First Time I Met You



Hari ini setahun yang lalu. Dengan tergesa-gesa aku menuju stasiun kereta. Menuju kota depok, bersiap bertemu seseorang untuk pertama kalinya. Hatiku gelisah tak menentu, apa yang akan terjadi saat pertemuan itu, bagaimana jika aku merasa biasa saja berkenalan dengannya, ah dijalani saja, pikirku.. toh aku sudah tau sedikit tentangnya, fotonya, sekilas kisah hidupnya.. mungkin jika sudah bertemu semuanya akan lebih terang.  

Dan benar saja. Aku memang tak pernah percaya pada pandangan pertama, karena aku memang tak pernah jatuh hati pada pandangan pertama, karena bisa jadi justru pandangan kedua, ketiga dan seterusnya lah yang membuat jatuh hati berkali-kali kepadanya. Begitulah ketika aku pertama kali bertemu dengannya, aku merasa tak ada apapun yang bisa membuat hatiku bergetar memandangnya. Tapi aku tak boleh berhenti begitu saja. Ya, karena aku tak percaya pada pandangan pertama. Maka pada hari itu juga, aku serahkan semuanya kepada Allah. Biarlah Allah yang memilihkan seseorang untuk kucintai pada pandangan kedua, ketiga dan seterusnya. 

Tiga hari kemudian, dengan izin Allah aku memutuskan untuk menerimanya menjadi pendamping hidupku. Aku mengalami proses yang cukup rumit dalam pengambilan keputusan ini, maka sekali lagi kupasrahkan semuanya kepada Allah. Aku jalani segala ketetapanNya

Aku katakan di hadapannya, bahwa aku akan menerima dia beserta segala kekurangan dan kelebihannya. Dan sebaliknya aku pun meminta dia untuk menerimaku apa adanya.Ketika kita menerima seseorang apa adanya, dia akan memperlihatkan kelebihan2 yang tidak kita sadari sebelumnya. Ternyata memang benar adanya, bahwa pandangan kedua, ketiga dan seterusnya ternyata membuatku jatuh hati berkali-kali padanya, bahkan setiap hari, setiap aku memandang wajahnya di pagi hari ketika dia masih tertidur, setiap itu pula aku bersyukur kepada Allah, lalu memohon agar selalu dijatuh hatikan aku kepadanya, setiap saat.

Terima kasih Allah, telah mempertemukan kami :)

Remember This Moment? Bertemu kedua kalinya ^_^









Reaksi: 

Sekali lagi


See the sunrise
Know it's time for us to pack up all the past
And find what truly lasts
If everything has been written down, so why worry, we say
It's you and me with a little left of sanity
If life is ever changing, so why worry, we say
It's still you and I with silly smile as we wave goodbye
And how will it be?
Sometimes we just can't see
A neighbor, a lover, a joker
Or a friend you can count on forever?
How tragic, how happy, how sorry?
The sun's still up and life remains a mystery
So, would it be nice to sit back in silence?
Despite all the wisdom and the fantasies
Having you close to my heart as I say a little grace
I'm thankful for this moment cause
I know that you
Grow a day older and see how this sentimental fool an be
(Grow a day older – Dee Lestari)



Masa-masa yang indah untuk dikenang
Aku memang ingin mengulangi perjalanan itu, sekali lagi..
Dan merangkainya menjadi kenangan, sekali lagi..
Tapi
Aku lebih ingin, membuat kenangan indah lainnya..
melangkahkan jejak lainnya..
Agar kisah-kisah itu itu terajut menjadi sebuah kisah klasik kita di masa depan







Reaksi: 

Everything's Gonna Be Okay (Pendakian Gn. Merbabu Ceria) Part 3 - End


Ehm, perjalanan pulangnya belum diceritain yah, nanti ada yang protes lagi :p

Masih di hari Senin, 4 November 2013

Dari Kenteng Songo, perjalanan kami selanjutnya adalah turun menuju Selo. Jalur ini tak kalah dahsyatnya dengan Jalur Chuntel. Tapi ini juga yang saya tunggu-tunggu sejak mendengar kata “Merbabu”. Yaitu berjalan di Padang Sabana yang indah :) Yup, Sabana I dan Sabana II membuat kami seperti berada di negeri antah berantah. Sebentar-sebentar diselimuti kabut, sebentar-sebentar langit cerah, bersama angin yang masih setia menemani langkah kaki kami. Sayangnya ada beberapa bukit yang gundul terbakar, entah tak sengaja karena ulah para pendaki, entah karena terik matahari saat musim kemarau. Semoga rerumputannya segera pulih dan menghijau kembali.

