari 2012,
Page 60 of 366,

Tanggal ini istimewa karena hanya ada 4 tahun sekali. Hari ini istimewa karena setelah 22 bulan, huruf C hilang dari status kepegawaian saya.


Bersama sebagian Angkatan 74 Prajab

Sejak kecil sampai lulus kuliah saya sudah berkali-kali ganti cita-cita, pernah ingin jadi dokter, jadi wartawan, jadi peneliti, jadi aktivis lingkungan, sampai saat itu saya tak pernah memikirkan cita-cita menjadi PNS. Lalu tiba-tiba saja orangtua menginginkan saya ikut tes-tes rekruitmen CPNS ini itu. Semua saya ikuti, tentu saja demi membuat orangtua saya senang.

Tahun 2008-2009, dalam setahun saya bisa mengikuti sekitar 6-7 tes rekruitmen CPNS, kebanyakan di Kementrian dan Badan, satu kali ikut di Sukabumi, dan Jakarta. Yang terakhir ini, Alhamdulillah atas ijin Allah dan doa orang tua, saya diterima.

Ada banyak orang yang meskipun telah diterima pada pekerjaan lain, tapi sangat berat meninggalkan pekerjaan sebelumnya. Dan itu terjadi pada saya. Posisi saya saat itu sedang bekerja di sebuah LSM lingkungan yang fokus pada bidang advokasi, di mana hampir semua kebijakannya bertentangan dengan pemerintah. Kemudian saya harus resign dengan alasan diterima menjadi PNS. Imagine how they thought about me! Tidakkah saya terlihat seperti seorang pengkhianat? 

Tapi bagi saya, ridho orang tua jauh lebih penting dan berkah. Saya pernah melihat pemerintah dari sisi dunia luar (LSM), dan ini saya jadikan salah satu pegangan jika saya salah langkah kelak, bahwa pemerintahan (dan saya yang berada di dalamnya) selalu diperhatikan oleh orang banyak, baik masyarakat awan ataupun kaum intelektual & idealis. 

Bahkan ketika hari pertama masuk kantor, ada yang langsung mempertanyakan "idealisme" saya, dengan dasar bahwa saya lebih memilih jadi PNS daripada kerja di LSM. Sejak itu saya tak ingin lagi menggunakan kata "idealisme" dan menggantinya dengan Istiqomah (bisa dibaca disini )

Saat di LSM, saya dididik untuk mengkritik pemerintah, sekarang setelah berada di pemerintahan saya membiasakan diri untuk tidak takut mengkritik kebiasaan buruk sesama PNS, perintah atasan yang agak "aneh", atau kebijakan yang tidak pro rakyat, dengan cara yang lebih halus tentunya. Saya ingin membuktikan ketidaktepatan perkataan seorang kawan aktivis LSM yang berkata bahwa pemerintahan hanya bisa "digebrak" dari luar.

Eniwei, saya baru 22 bulan mendiami sistem yang orang-orang bilang kacau ini, saya hanya bagian sangat kecil daripadanya, saya anak baru kemaren sore, masih ada 30 tahun lagi jika umur saya panjang. Doakan saya Istiqomah, dan bisa menjadi bagian dari orang-orang yang "menggebrak" dari dalam. Semoga status PNS saya barokah.

PNS = PelayaN maSyarakat


Ps. : Setelah dibaca2 (terbiasa nulis dulu baru baca ulang) postingan ini agak narsis, ga apa2 yah, kan hari istimewa :D 


Bertanya

Yah, ketika saya bertanya apa, mengapa, kapan, bagaimana, sebenarnya saya memang bertanya dengan sungguh-sungguh dan mengharap jawaban sungguh-sungguh. Bertanya bukan untuk menjadikan diri lebih rendah dari orang yang ditanya. Bertanya juga bukan untuk menyombongkan diri karena ternyata kitalah yang lebih tau dari orang yang ditanya. Bertanya ya bertanya saja, untuk sesuatu yang tidak kita ketahui, untuk sesuatu yang tidak bisa kita temukan jawabannya atau yang tidak kita pahami hanya dengan membaca buku, jurnal, (apalagi artikel internet).

Maka peluang terbesar kita adalah ketika seorang guru/dosen/pembicara seminar “Ada yang ingin bertanya?” Kita sebaiknya lebih banyak bertanya daripada mendebat mereka. Bertanya akan membuat ilmu kita bertambah, dibandingkan mendebat hanya untuk mempertahankan pengetahuan kita yang itu-itu saja.

“Karena bertanya tak membuatmu berdosa” 



Aksi-Reaksi


Suatu hari, ada sekumpulan orang, sedang membicarakan permasalahan-permasalahan di negeri ibu pertiwi yang sedang hangat-hangatnya. Lima menit saja, semua orang disitu sudah mempunyai ide-ide , dan tiba-tiba semua menjadi pembicara-pembicara handal, mengutarakan dengan detail permasalahan terkait topik tersebut, lengkap dengan solusi-solusinya yang brilian. Diskusi menjadi hangat dan hidup, pembicara satu bahkan didebat oleh pembicara lain, kemudian yang lainnya lagi menimpali atau mengoreksi. Mereka hebat dalam mencari kesempurnaan solusi dengan versi masing-masing. 

