Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan

Listen Up!

I love listening, I don't know why, just love to do it. Saya bisa mendapatkan keuntungan lebih banyak dengan mendengar, dibandingkan dengan berbicara. Pertama, dengan mendengar saya mendapat materi/pengetahuan baru. Kedua, dengan mendengar saya bisa berbicara tentang apa yang pernah saya dengar. Ketiga, akhirnya saya punya kemampuan setingkat lebih tinggi daripada orang yang hanya berbicara. Untung bukan? Lagipula, mendengarkan akan memperkaya sudut padang, persepsi dan wawasan kita.



Mendengar itu simple untuk dilakukan. Kita hanya perlu diam duduk manis, menatap orang yang sedang berbicara, lalu dengarkan dengan penuh antusias. Mendengar antusias artinya menunjukkan kalo kita tertarik dengan apa yang dibicarakan lawan bicara, dengan sesekali menimpali, bertanya atau memberikan pendapat, sesekali saja, tak boleh porsinya lebih banyak dari yang sedang kita dengarkan, (dan jangan memotong pembicaraan kalo ga mendesak) Walaupun sebenarnya kita tak tertarik dengan apa yang dibicarakan? yup.. tetaplah antusias, believe me, it's worth it. Pasti ada sesuatu yang bisa dapatkan dari pembicaraan tersebut. 

Ah ya.. jangan lupa hiasi dengan senyuman. Bukan..bukan bibirmu yang tersenyum, tapi senyumkan matamu, senyumkan wajahmu. Saya punya seorang teman pendengar yang sangat baik. Jika orang lain berbicara, dia tersenyum, sekali lagi bukan bibirnya yang tersenyum (karena toh bisa saja topik pembicaraannya adalah sesuatu yang menyedihkan), tapi mata dan wajahnya yang tersenyum. How to do it? Actually I didn't know, saya sendiri belum yakin apakah saya sudah bisa menerapkan ini atau belum (orang lain yg bisa menilai), tapi menurut saya, senyum ini sebenarnya muncul dari hati. Hati yang tersenyum, hati yang ikhlas, hati yang tulus melakukan apa yang sedang dilakukan. Sepertinya simple ya? :)

Noted : Please jangan mendengarkan sambil maenin gadget! Siapa pula yang ga sebel kalo sedang berbicara dan yang diajak bicara justru fokus pada gadgetnya. Mending usah sekalian, puas-puasin maen gadget dulu deh, baru belajar mendengarkan. Ok!

Mendengar itu menyenangkan. Memangnya kau tidak berbahagia ketika melihat orang yang curhat panjang kali lebar sama dengan luas, kemudian wajahnya terlihat lega dan ringan? Bukankah itu membahagiakan? :) Percaya deh, dengan hanya didengarkan, seseorang akan merasa sangat dihargai dan dihormati. Ga usah berharap balesan sih (kalo berharap mah sama Allah aja, jangan sama manusia), tapi setiap kebaikan pasti akan berbuah kebaikan pula, dalam bentuk apapun itu. 

Pssttt... mendengar juga akan melatih kita bertahan menghadapi orang-orang galak :) Kalo ada orang cerewet lagi marah-marah, cukup diam duduk manis, tak usah mengiyakan, menyaut atau menentang, timpali saja dengan kata-kata "Oo..", "Hmm..", kecuali kalo ditanya, ya jawab apa adanya, atau kalo orang tersebut bilang "Kok diam aja?!", jawablah "Karena saya harus benar-benar fokus mendengarkan anda". Dengarkan sampai benar-benar selesai, nanti dia akan cape sendiri kok :) Malahan mungkin amarahnya akan reda karena terharu melihat wajah tulus kita sedang mendengarkan.

Ada tuh slogan keren salah satu perusahaan asuransi terkemuka. "Always listening, always understanding". Kalo mau mendengarkan, pasti akan memahami.

Anyway, Saya ga akan bilang bahwa mendengarkan itu susah. Mendengarkan itu simple! Sesimple duduk nonton tivi atau dengerin radio. Gak percaya? Hayuk kita coba :)


"Listen up, then speak up" 

Ketika dunia ini berputar terlalu cepat


Merasa dunia ini berputar telalu cepat? Tak pernah merasa cukup istirahat setelah seharian bekerja? Tak pernah puas tidur di malam hari, sekalipun tidur cepat dan bangun siang? Merasa sibuk dengan pekerjaan dan tak ada Tak ada waktu cukup untuk melakukan semua hal?

Hati-hati!!

Ini adalah gejala bahwa kita tidak menggunakan waktu dengan hal-hal yang berarti. Menonton tivi, berselancar di internet, bercengkrama dengan teman-teman, ehm..saya tidak bilang bahwa itu semua adalah perbuatan yang tidak berarti. Tentu saja akan berarti, jika.. sesuai dengan porsinya. Masalahnya adalah, kita sering lupa (atau tidak tahu?), bagaimana porsi yang pas untuk semua hal yang kita lakukan.