Jalur Menuju Sabana
(Photo by : Dadang)

Padang Sabana Yang Terbakar
(Photo by : Diah)

Rerumputan Padang Sabana
(Photo by : Diah)

Beautiful Sabana
(Photo by : Diah)

Pos IV Jalur Selo, Sabana I
(Photo by : Dadang)


Selepas Padang Sabana, jalur yang kami lewati lebih ekstrim lagi. Turunan curam dengan tanah gembur dan ngebul. Saya dan Tari lebih tertarik untuk main perosotan di turunan-turunan curam itu, haha. Dalam kondisi apapun, yang penting keep smile. Meski dengkul sakit dan ujung-ujung jari kaki lecet, kami harus terus berjalan menuruni jalur.

Perjalanan naik selama dua hari via Chuntel dan perjalanan turun selama setengah hari via Selo. Semua momen yang kami lewati adalah momen kebahagiaan. Meski cuaca silih berganti, panas matahari yang menyengat kulit, hujan badai yang menerpa tubuh, kabut tebal yang menyelimuti jalur, dingin yang menusuk-nusuk tulang, tak ada ego yang dominan, tak ada perdebatan yang berarti, semua saling mengalah (yaa walopun kami harus sering mengalah ama Anto yang dikit-dikit ngambek, hahaa), semua saling menjaga, saling peduli, saling memberikan dukungan.  Sungguh ini jauh lebih menyenangkan, disaat cuaca alam tidak kondusif, cobalah untuk selalu ceria, agar perjalanan menjadi lebih berarti dan lebih indah untuk dikenang.

Malam itu setelah transit di Basecamp Selo, kami memutuskan untuk menginap di rumah saudara Haryo di Magelang. Saat itu kaki-kaki kami masih belum terlalu terasa sakitnya, jadi masih bersemangat untuk jalan-jalan di Magelang (Borobudur) atau di Jogja keesokan harinya. Sesampainya di Magelang, kami dijemput mobil saudaranya Haryo.

Dalam suasana hening dan khusyu di mobil, sambil menikmati kelelahan selama perjalanan, kami hanya mendengar suara sang Ibu-ibu saudaranya Haryo (siapa namanya ya lupa nanya), yang sedang menelpon dengan berbahasa Jawa.
“Iya sudah ketemu, ganteng sekali”
Tiba-tiba saja tawa kami pecah berbarengan, tanpa ampun, tanpa malu tapi malu-maluin dan sebenernya ga sopan juga sih, tapi apa daya pengen ketawa denger kata-kata itu, hahaa.. Sejak itulah Haryo dijuluki Cah Ganteng

Kami dijamu dengan sangat baik oleh keluarga saudaranya Haryo. Bahkan para wanita diberi kamar khusus ^_^ Dan, malam itu akhirnya kami bisa tidur dengan nyenyak dan hangat, beratapkan genteng rumah, tidak lagi di alam bebas. Lantunan tidur pun bukan hanya berasal dari Bang Wanda aja, tapi juga dari yang lainnya, haha.. ngorok berjamaah

Selasa, 5 November 2013

Tampaknya kaki-kaki ini sudah mulai merasakan lelah dan sakit. Pagi-pagi sekali saya dan Tari diajak ke pasar terdekat untuk berbelanja, untungnya udah mandi dan seger, saya sih seneng aja kalo jalan-jalan, walopun cuma ke pasar. Setelah menelpon agen bis dan fix mendapat bookingan bis Mulyo Indah di Magelang, kami memutuskan untuk tidak kemana-mana hari itu, cukup menunggu dan beristirahat di rumah saudaranya Haryo sampe sore hari. Sarapan, tidur, makan spageti, tidur, makan bakso, tidur (kalo yang ini spesialisasinya Dadang, hahaa :p) sambil bercengkrama dan bercanda. Rasa-rasanya saya tidak ingin waktu cepat berlalu, kebersamaan ini terlalu cepat untuk segera berakhir *tsahhh