Bayangkan, itu baru sekumpulan saja, sudah bisa menghasilkan banyak solusi untuk permasalahan bangsa. Saya percaya dan yakin ada banyak sekumpulan orang seperti ini, tersebar di seluruh negeri ini. Jadi, bukankah seharusnya dengan solusi-solusi yang brilian itu, negeri ini sudah bisa mengatasi segala permasalahannya?? Sayangnya kenyataan belum mengijinkan terwujudnya hal tersebut. Kenapa??

Sebelum menjawab kenapa. Mari perhatikan dulu yang ini : Apa reaksi kita saat mendengar kata Merdeka!! Apa reaksi kita saat mendengar orasi kebangsaan yang menggebu-gebu, berisi kata-kata cinta tanah air? Bukankah seketika itu pula semangat dan rasa bangga kita terhadap negeri ini akan bangkit? Dan seketika itu pula terbesit dalam pikiran kita bahwa kita akan melakukan yang sebak-baiknya untuk negeri ini.

Nah, mintalah Pak RT atau Pak RW untuk mengajak sekumpulan orang yang mempunyai solusi-solusi brilian tadi dan orang-orang yang tergugah semangat kebangsaannya, untuk ikut kerja bakti tiap minggu membersihkan lingkungannya. Lihat apa yang terjadi. Jika mereka konsisten melakukannya, maka majulah negeri ini. Jika tidak, silakan ambil kesimpulan sendiri untuk menjawab pertanyaan: kenapa permasalahan negeri ini masih berkutat pada hal-hal yang sama?

Ini hanya salah satu indikator sederhana saja.



Kopi Itu Pahit


Kopi itu pahit. Kopi luwak, kopi aceh, kopi lampung, kopi Arabica, kopi tubruk. Mereka adalah kopi dan mereka pahit.

Kopi itu pahit. Seharum apapun aromanya, sehebat apapun racikannya, sebanyak apapun gula dimasukkan ke dalamnya, kopi tetaplah pahit.

Kopi itu pahit. Tapi saya tak boleh berhenti pada pahit. Karena setelah pahit masih ada rasa lain.
Pernahkah kau bertanya, adakah orang yang begitu tangguh menghadapi sebuah kepahitan?  Tentu ada, mereka adalah para penikmat kopi.

Menikmati kopi membutuhkan seni yang hebat, atau setidaknya membutuhkan keberanian untuk menghadapi kepahitan, ah..atau justru kepahitan itulah yang membuat mereka bersemangat kembali. Bukankah mereka menikmati kopi karena rasa pahitnya yang khas?

Kopi itu pahit. Titik. Tapi aku tak boleh berhenti pada titik, karena setelah titik masih ada kalimat lain, karena terkadang saya membutuhkan rasa pahit kopi untuk menghilangkan rasa kantuk. Barangkali saya harus belajar  dari para penikmat kopi.


Lihat, ke bawah!



“Menjadi pemimpin itu harus mau melihat ke bawah”, kata Lintang, anak pesisir. Setiap diri kita adalah pemimpin, jadi setiap dari kita harus mau melihat ke bawah. Pernah gak mengeluh seolah hanya kita seorang yang menderita di dunia ini? Hellooo… masih banyak kali orang lain yang gak seberuntung kita, masalah-masalah yang mereka hadapi jauh lebih berat.

Melihat ke atas itu perlu, untuk memotivasi. Bahwa kita juga bisa sukses seperti mereka. Tapi dunia ini ga cuma ada langit aja.. di bawah kita masih ada tanah berlapis-lapis (lihat aja, ada ilmu astronomi dan ada ilmu bumi, sepasang..). Makanya jangan melulu melihat ke atas, karena kalo ternyata kita membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai kesuksesan seperti mereka, nantinya kita akan terus membanding-bandingkan diri kita, kemudian menyesali kenapa tak bisa seberuntung mereka yang sukses. “Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau ya?” :)

Jadi sering-seringlah menengok ke bawah, menyapa orang-orang yang problematika hidupnya jauh lebih berat. Lihat, mereka yang lebih menderita saja begitu sabar dan mensyukuri segalanya yang ada padanya. Dan kita yang diberi karunia lebih dengan angkuh mengingkari-Nya. Tentu saja gak sekedar “melihat”, kalo bisa juga mendoakan dan membantu mereka. Itu akan membuat kita lebih lapang, banyak bersyukur dan (semoga) menjadi berkah. Juga bisa menjadi motivasi lho.

Lagian nengok ke atas melulu kan pegel, jadi harus dilengkapi dengan nengok ke bawah, kaya gerakan senam gitu deh.. :)

Melihat ke bawah, ada semut-semut berbaris rapi dengan kompaknya. Melihat ke bawah, ada paku dan Alhamdulillah ga jadi terinjak. Melihat ke bawah, ada dompet tebal lengkap beserta isinya :D , kalo yang ini harus segera dicari pemiliknya :)

Nah, ini juga berlaku untuk para pemimpin (dalam definisi sebenarnya). Presiden, wakil presiden, menteri, pejabat-pejabat, ketua RW & RT, Ketua kelas, Ketua kelompok (sayang mereka ga baca note ini :D) . Inget kan cerita tentang Rasulullah SAW yang menyuapi seorang buta meskipun orang buta tersebut selalu saja menghina Rasulullah? Atau Umar Bin Khattab yang mengantarkan bahan makanan tiap malam untuk rakyatnya. (ah..lagi-lagi, sayang mereka ga baca note ini. Eh tapi semoga mereka pernah mendengar cerita-cerita keteladanan tentang kepemimpinan dan suatu saat Allah mengingatkan mereka akan cerita-cerita tersebut)