Mari perhatikan yang ini,
Menonton berita setengah jam dengan menonton sinetron dua jam. Dua-duanya sama-sama menonton tivi, tapi banyak orang sudah merasa puas dengan menonton berita setengah jam dan tidak puas dengan menonton sinetron dua jam. Dari sini kita bisa memilih dengan jelas, mana porsi yang lebih baik (dan benar).

Jangan terlalu serius dengan urusan menonton tivi. Karena urusan kita selain itu banyak sekali. Jadi sebenarnya cukup mudah untuk mengetahui bagaimana porsi yang pas, semua hanya soal kebiasaan dan keberanian.

Biasa meninggalkan hal-hal bukan proritas yang membutuhkan banyak waktu.
Berani memerangi musuh yang paling enggan dimusuhi yang bernama MALAS.

Biar saja dunia ini berputar dengan cepat. 
Biar saja jika di malam hari kelelahan yang kita rasakan itu amat sangat. 
Asalkan dalam sehari, hidup kita dipenuhi hal-hal yang berarti.






Pulang Ke Kotaku (1)


Sejak pindah ke tengah kota Megapolitan bernama Jakarta Pusat, saya bingung tujuh keliling, rute angkutan apa yang paling tepat dan cepat kalo saya pulang kampung ke kota kecil nan nyaman bernama Sukabumi. Masalah yang utama yang membuat saya bingung adalah :

  1. Tempat saya tinggal sekarang jauh dari terminal bis manapun di Jakarta
  2. Jam pulang kerja di hari jumat adalah jam 16.30 dan jam masuk kerja di hari senin jam 07.30. Ini sangat mengkhawatirkan saya, karena jika pulang di jumat sore, kondisi jalanan sangat macet (puncak kemacetan di akhir pekan). Dan jika kembali ke Jakarta di senin pagi sangat tidak memungkinkan karena waktunya gak terkejar


Setelah survey sana-sini, Tanya sana-sini, googling sana-sini, saya menemukan beberapa alternative rute angkutan umum dari tempat saya di daerah tanah abang ke sukabumi :

  1. Dari tanah abang 1 naik angkot 08 ke shelter Trans Jakarta Harmoni. Dari harmoni naik trans Jakarta jurusan lebak bulus. Dari lebak bulus naik bis parung indah jurusan sukabumi
  2. Dari tanah abang 1 naik angkot 08 ke perempatan serong. Dari perempatan serong naik patas jurusan kampung rambutan. Dari kampung rambutan naik bis jurusan sukabumi.
  3. Dari tanah abang 1 naik angkot 08 ke stasiun tanah abang. Dari stasiun tanah abang naikkereta express (biar cepat) ke stasiun bogor. Dari stasiun bogor naik angkot 03 ke terminal bogor. Dilanjutkan dengan naik Elf ke sukabumi atau naik bis jurusan sukabumi

Hanya skenario 1 dan 3 yang pernah saya jalankan. Skenario 2 menurut saya paling beresiko karena jalur bis yang menuju kampung rambutan dari tanah abang pasti sangatlah macet, apalagi di jumat malam. Skenario 1 baik jika dijalankan di pagi hari. Hanya membutuhkan waktu satu jam dari harmoni menuju lebak bulus. Jalanan di Jakarta bebas dari macet di sabtu dan minggu pagi. Tapi sayangnya justru kemacetan puncak ada di sepanjang di jalur ciawi-sukabumi. Jadi saya membutuhkan waktu sekitar 5 jam dari tanah abang 1 sampai sukabumi.

Skenario 3 baiknya dijalankan jika pulang di hari jumat sore. Kereta express hanya butuh waktu 45 menit untuk sampai ke bogor. Dan akan lebih cepat lagi jika dari terminal bogor naik elf ke sukabumi. Total waktu yang dibutuhkan sekitar 4 jam (itu sudah plus ngetem). Dan di malam hari jalur ciawi-sukabumi jarang sekali macet. Tapi siap-siap aja, senam jantung sepanjang perjalanan, supir-supir Elf, kalo mengemudi gak inget di mobilnya ada banyak manusia. Tapi Alhamdulillah selama ini saya aman-aman saja.

Perjalanan pulang sama seperti 3 skenario di atas, tinggal dibalik saja. Tapi saya lebih suka skenario 3, karena saya akan terus berada di bis AC. Karena jarak tempuh yang lama, saya gak kuat berlama-lama di dalam bis yang tidak ber-AC, panas dan penuh asap rokok, menyiksa sekali.