But life must goes on. Jam 3 sore kami berangkat menuju terminal Tidar, Magelang. Bis yang dijadwalkan jam 4 ternyata baru datang jam setengah 6. Yang spesial dalam perjalanan pulang kali ini adalah, Pangeran Kodok Bang Wanda mendapat teman sebangku seorang putri dari khayangan yang menyebabkan lantunan tidurnya yang sakti mendadak hilang. Sedangkan Anto mendapat teman sebangku seorang Bapak, yang mungkin punya beberapa anak gadis di rumah, sayangnya Anto ga ada usahanya barang dikit buat ngorek-ngorek informasi, haha. Saya masih sebangku sama Tari, duduk manis dan tidur dengan nyenyak. Ucup juga masih sebangku sama Dadang, bahkan bis dengan 26 seat masih kurang luas untuk Dadang yang kakinya kelewat panjang itu :p Setelah 12 jam perjalanan, Alhamdulillah kami tiba di Jakarta, kemudian kembali ke rumah masing-masing dengan sejuta kenangan yang tak akan pernah terlupa.

Kenangan indah berasal dari perjalanan yang telah usai. Tapi bukan berarti kita berhenti sampai di sini, mungkin suatu saat, di lain waktu kita akan bersama-sama lagi, melangkahkan kaki ini menuju suatu tempat. I wish.. :)
Mengutip kata-kata Anto : Ayolah jalan lagi, udah lama ga ayoo!

“Kalo boleh dan bisa, aku ingin mengulangi perjalanan itu, sekali lagi..” 
(tapi ga usah lewat punggungan sapi, jembatan setan, ama rayapan cinta, langsung kenteng songo aja, hahaha)



Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang tentang memori di masa itu
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi

Bersenang-senanglah, Karna hari ini yang 'kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah, Karna waktu ini yang 'kan kita banggakan
di hari tua

Sampai jumpa kawanku, Smoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Sampai jumpa kawanku
Smoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Bersenang-senanglah, Karna hari ini yang 'kan kita rindukan
Di hari nanti

Mungkin diriku masih ingin bersama kalian

Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian
(Kisah Klasik Untuk Masa Depan - Sheila on 7)






(Selesai..)



Reaksi: 

Everything's Gonna Be Okay (Pendakian Gn Merbabu Ceria) Part 2


The struggles I'm facing
The chances I'm taking
Sometimes might knock me down, but
No I'm not breaking
I may not know it, but
These are the moments that
I'm gonna remember most, yeah
Just gotta keep goin'
And I, I gotta be strong
Just keep pushing on
(The Climb - Miley Cyrus)

Minggu, 3 November 2013

Pagi itu angin sudah bertiup kencang dan kabut tebal menyelimuti area camp yang hanya dihuni oleh tenda kami. Tapi itu tidak menyurutkan semangat kami, nyatanya sang fotographer dan para lelaki narsis masih semangat untuk berfoto-foto. Usai sarapan dan packing kami melanjutkan pendakian. Rencana hari ini adalah menuju puncak Kenteng Songo, dan camp disana jika memungkinkan. Dalam perjalanan menuju pos pemancar, saya kembali bertemu dengan adik-adik almamater, mereka tidak jadi muncak karena badai angin di atas sangat kencang. Oke, angin kencang, kabut tebal, dan persediaan air yang tinggal sedikit. Tetap positif. Semakin tinggi kami mendaki, angin semakin kencang, badan saya yang kecil ini kadang sempoyongan tertiup angin. Ditambah lagi jalurnya semakin sempit dan sulit.





Jalur Menuju Pos Helipad
(Photo By : Diah)

Sepanjang jalur menuju pos helipad, Ucup tak henti-hentinya bertanya pada para pendaki lain di mana ada sumber air, sayangnya tak ada memberikan petunjuk yang pasti. Sampai di pos helipad, ada rombongan pendaki yang berbaik hati membagi dua botol minumnya kepada kami. Sekitar jam 12, tak jauh dari pos helipad, para lelaki menemukan sumber air, kadang saya kagum dengan insting mereka yang peka dengan alam, bisa membaca peta dengan baik, dan mengambil keputusan dengan tepat. Hampir 3 jam kami berhenti untuk mengambil air, sholat dan makan.