“Berbicaralah mengenai hal-hal yang membahagiakan. 
Dunia sudah cukup sedih tanpa keluh kesah kita. 
Sebenarnya tidak ada jalan hidup yang seluruhnya sulit ditempuh.”
 Ella Wheeler Wilcox





Ketika orang-orang menjadi bodoh



Mari bercerita tentang salah satu keajaiban Indonesia, yaitu Sinetron. Sinetron kebanyakan digandrungi oleh ibu rumah tangga dan para gadis, meski tak sedikit juga bapak-bapak atau pemuda yang hobby nonton sinetron. Saya sendiri, meski tak hobby nonton sinetron, tapi terkadang saya “terpaksa” nonton karena orang-orang di sekitar saya menghendaki channel televisi tetap berada pada tayangan sinetron. Tapi tentu saya tak akan berlama-lama, bukan karena tidak betah, tapi karena biasanya saya sangat bawel, tanya ini tanya itu, ceritanya sedih saya malah mentertawakan, ceritanya gembira saya pun tertawa, dalam hal ini lebih baik saya bertoleransi dulu. Ya, saya sungguh tertawa tiap kali nonton sinetron, kadang tertawa lepas sambil memprotes ini itu yang tak masuk akal di depan para penonton lain, kadang tertawa dalam hati karena khawatir menyinggung perasaan yang lain, dianggapnya saya tak menghargai mereka yang sedang menghayati cerita.




Entahlah, semua orang yang menonton sinetron tentu sangat menyadari bahwa cerita yang mereka tonton itu adalah “palsu”. Tapi barangkali hanya sedikit yang menyadari bahwa mereka sedang menonton sebuah pembodohan. Cerita tentang kehidupan kaum hedonis yang begitu materialis, Kejahatan yang tak kunjung henti dari tokoh antagonis, Penganiayaan terhadap tokoh protagonis yang begitu sadis tapi seolah punya 7 nyawa dan seratus malaikat, dan sejuta cerita tak masuk akal lainnya. Belum lagi cerita sinetron yang satu dengan yang lainnya sangat mirip, jalan ceritanya sudah bisa ditebak.


Mengapa saya sebut pembodohan? Karena ada banyak orang bodoh terlibat di dalamnya.
1.    Home Production dan para kru nya yang memproduksi sinetron.
2.    Stasiun TV yang menayangkan sinetron
3.    Para produsen yang memasang iklan
4.    Para artis yang memerankan tokoh dan menjalani skenario tak masuk akal
5.    KPI yang telah mengijinkan penyiaran sinetron
6.  Para penonton yang menonton sinetron (sepertinya untuk yang ini saya masuk di dalamnya, kadang-kadang lho..)
Hanya ada satu yang pintar dalam hal ini, yaitu para  penonton yang tidak sedang menonton tivi!


Nah, ini kekhawatiran saya :
Ketika menonton tivi, penonton sedang berkomunikasi satu arah. Hanya menerima apa yang disampaikan, dan tidak dapat memberikan feedback. Hal ini berlangsung terus menerus tiap hari selama ratusan episode sinetron. Bayangkan, bahwa informasi yang diterima adalah cerita-cerita tak masuk akal, seputar kisah percintaan, gaya hidup hedonis, kekerasan, bahkan pornografi, kemudian tersimpan di alam bawah sadar, terbentuk menjadi pola pikir atau terefleksi dalam kehidupan sehari-hari. Sebenarnya ini tak berlaku di sinteron saja, tapi juga pada tayangan film, kartun, berita2. Hanya saja sinetron begitu intensif hadir setiap malam di TV. Dan jadilah mental, prilaku dan moral kebanyakan masyarakat Indonesia seperti ini. Seperti apa? Ya seperti dalam sinetron-sinetron itu, tak masuk akal.

Kebanyakan lho, tidak semua kok. Saya tidak sedang menggeneralisir. Saya sedang membicarakan sinetron yang membodohi para penontonnya. Oia, di awal saya menyebut ini adalah salah satu keajaiban Indonesia, Mengapa? Karena Orang Indonesia sedang dibodohi oleh Sinetron, tapi diam saja. Disaat koruptor yang mencuri uang rakyat diadili, Pemerintah yang tak becus bekerja di protes, Presiden yang sering curhat dicibir, masyarakat justru diam seribu bahasa ketika dibodohi Sinetron. Ajaib kan? Eh, saya bukannya sedang membela koruptor, pemerintah atau presiden lho, saya hanya sedang mengajak masyarakat jangan mau dibodohi sinetron, karena yang paling mendasar dari semua prilaku manusia sehari-hari adalah pola pikir dan moral.

Jadi, Mari gunakan akal ketika di depan TV!




Tulus, No "Jutek" !


Tak sengaja, mendengar pembicaraan seseorang tidak berseragam yang sedang menelpon, “Iya, orang-orang di lantai 20 tuh judes-judes banget, parah..”. Refleks kepala saya menengok ke orang tersebut, kami bertatap mata, dia langsung menunduk dan pergi dari tempatnya (padahal saya ga ngapa-ngapain lho). Mungkin karena melihat saya berseragam, dia mengira saya juga bagian dari orang-orang “judes” di lantai 20. Untungnya saya tidak berkantor di gedung itu, jelas saya bukan bagian dari lantai 20, tapi kebetulan saja waktu itu saya memang akan menuju lantai 20.

Tapi..ah daripada saya cerita bahwa benarkah yang dikatakan orang tidak berseragam yang sedang menelpon itu, alangkah baiknya kalau saya instrospeksi diri sendiri saja. Meski saya tidak bekerja di bagian pelayanan atau loket atau meja dimana harus menghadapi orang-orang datang hilir mudik, tapi sesekali memang ada tamu yang datang. Saya bertanya pada diri sendiri, sudahkah saya ramah dan tersenyum kepada tamu-tamu tersebut? Jangan-jangan di depan kantor saya ada orang yang bilang “males ah, orang-orang di lantai 5 jutek-jutek”. Wow, bisa jadi saya termasuk salah satu orang tersebut.

Ngaku-ngaku pelayan masyarakat, tapi sekedar menjawab pertanyaan saja sambil jutek, apalagi kalo di demo sama masyarakat? Atau bisa jadi ini salah satu faktor (salah satu aja lho ya) yang menyebabkan masyarakat apatis terhadap pemerintah. Jadi inget yel-yel waktu orientasi pegawai di awal dulu “Melayani dengan tulus”. Tulus itu ngga pake jutek lho :D




Do not fooling us, please?

Honestly, baru kali ini saya menghadiri sebuah forum group discussion (FGD) dalam rangka menjaring aspirasi masyarakat, dimana peserta murni berasal dari perwakilan warga (bukan para praktisi atau LSM). Ya, dan saya tercengang. Saya melihat langsung bagaimana sebuah pembodohan masyarakat sedang berlangsung dengan aman dan lancar.

Rencana awal saya akan memposisikan diri sebagai seorang pemerhati lingkungan (bukan sebagai aparat pemerintah, ceritanya lagi jadi spy :D), tapi saya urungkan ketika tahu pihak penyelenggara tidak mempersiapkan (kemungkinan besar disengaja) materi pengantar diskusi. Tiba-tiba saja peserta diskusi di"paksa" untuk melakukan tanya jawab dengan narasumber yang ternyata tak menguasai materi. Sempurna bukan? Narasumber tak menguasai materi dan peserta sama sekali tak tahu materi apa yang akan didiskusikan.

Padahal yang didiskusikan adalah sebuah rancangan Perda (Peraturan Daerah), dimana masyarakat harus mengetahui dan mengkritisinya karena itu menyangkut hajat hidup mereka puluhan tahun ke depan. Seolah semua sudah diatur sedemikian rupa. Pihak penyelenggara yang berkepentingan terhadap Perda tersebut telah memenuhi syarat - dalam hal ini penjaringan aspirasi masyarakat - padahal sebenarnya warga tidak mengetahui apa-apa dari FGD tersebut, sehingga Perda bisa lolos tahap berikutnya.

Kesimpulan saya adalah sebuah ketidakterbukaan yang disamarkan sengaja dilakukan untuk meng-gol-kan sebuah rancangan Perda.



Blogger Day, Indonesia!!

"Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari." ~ Pramoedya Ananta Toer

Happy Blogger Day, Indonesia!!



How the others judge me


Seorang teman pernah bercerita bahwa ia seringkali khawatir akan mendapat penilaian jelek dan negatif dari orang lain. Ia takut orang akan berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya, hingga hal-hal yang seharusnya biasa saja pun ia khawatirkan.

Well, saya pun sering demikian, and I realized, so stupid I am for thinking like that. Berprilaku manis dan sopan hanya karena ingin orang lain menganggap saya orang yang baik dan santun. Selalu terseyum, ramah dan sering menawarkan bantuan hanya karena ingin orang lain menganggap saya orang baik. Lalu apa yang saya dapat? Yup, betul, orang lain memang menganggap saya orang yang baik dan santun. Pemor saya naik, kepopuleran saya meningkat dan saya naik satu tingkat disbanding orang-orang yang tadinya setara dengan saya (egh..ini contoh aja loh ^^ ).

Tapi apalah artinya itu semua, jika kemudian setiap saat saya selalu dibayang-bayangi kekhawatiran, takut salah bersikap & berbuat, takut kepergok sedang melakukan kesalahan, takut orang lain akan berpikiran negative. Siapa mereka? Siapa orang-orang itu? Apa mereka yang memberikan saya kehidupan? Apa mereka yang member saya rizki? Bukan.. Jadi tak sepantasnya saya takut kepada mereka. Tak sepantasnya saya berbuat baik karena mereka.

Seharusnya saya hanya takut kepada yang Mencipta. Yang Memberi Kehidupan, Yang Selalu Mengawasi saya setiap saat, Yang bisa saja sewaktu-waktu menyentil dan membalikkan kehidupan saya sesuai kehendakNya.

Seharusnya saya berbuat kebaikan karena mengharap ridhoNya dan bukan karena ucapan terimakasih dari orang lain. Akhirnya saya berkata pada teman saya ini, “Kawan, tak usah takut bagaimana orang lain memandang kita. Yang terpenting adalah pandangan Allah terhadap kita, be your self and do it coz Allah”






My Dream Shop

Weekend kemarin saya hangout (*halahhh) bareng mama, tante sama om. Mampir ke sebuah toko, katanya mau beli payet buat kebaya. Eh ternyata toko ini adalah sebuah toko aksesoris pakaian wanita. Ada jilbab, bros, gelang, kalung, bando, tas, payet, renda, dan aksesoris2 lain, dan toko ini menyediakan buku-buku bacaan (untuk baca ditempat) tentang memadupadankan pakaian, cara memasang payet di pakaian, dan buku-buku yang pastinya dibutuhkan para pelanggan.