Sumber Air Yang Jauh di Bawah Sana
(Photo by : Diah)

Badai angin yang sempat berhenti sudah datang lagi, padahal dari titik ini menuju puncak adalah bagian terberat. Ada banyak tanjakan bebatuan ekstrim, saya sendiri heran bagaimana saya bisa melewati itu semua sambil bawa-bawa keril. Mungkin karena saya merasa aman bersama tim ini :) Di tengah perjalanan, hujan akhirnya turun, bayangan buruk saya tentang hujan badai di puncak gunung Gede kembali lagi. Kami berteduh di bawah flysheet, menunggu hujan dan angin reda. Kelelahan dan kedinginan mulai menyelimuti. Jangan sampai ada yang drop, itu saja doa saya. Alhamdulillah tidak sampai setengah jam, hujan berhenti, meski angin masih bertiup kencang, tapi kami harus melanjutkan perjalanan.

Karena kabut tebal, jalurnya jadi agak membingungkan. Jalur menuju bukit yang kami hindari karena dikira puncak Kenteng Songo ternyata bukan puncak, justru jalur yang kami lewati ternyata menuju pada rayapan cinta dan Puncak Kenteng Songo. Rayapan cinta adalah jalan setapak di pinggir tebing yang harus dilewati jika mau ke Puncak Kenteng Songo. Dalam cuaca amat dingin, hujan gerimis, angin kencang, kabut tebal, dan membawa keril-keril super besar, tentu saja jalur yang sulit itu menjadi semakin sulit. Kami ragu apakah harus terus lewat atau tidak. Suasana mulai mencekam. *kalo film adventure udah ada musik-musik nya nih.. *jenggg jengg jengg

Akhirnya Ucup memutuskan untuk pergi ke atas sendiri terlebih dulu, untuk melihat situasi dan kondisi, apakah benar ada jalur lanjutan menuju Selo setelah puncak. Saya, Tari, Dadang sudah berhasil melewati rayapan cinta, menunggu di pinggir tebing. Karena lapak untuk berdiri sangat sempit, dan di bawah kami jurang, jadi tiga orang sisanya, Anto, Haryo dan Bang Wanda menunggu di bawah. Setengah jam lebih kami menunggu Ucup kembali dari atas dan memberi kabar. Kabut semakin tebal, hari semakin sore. Kami semua kedinginan karena diam di tempat. And the miracle is, kami masih bisa bercanda dan tertawa. Bagi saya, dalam situasi seperti inilah mental kita diuji. Di gunung, ketahanan mental lebih penting daripada ketahanan fisik (Walopun fisik juga tak boleh diremehkan). Tetapi berpikir positif bahwa semua akan baik-baik saja akan sangat membantu kita menghadapi situasi yang tidak mengenakkan. Yup, Everything’s gonna be okay..

Karena khawatir, hampir saja Anto menyusul ke atas, tetapi kemudian kami lega melihat Ucup turun dari atas dan kembali ke posisi kami menunggu. Ternyata memang benar, di atas sana adalah Puncak Kenteng Songo. Jalur menuju Selo tidak terlihat karena kabut yang tebal. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke bawah, mencari lahan datar untuk camp.
“Sayang banget udah ke puncak ga ada fotonya, jadi tadi gw foto-foto dulu” Ujar sang Jenderal Ucup *gubrakkkk pantesan lamaa -__-

Kami memutuskan untuk camp di pertengahan jembatan setan. Sebenarnya lahan datar di sana hanya cukup untuk dua tenda, padahal kami harus mendirikan 3 tenda, tapi untuk turun lebih jauh lagi dan mencari lahan yang lebih luas akan membutuhkan waktu yang lama, khawatir hari semakin gelap. Dengan sigap para lelaki mendirikan tenda, masih dalam badai angin, kabut tebal, dan hari memasuki malam. Seperti judulnya, “Merbabu Ceria”, dalam suasana seperti itu, semua masih tetap ceria dalam canda dan tawa :D
“Gw mau masak, awas ya kalo ada yang ngomel-ngomel lagi” ancam saya, and of course I’m just kidding :p  mana berani saya ngancem pria-pria baik hati ini

Malam itu angin sangat kencang, tak ada lagi foto-foto bersama bintang. Saya dan Tari dapet jatah tenda eksekutif, kapasitas 5 hanya untuk 2 orang. Dadang yang kakinya kelewat panjang mengalah untuk tidur diluar, beralaskan matras beratapkan flysheet, ditemani badai angin, lantunan tidur ala Bang Wanda, dan kegalauan Anto yang sebentar-sebentar bertanya,
“Dang, lo baek-baek aja?”
"Dang, tidur disini aja”
“Dang, lo ga kenapa-kenapa kan?”
Iyalah gimana bisa tidur, sebentar-sebentar ditanyain mulu, bilang aja Anto minta ditemenin begadang, hadaahh..