Wow..senangnya hatiku ^^. This is one of my dream. yup, suatu saat saya akan membuka sebuah toko atau butik, yang isinya menjual lengkap aksesoris wanita. Seperti toko ini. Bedanya, toko saya nanti khusus untuk muslimah. Menjual busana muslim beserta padu padan aksesorisnya mulai dari jilbab, tas, sepatu, aksesoris baju, aksesoris jilbab, kalung, gelang, dan lain-lain, plus akan ada stylist (bukan sekedar buku bacaan) dimana para pelanggan berkonsultasi (gratis) untuk me-mix&macth-kan pakaian mereka.

Yang unik dari toko saya nanti adalah, harga yang terjangkau. Karena saya suka barang-barang dengan harga murah, dan saya yakin hampir semua orang demikian. Tentunya tanpa mengurangi kualitas dari produk-produk yang dijual. So, harga murah, kualitas bagus dan pelayanan yang memuaskan, that's my point.

Semoga terwujud ya Allah.. amin.. ^^





Take the risk

Nonton proActive tadi malem, bikin saya keki plus emosi. Bagaimana tidak, di awal acara, para host melakukan hipnotis bohong-bohongan untuk menyindir seorang Menteri. Maaf saja, menurut saya, ini sangat tidak santun, mengingat para host ini juga adaah public figure. Tapi saya tetap harus menonton acara ini sampai selesai, barangkali saja ada ha-hal yang belum saya ketahui tentang RIM, Blackberry dan Menkominfo.

Sepanjang acara, para host melakukan dialog dengan tak henti-hentinya menyindir dan mencela Pak Tif khususnya dan Pemerintah umumnya. Saya mengenal pak Tif, saya tau istri, anak-anak dan keluarganya. Beside that, Alhamdulillah saya pernah belajar konsep Al Qiyadah Wal Jundiyah. Saya percaya, Pak Tif bukanlah seperti yang dituduhkan orang-orang di media.

Tapi ada satu hikmah yang bisa saya ambil dari kasus ini. Kita harus siap dikritik, dicaci bahkan dihujat orang lain. Terlebih jika masuk dalam pemerintahan. Di negeri ini ada ratusan juta orang yang harus dilayani kebutuhannya. Tentu sangat sulit memenuhi keinginan masing-masing dan mengiyakan semua isi kepala. Berlaku adil bukan berarti memuaskan semua pihak. Hal apapun yang dilakukan seseorang, jika itu menyangkut kepentingan orang banyak, walaupun tujuannya baik, pasti ada saja pihak yang merasa tidak terpuaskan. Inilah resikonya.

Saya teringat, dulu Rasulullah dicaci maki, dihujat, dilempari kotoran, bahkan diburu untuk dibunuh, padahal saat itu beliau sedang menyampaikan kebenaran dan mengajak orang lain menuju keselamatan.
Wallahua'lam..


#tetap semangat menjadi pelayan masyarakat ya dhee.. ^^


Mereka bertarung hingga tetes darah penghabisan, jenderal !!

Tulisan ini saya persembahkan untuk Tim Nasional Sepakbola Indonesia.


Saya bukan pengamat ataupun penggemar bola, barangkali saya hanya satu dari puluhan juta orang di Indonesia yang terbawa arus euforia piala AFF 2010. Sebelumnya saya bahkan tidak tahu apa itu AFF. Tapi sejak semifinal, saya tak pernah melewatkan pertandingan-pertandingan timnas, meski hanya menonton di tv.

Di negara saya ini, media memang sangat lihai dalam memainkan wacana publik, dengan kata lain, agak berlebihan. Termasuk event piala AFF 2010 ini. Dan korbannya adalah saya, puluhan juta warga Indonesia, dan Timnas.. Tentu saja, itu bisa berdampak positif dan negatif, tergantung bagaimana menyikapinya.

Dulu, siapa yang mengelu-elukan sepakbola dan Timnas Indonesia? Mungkin hanya para supporter maniak dan bapak-bapak kami. Kini, sejak media mem-booming-kan piala AFF, saya (orang awam dan tak tahu apa-apa tentang bola), para remaja putri, anak-anak, ibu-ibu, bahkan para nenek, semua hanyut dalam kekaguman atas kelihaian pemain-pemain Timnas.

Sayangnya, saya khawatir ketika melihat semua stasiun tv berlomba-lomba memberitakan Timnas dan seluk-beluknya dengan sangat detail (bahkan strategi pun mereka tanyakan pada saat wawancara). Saya berpositive-thinking saja, media melakukan ini dengan tujuan membangkitkan semangat nasionalisme dalam mendukung Timnas supaya meraih kemenangan, meski saya juga melihat ada motif lainnya yaitu komersialisme dalam rangka meningkatkan rating stasiun tv masing-masing.