Gelisah kumenanti tetes embun pagi

Tak kuasa ku memandang dikau matahari

kini semua bukan milikku

Musim itu telah berlalu
Matahari segera berganti
Badai pasti berlalu
(Badai Pasti Berlalu – Chrisye)


Senin, 4 November 2013

Jam 5 Subuh Ucup teriak-teriak dari tenda sebelah. Ternyata hari sudah terang. Pagi yang amat cerah dan pemandangan indah itu tepat berada di depan tenda kami. Tayangan video alam, Maha Karya Sang Illahi. Matahari perlahan muncul dari balik Gunung Merapi dengan pesonanya yang membuat mata kami jatuh hati. Di sisi tebing yang lain, pemandangan kota Salatiga berlatarkan Gunung Sindoro Sumbing seolah tak mau kalah menampilkan kecantikannya. MasyaAllah, Subhanallah.. Terima kasih ya Allah, telah memberikan kesempatan pada kami untuk menikmati sajian alam yang indah ini. Ini pertama kalinya saya naik gunung dan berhasil melihat sunset plus sunrise sekaligus.

Sunrise Merbabu
(Photo by : Diah)

Saya & Tari, Partner in Crime
(Photo by : ga tau siapa yg moto, lupa)
Bayangan segitiga Merbabu, Sindoro, Sumbing, Gn. Ungaran
(Photo by : Diah)

Tenda Kami di Pertengahan Jembatan Setan (Lokasi Darurat)
(Photo by : Diah)

Setelah puas menikmati sunrise, Ucup dan Bang Wanda berkolaborasi memasak nasi goreng beserta lauk pauknya. Biarkan kedua Master Chef ini menghasilkan karya terbaiknya, dan kami para wanita cukup mendampingi mereka dengan cerita-cerita, hehe, sambil bantu goreng-goreng ini itu. Pagi itu terlihat sedikit kegalauan dari Anto, ngambeknya itu lho, ga kuat, haha.. Demi mengembalikan keceriaan Anto, Dadang mengambilkan kopi dan nasi goreng, so sweet banget kan :p

Kolaborasi Master Chef Ucup & Bang Wanda
(Photo by : Diah)

Jam 10 pagi, kami packing dan bersiap-siap Summit menuju Puncak Kenteng Songo. Kabut tebal kembali turun, angin kencang kembali bertiup. Untuk kedua kalinya saya melewati rayapan cinta. Kali ini batu tidak lagi licin dan tidak hujan, tapi tetep aja ngeri. Dalam kengerian itu, as usual.. sang Jenderal Ucup minta difoto, haduhh.. anything for you dah, hahaa.. Saya berhasil menjepret momen rayapan tebing Ucup dan Bang Wanda, tp berhubung batere kamera hampir habis dan di belakang banyak pendaki antri mau merayap juga, saya ga sempet foto diri sendiri -__-

Ucup dan Kerilnya di Rayapan Cinta
(Photo by : Diah)
Bang Wanda di Rayapan Cinta
(Photo by : Diah)

Ternyata rayapan cinta bukan satu-satunya titik ekstrim. Kami masih harus melewati jalur curam hampir 90 derajat dan pijakan tanah yang hampir longsor.. *ehm agak lebay ga ya deskripsinya :p Para lelaki bahu membahu mengoper keril-keril yang super besar dan berat, sampai pada tempat yang aman kami bisa memakai keril kembali. Ini summit tersulit dan ter-ngeri yang pernah saya alami, bahkan dibandingkan dengan summit Semeru. Anto yang memang sudah berat, baik itu badannya maupun kerilnya :p tanpa sadar menginjak tanah gembur yang hampir longsor.
“Awas to itu tanahnya gembur” Teriak Tari
Mukanya langsung pucat, dia diam sejenak dan melepaskan kerilnya, mengambil nafas dan mengumpulkan kekuatan kembali untuk naik ke atas. Alhamdulillah akhirnya kami semua berhasil naik ke atas dengan selamat. Bahkan Ucup dan Dadang masih sempat menolong rombongan pendaki lain yang ada di belakang kami. Good Job Guys :D