Beban itu sangat berat dipikul masing-masing pemain Timnas. Bayangkan saja, sehari setelah kalah 3-0 oleh Malaysia, semua propaanda tulisan yang mereka liat di tv adalah "Selangkah lagi menuju juara", "Garuda taklukan malaysia" dan jargon-jargon lainnya yang memang selintas menyatakan keoptimisan tapi bagi saya itu adalah sebuah pembunuhan karakter. Optimis meraih mimpi, itu harus, tapi jangan lupa sertakan dengan usaha, doa dan tawakal. Ketika para supporter mendukung Timnas untuk menang, benarkah mereka benar-benar mendukung atau malah "memaksa"?

Ada kebiasaan bangsa ini yang agak kurang baik, yaitu cepat lupa. Saat ini Timnas yang sedang dielu-elukan dan dipuja-puji karena event piala AFF dan selalu meraih kemenangan menuju final. Setelah event piala AFF ini selesai dan klimaks dari euforia yang ternyata tak sesuai dengan harapan banyak orang, apakah bangsa ini masih akan mengelu-elukan Timnas, atau tak usah terlalu jauh lah, masihkah bangsa ini mengingat Timnas sebagai salah satu kebanggaan? Semoga saja, ucapan "Garuda di dadaku" itu, memang benar-benar kita pegang.

Entah kenapa, menyaksikan final leg 2 tadi malam, saya deg-degan banget (padahal yang turun ke lapangan itu bukan saya). Barangkali karena takut kalau-kalau Timnas kebanggaan bangsa Indonesia tidak menang atau bisa juga karena mental saya (sebagai orang Indonesia) belum bisa seperti mental seorang pemenang sejati yang besar jiwanya dan lapang hatinya keika menerima kekalahan.

Menjelang menit-menit terakhir, sungguh ajaib, jantung saya tidak lagi deg-degan, hati saya serasa melapang, jiwa saya serasa membesar. Kenapa? Karena saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, para pemain Timnas terus semangat bertanding hingga injury time. Jika digambarkan dalam sebuah kurva, semangat perjuangan mereka selalu naik ke atas, tak pernah sedikit pun turun. Tak ada sedetik pun terlewatkan begitu saja, tak ada setetes keringat pun yang tersia-sia. Luar biasa bukan? Bahkan itu mereka lakukan saat (barangkali) mereka sadar akan kalah poin dari sang lawan. Melakukan yang terbaik, hasilnya serahkan sepenuhnya pada Allah..

Kebanggaan saya dan bangsa Indonesia terhadap Timnas yang sesungguhnya bukanlah karena prestasi kemenangan, tapi karena semangat dan perjuangan para pemain Timnas.

Selamat untuk Tim Nasional Sepak Bola Indonesia !!



mereka bertarung hingga tetes darah penghabisan, jenderal !!
#garudafightsback #loveindonesia



Luv my mom

Ibuku adalah :

- Orang yang tak pernah mengeluh sejak mengandung, melahirkan dan membesarkanku hingga sekarang

- yang paling banyak berkorban untukku

- yang tak pernah melewatkan sedetik pun untuk memikirkanku

- yang selalu berbinar bangga melihat perkembanganku

- yang memanjatkan doa untukku siang dan malam

- yang paling peka tentang apa yang terjadi padaku, meski aku tak memberitahunya

- yang memberi motivasi dan dukungan, saat aku terjatuh

- yang tersenyum gembira bersamaku, saat aku bahagia

- yang menguatkanku saat aku terjatuh

- yang mengajariku tentang berjuang dan berusaha

- yang mengajariku tentang pengorbanan dan keikhlasan

- yang paling berpengaruh dalam hidupku

- yang mencurahkan cintanya yang tak terhingga untukku

- yang selalu berkata padaku ”kamu pasti bisa”

- yang terbaik yang pernah aku miliki di dunia ini


Aku meneteskan air mata saat berpikir, aku takkan sanggup membalas semua itu. Tapi melihat tatapannya yang begitu sejuk dan penuh kasih sayang, seolah ia pun berkata ”Kau tak perlu membalas apa-apa untukku..”. Sebuah ketulusan dari seorang ibu...telah mengantarkanku menjadi seperti sekarang...


Ya Allah...

Berilah balasan yang sebaik-baiknya pada ibu

atas didikannya padaku

atas kasih sayang yang dilimpahkan untukku

peliharalah ibu seperti ia memeliharaku

Apa saja gangguan yang ia rasakan

atas kesusahan yang diderita karena aku

atas hilangnya hak nya karena perbuatanku

jadikanlah itu semua

penyebab rontok dosa-dosanya

dan meninggi kedudukannya di hadapanMu

dan bertambahnya pahala kebaikannya dengan perkenanMu

For my dearest mom

In mother’s day...



Sedang Merindumu

Melihat senyumnya yang tulus, mendengar sapanya yang ramah, menyimak cerita-cerita menyenangkan darinya, siapapun takkan bosan bertemu dengannya. Semua orang akan ikut terbawa keceriaan bersamanya.

Kecantikannya meliputi luar dalam. Kesabarannya luar biasa. Hampir tak pernah mengeluh. Tak pernah hilang dari ingatanku, kesibukannya di rumah sejak pagi hingga malam hari, tetap dengan senyum tulus serta keceriannya. Ia telah menjadi ibu muda yang ideal. She is a wise wife, a best mother and a great woman.

Setahun lalu ia meninggalkan kami, menjadi seorang syuhada (InsyaAllah..), bersama adik bayi yang saat itu sedang diperjuangkannya untuk lahir ke dunia. Sungguh kami semua sangat menyayanginya, namun Allah lebih menyayangi keduanya, dan membawa mereka ke tempat terbaik di sisiNya, InsyaAllah..

Selalu kulantunkan dalam doa, agar kami dipertemukan dengan keduanya, di SyurgaNya kelak,

Amin ya Rabb..

# yang sedang merindumu, teh Dini..

1 Des '09 - 1 Des '10

SKETSA (Pada sebuah transportasi rakyat bernama Metromini)



Latar : Metromini 640 ( Tanah Abang – Pasar Minggu)


Sketsa 1 : Seniman Jalanan dan Aishiteru

Sepertinya setiap sepuluh menit sekali seniman jalanan (orang-orang biasa menyebutnya pengamen) memasuki metromini ini. Sepanjang perjalanan, jika tak salah ingat, ada 6 seniman jalanan (belum terhitung rekan kerjanya) yang masuk. Ada pemuda berusia menjelang dua puluh, ada juga anak-anak berusia sekitar sepuluh tahun. Ada yang bernyanyi dengan diiringi permainan gitar dan tabuhan drum lipat, ada yang diiringi dengan gitar kecil dan tabuhan pipa-pipa yang lubangnya ditutup karet, ada juga yang merasa cukup diiringi kecrekan botol air mineral berisi sedikit beras. Ada yang bersuara emas, ada juga yang pas-pasan. Lima dari enam seniman jalanan ini menyanyikan lagu yang sama, yaitu “Aishiteru”. Entah karena lagu ini memang sedang populer atau karena lagu ini mudah dihafal, atau karena seniman-seniman jalanan ini “satu perguruan”.


Tak semuanya perlu diberi apresiasi, tentu saja, karena apresiasi hanya untuk seniman yang bersungguh-sungguh dalam pertunjukkan kecilnya di atas Metromini itu. Terlalu berlebihan? Tidak juga, ini namanya perhargaan atas sebuah karya. Terlepas dari apakah mereka bernyanyi karena keinginan sendiri untuk mencari nafkah, karena memang hobby bernyanyi, atau terpaksa karena telah menjadi alat pengumpul uang bagi para preman. Maka dari itu sejak tadi saya menyebut mereka seniman jalanan (bukan pengamen), sekedar ber-positive thinking saja.


Sketsa 2 : Oma, Cucu, dan Mama

Hampir sepanjang jalan sang Oma sibuk memarahi sang Cucu (sepertinya semata wayang) yang tak bisa diam duduk manis di kursi Metromini. Layaknya anak-anak, ada-ada saja kelakuan yang aneh-aneh dan membuat orang-orang dewasa (yang nampaknya lupa masa kecilnya seperti apa) tak nyaman melihat hal tersebut. Barangkali Oma teramat sayang pada cucunya ini, maka beliau berkali-kali mengingatkan Cucu, sayangnya dengan omelan, celaan, bahkan cubitan. Beberapa penumpang lain (yang tak punya pilihan pemadangan lain) sepertinya agak terhentak saat melihat Cucu menendang-nendang Oma untuk meminta dibelikan sesuatu, lalu Oma pun membalas dengan tepukan (agak keras) di kaki cucu disertai dengan pelototan mata yang tentu sangat tajam. Ahh.. orang lain pasti tak tega melihat keduanya. Para penumpang lain pun semakin terkejut ketika Cucu memanggil wanita yang duduk di sebelahnya dengan panggilan “Mama”. Ohlala.. Jadi wanita yang sejak tadi diam saja melihat keributan Oma dan Cucu itu adalah Mama (Anak sang Oma, dan Ibu sang cucu)??


“Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki”

“Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi”

“Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri”


Sketsa 3 : Si Gadis Hitam Manis

Kecantikan alami si gadis hitam manis ini masih terlihat, meski bajunya kumal dan aromanya (maaf) agak bau. Ia membawa kresek putih yang juga kumal. Tadinya dikira si gadis ini mau mengamen, tapi ternyata tidak. Ia hanya berdiri mematung di dekat pintu Metromini. Saat seorang penumpang akan turun, si gadis terkejut dan tiba-tiba saja berteriak-teriak tak karuan memarahi penumpang yang akan turun itu. Sontak semua penumpang kaget dan ketakutan.

"Orang stress kali ya..” bisik seorang penumpang ibu-ibu paruh baya.

Metromini terhenti, Pak kernet dan Pak Supir sibuk membujuk si gadis turun dari Metromini, alih-alih turun, si gadis malah berteriak-teriak sambil menangis

“Saya turun di lampu merah depan. Ini saya juga mau pulang!!!” rengeknya.


Barangkali karena tak tega, akhirnya Pak Kernet dan Pak Supir membiarkan si gadis terus menumpang Metromini, tentu saja dengan resiko : Pertama, dijamin si gadis tidak akan membayar ongkos. Kedua, tak ada penumpang yang mau naik (karena si gadis berpakaian kumal dan agak bau ini berdiri di pintu depan). Ketiga, para penumpang yang ada di dalam Metromini pasti ketakutan, khawatir si gadis akan melakukan hal yang tidak-tidak. Namun akhir cerita boleh membuat semua penumpang cukup lega, si gadis turun dengan sendirinya di lampu merah Pancoran (tepat seperti yang ia bilang saat menangis merengek pada Pak Kernet tadi).