Menjelang siang sekitar jam 11, tibalah kami di Kenteng Songo. Puncak Merbabu di ketinggian 3.142 Mdpl. Biarlah kabut tebal menyelimuti Kenteng Songo, yang penting hati kami masih tetap terselimuti oleh keceriaan dan kebahagiaan karena telah berhasil menggapai puncak. Yup, puncak memang bukan segala-galanya. Ketika baru saja kemarin sore, setelah sedikit beradu pendapat, kami memutuskan untuk tidak harus ke puncak, yang penting bisa pulang dengan sehat dan selamat, justru keesokan harinya kami berhasil menginjakkan kaki di puncak. Itu seperti sebuah hadiah manis dan indah setelah kami bersabar dan mengalahkan ego masing-masing demi kebaikan bersama.

Terima kasih Merbabu,
Terima kasih Jenderal Ucup,
Terima kasih Kapten Anto,
Terima kasih Pangeran Kodok Bang Wanda,
Terima kasih Cah Ganteng Haryo,
Terima kasih Fotographer Hebat Dadang,
Terima kasih My Partner in Crime Tari,
Terima kasih telah mengisi hari-hariku dengan perjalanan yang luar biasa..
Kalian memang luar biasa!!



Tanpamu tak akan sama
Tanpamu semua berbeda
Kisahmu juga kisahku
Selalu bersama
(Di atas awan - Nidji)


(bersambung ke sini)


Reaksi: 

Everything's Gonna Be Okay (Pendakian Gn Merbabu Ceria) Part 1



“Karena bagian yang paling menyenangkan dalam hidup akan selalu mudah untuk diingat.
Begitu juga dengan perjalanan.”


Perjalanan panjang menyenangkan yang kita lalui
Jadikan kenangan tersimpan bersama sama
Segala canda tawa dan ceria terangkai disini.


Setiap menit kami, setiap jejak langkah kami, setiap helaan nafas panjang kami, saat matahari terik menyengat, saat hujan badai mencekam, selalu ada canda dan tawa yang tulus dari hati kami masing-masing.

Saat mendapat tawaran ke Merbabu, saya belum tau banyak tentang gunung ini, setinggi apa, jalurnya seperti apa, tingkat kesulitannya gimana.. saya cuma pernah denger, viewnya indah, seperti di negeri antah berantah, saya segera menghubungi beberapa orang teman wanita yang bisa diajak jadi partner in crime di gunung. Dan jadilah kami tiga orang cewe kece mendaftar untuk pendakian ini, saya, Siti, dan Tari. Sayangnya menjelang hari H Siti cancel karena ga dapet cuti dari Bos.  

Akhirnya kami bertujuh tergabung dalam Tim Pendakian Merbabu Ceria, saya, Tari, Ucup, Anto, Haryo, Bang Wanda, Dadang. Direncanakan pendakian ini dimulai dari Jalur Chuntel dan turun melintas lewat Selo selama 4 hari 3 malam. Lama ya, iya saya juga kaget awalnya, tapi Ucup bilang ini memang pendakian santai, tidak diburu-buru waktu.

Jum’at, 1 November 2013

Kami berangkat dari Terminal Rawamangun menuju Salatiga dengan Bis Eksekutif Gunung Mulia sekitar jam 7 malam. Belum lama bis jalan, perut saya meronta-ronta pengen makan, karena dari pagi emang belum nyentuh nasi.
“Kita makan jam berapa ya? laper”  tanya saya di grup WA
“Itu kan ada snacknya”
Oh iya, saya lupa kalo tadi dibagiin snack. Dengan penuh harapan akan kue-kue yang enak, saya pun membuka box snack. Daann..Please don’t judge a snack by its box! Box itu isinya biskuit dua bungkus sodara-sodara!!  Hahaa.. Saya pun mengafirmasi diri sendiri, musti tahan laper sampe makan malem yang entah jam berapa.

Sekitar jam 11 malam Bis pun berhenti di rumah makan. Oke sip, waktunya isi perut. Biar tenang makannya, saya dan Tari sholat dulu di Mushola. Setelah sholat, meja prasmanan sudah sepi konsumen. Untung makanannya masih banyak. Kami pun menikmati hidangan didampingi teh manis hangat. Baru makan setengah piring dan teh manis belum sempat disruput, tiba-tiba Bang Wanda datang dan membawa kabar tidak menyenangkan,
“Buruan makannya, itu bisnya udah mau jalan”
Whatdaa??!! Dari pagi belum makan nasi, di bis dapet snack biskuit ga kepengen nyentuhnya juga, giliran makan malem baru setengah udah disuruh game over, baiklah kalo begitu, untungnya malem dan efek antimo bikin saya super ngantuk, urusan laper pun untuk sementara terlupakan.