Andai saya petugas sosial, akankah saya membawa si gadis ke panti rehabilitasi lalu mempertemukan kembali dengan keluarganya? sepertinya ia masih ingat masih mengingat beberapa hal tentang kehidupannya.


Epilog

Melihat, mengamati dan menyimpulkan, dengan mata, telinga, otak, dan hati.. Karena tugas seumur hidup manusia adalah belajar. Salah satunya belajar memaknai kehidupan




#dalam perjalanan bersama Metromini 640 , that’s why I like public transportation


Tawa


Malam ini penuh dengan tawa. Entah tawa apa.. Sungguh saya sama sekali tak berniat mentertawakan sesuatu.. atau seseorang. Tapi sesuatu..ah..bukan.. seseorang ini memang pintar sekali bertingkah lucu, barangkali untuk menutupi ke-salahtingkah-annya. Tak semua orang bisa melakukannya. Diperlukan kemampuan berpikir cepat, cerdas dan kreatif. Dan malam ini saya mengakui, orang ini memiliki semua kemampuan itu, ya..dia berbakat.

Saya jadi teringat beberapa pelawak di tv, ada yang benar-benar lucu karena perkataan dan tingkah mereka yang spontan, tidak dibuat-buat, pada saat syuting. Orang-orang seperti ini tak bisa diremehkan, sungguh mereka adalah orang-orang cerdas dan kreatif. Terkadang para pelawak ini Maka jangan pernah mencibir para pelawak, karena belum tentu kita secerdas mereka dalam bersikap dan berkata-kata.

Kembali pada tawa malam ini.. sekali lagi saya tidak dalam rangka "mentertawakan", karena saya justru menjadi kagum dengan tingkahnya yang bisa membuat saya tertawa malam ini. Bravo !!


#teruslah membuatku tetap tertawa :)

I was blocked by facebook

Tahukah kamu? Kalo kita mengirim messege berkali-kali kepada orang yang bukan menjadi teman kita di Facebook, maka fitur sending messege kita akan di blokir (selama beberapa jam atau beberapa hari). Saya baru tahu ini tadi malam. Akibat diduga menyalahgunakan fitur di Facebook, maka pihak Facebook memblokir saya untuk melakukan pengiriman messege, baik itu ke orang yang sudah menjadi teman saya maupun yang belum.

Sebenernya saya gak bermaksud menyalahgunakan, hanya saja itu cara terakhir yang bisa saya lakukan untuk menginformasikan penting tentang Penggalangan Bantuan Kemanusiaan untuk korban bencana Merapi & Mentawai. Kirimnya juga gak asal-asalan kok, saya dapet nama-nama mereka dari grup facebook para pegawai baru di kantor saya, walaupun pada gak kenal, barangkali aja mereka ikut tergerak hatinya, tapi eh ternyata, belum selesai kirim messege ke semua orang, saya di blokir secara otomatis !!

Katanya akan berlangsung selama beberapa jam atau beberapa hari. Dan katanya lagi, saat fitur sending messege saya sudah aktif kembali kemudian saya melakukan hal yang sama, maka account facebook saya akan di nonaktifkan secara permanen!!
Just be carefull !! Mau berbuat baik, ternyata harus hati-hati juga..


--- UPDATE --

Teman saya, dengan senang hatinya meminta pertemanan sekaligus dengan banyak orang yang terdaftar di salah satu grup pegawai baru di kantor, Alhasil.. dia terkena peringatan dari pihak facebook kemudian fitur "permintaan pertemanan" dan "sending messege" diblokir otomatis selama 2 hari oleh facebook. Ancaman juga dilayangkan, jika setelah pemblokiran selesai teman saya ini mengulangi hal yang sama (meminta pertemanan dengan banyak orang sekaligus), maka fitur tadi akan diblokir lagi dan masa pemblokiran akan lebih lama (tapi ini lebih baik daripada ancaman menonaktifkan account.

Kuliah Ilmu Politik



Sebelum lupa, tadi sore saya dapet sedikit kuliah ilmu politik, materinya tentang siklus politik

Jadi ceritanya begini. Kebijakan dan peraturan dibuat oleh pemerintah untuk masyarakat dengan tujuan untuk mengatur kehidupan bermasyarakat agar aman, sejahtera dan tentram. Masyarakat disini bukan hanya masyarakat sipil saja, tapi juga termasuk instansi, perusahaan, organisasi, kelompok masyarakat. Disinilah terjadi conflic of interest, dimana ketika ada yang merasa tak nyaman atau tak setuju dengan kebiajakan yang dibuat pemerintah, maka ia akan memperjuangkan hal tersebut. Caranya adalah dengan menggaet kelompok-kelompok yang berkepentingan, karena mereka ini biasanya lebih mempunyai kekuatan daripada orang sipil.

Kelompok yang berkepentingan ini kemudian mendekati LSM untuk meraih akses-akses yang tak terjangkau. Aspirasi LSM lebih efektif jika disalurkan melalui Partai Politik, karena Parpol lah yang akan meneruskan aspirasi ke jenjang yang lebih berwenang dan berkuasa. Jenjang ini adalah Dewan yang duduk di Senayan. Dewan mempunyai setumpuk permasalahan untuk diselesaikan. Tapi karena Dewan bersifat legislatif, maka pelaksana segala keputusan Dewan adalah sang eksekutif, yaitu Pemerintah. Disinilah siklus akan kembali ke asal mulanya.