Sabtu, 2 November 2013

Pagi yang cerah di awal November, secerah hatiku di kaki Gunung Merbabu :D Sekitar jam 07.30 kami tiba di Pasar Sapi, Salatiga. Seorang supir minibus menghampiri kami dan melakukan tawar menawar untuk transportasi ke Chuntel. Bahkan minibus itu bersedia menunggu kami sarapan dan belanja-belanja sebentar. Jam 9 kami tiba di Base Camp Chuntel. Setelah melapor, repacking, charge HP, sikat gigi, dan menyelesaikan urusan ini itu, kami pun memulai pendakian “Merbabu Ceria”.

Tim Merbabu Ceria
(Photo by : Dadang)

Mendaki gunung itu melelahkan, tapi kelelahan yang menyenangkan. Jadi meski berkali-kali kami mengeluh cape, haus, ngantuk, ga kuat, tapi kaki ini akan terus melangkah  dalam kebersamaan dan satu tujuan *cihuyy

Di perjalanan menuju pos 1, saya bertemu dengan sekelompok mahasiswa yang ternyata adalah adik-adik kelas saya di Teknik Lingkungan Undip. Wow, dunia ini sempit yah. Jaman saya kuliah dulu belum ada Mapala di jurusan, kalopun ada ga bakal ikut juga sih, soalnya dulu belum ada film 5 cm, haha..
“Berapa hari disini ka?”
“Rencana sampe hari selasa”
“Lama banget, ga kerja dong?”
“Ngga dong, kan cuti”
“Hah, cuti demi naik gunung??”
Hahhaha.. orang kerja ya harus cuti, kalo mahasiswa mana bisa cuti. Suatu saat kalian akan mengerti ya adik-adik ^_^

Sesuai dengan rencana, jam 3 sore kami tiba di pos 3. Tempat yang pas banget untuk camp. Rombongan lain yang bertemu kami di jalan sebelumnya memilih camp di pos pemancar, karena lebih dekat ke puncak. Tapi kami istiqomah untuk camp di pos 3, dan ini adalah keputusan yang amat sangat tepat, karena ada kejutan indah di sore dan malam harinya.


Negeri di atas awan
(Photo by : Diah)

Menjelang senja, sang fotographer, Dadang, yang udah berjam-jam bermain-main dengan kameranya berteriak-teriak memanggil kami yang sedang menghangatkan diri di tenda. Ternyata di luar sana, matahari sedang memancarkan pesonanya, menunggu untuk dikagumi sebelum berganti tugas dengan bintang-bintang mengisi pemandangan langit. MasyaAllah, baru kali ini saya melihat sunset di gunung, rasanya benar-benar beda, kagum, senang, meski dingin menusuk-nusuk tulang, tapi rasanya ingin tersenyum terus sepanjang senja, haha.. *lebay
 
Sunset Merbabu dan Para Pendaki Kece
(Photo by : Dadang)


Kejutan belum berakhir. Matahari dan bintang-bintang benar-benar melakukan tugasnya dengan amat baik. Selesai makan malam, kami tergoda untuk memandangi bintang-bintang. Dan berhubung kami semua narsis-narsis, maka dengan sukarela dan senang hati kami menjadi objek eksperimennya Dadang sang fotographer, berfoto dengan permainan cahaya headlamp dan bintang-bintang, dan hasilnya keren-keren :) Anto yang dinobatkan jadi Asisten Fotographer sempat protes karena pengen ikut difoto juga, tapi sepertinya Anto emang lebih cocok jadi Asisten daripada jadi model, foto bareng sama dia gagal terus kebanyakan ketawa :p

Pada beberapa kali pendakian yang pernah saya lewati, jarang sekali mendapat momen seperti ini, tenda sudah berdiri sejak sore, cuaca cerah, angin bersahabat, bintang tampil menawan, bercanda, tertawa, saling berbagi, semua senang dan bahagia. Alhamdulillah, Allah telah memudahkan pendakian kami di hari pertama.

(bersambung ke sini)

Reaksi: