Everything's Gonna Be Okay (Pendakian Gn Merbabu Ceria) Part 1



“Karena bagian yang paling menyenangkan dalam hidup akan selalu mudah untuk diingat.
Begitu juga dengan perjalanan.”


Perjalanan panjang menyenangkan yang kita lalui
Jadikan kenangan tersimpan bersama sama
Segala canda tawa dan ceria terangkai disini.


Setiap menit kami, setiap jejak langkah kami, setiap helaan nafas panjang kami, saat matahari terik menyengat, saat hujan badai mencekam, selalu ada canda dan tawa yang tulus dari hati kami masing-masing.

Saat mendapat tawaran ke Merbabu, saya belum tau banyak tentang gunung ini, setinggi apa, jalurnya seperti apa, tingkat kesulitannya gimana.. saya cuma pernah denger, viewnya indah, seperti di negeri antah berantah, saya segera menghubungi beberapa orang teman wanita yang bisa diajak jadi partner in crime di gunung. Dan jadilah kami tiga orang cewe kece mendaftar untuk pendakian ini, saya, Siti, dan Tari. Sayangnya menjelang hari H Siti cancel karena ga dapet cuti dari Bos.  

Akhirnya kami bertujuh tergabung dalam Tim Pendakian Merbabu Ceria, saya, Tari, Ucup, Anto, Haryo, Bang Wanda, Dadang. Direncanakan pendakian ini dimulai dari Jalur Chuntel dan turun melintas lewat Selo selama 4 hari 3 malam. Lama ya, iya saya juga kaget awalnya, tapi Ucup bilang ini memang pendakian santai, tidak diburu-buru waktu.

Jum’at, 1 November 2013

Kami berangkat dari Terminal Rawamangun menuju Salatiga dengan Bis Eksekutif Gunung Mulia sekitar jam 7 malam. Belum lama bis jalan, perut saya meronta-ronta pengen makan, karena dari pagi emang belum nyentuh nasi.
“Kita makan jam berapa ya? laper”  tanya saya di grup WA
“Itu kan ada snacknya”
Oh iya, saya lupa kalo tadi dibagiin snack. Dengan penuh harapan akan kue-kue yang enak, saya pun membuka box snack. Daann..Please don’t judge a snack by its box! Box itu isinya biskuit dua bungkus sodara-sodara!!  Hahaa.. Saya pun mengafirmasi diri sendiri, musti tahan laper sampe makan malem yang entah jam berapa.

Sekitar jam 11 malam Bis pun berhenti di rumah makan. Oke sip, waktunya isi perut. Biar tenang makannya, saya dan Tari sholat dulu di Mushola. Setelah sholat, meja prasmanan sudah sepi konsumen. Untung makanannya masih banyak. Kami pun menikmati hidangan didampingi teh manis hangat. Baru makan setengah piring dan teh manis belum sempat disruput, tiba-tiba Bang Wanda datang dan membawa kabar tidak menyenangkan,
“Buruan makannya, itu bisnya udah mau jalan”
Whatdaa??!! Dari pagi belum makan nasi, di bis dapet snack biskuit ga kepengen nyentuhnya juga, giliran makan malem baru setengah udah disuruh game over, baiklah kalo begitu, untungnya malem dan efek antimo bikin saya super ngantuk, urusan laper pun untuk sementara terlupakan.

Sabtu, 2 November 2013

Pagi yang cerah di awal November, secerah hatiku di kaki Gunung Merbabu :D Sekitar jam 07.30 kami tiba di Pasar Sapi, Salatiga. Seorang supir minibus menghampiri kami dan melakukan tawar menawar untuk transportasi ke Chuntel. Bahkan minibus itu bersedia menunggu kami sarapan dan belanja-belanja sebentar. Jam 9 kami tiba di Base Camp Chuntel. Setelah melapor, repacking, charge HP, sikat gigi, dan menyelesaikan urusan ini itu, kami pun memulai pendakian “Merbabu Ceria”.

Tim Merbabu Ceria
(Photo by : Dadang)

Mendaki gunung itu melelahkan, tapi kelelahan yang menyenangkan. Jadi meski berkali-kali kami mengeluh cape, haus, ngantuk, ga kuat, tapi kaki ini akan terus melangkah  dalam kebersamaan dan satu tujuan *cihuyy

Di perjalanan menuju pos 1, saya bertemu dengan sekelompok mahasiswa yang ternyata adalah adik-adik kelas saya di Teknik Lingkungan Undip. Wow, dunia ini sempit yah. Jaman saya kuliah dulu belum ada Mapala di jurusan, kalopun ada ga bakal ikut juga sih, soalnya dulu belum ada film 5 cm, haha..
“Berapa hari disini ka?”
“Rencana sampe hari selasa”
“Lama banget, ga kerja dong?”
“Ngga dong, kan cuti”
“Hah, cuti demi naik gunung??”
Hahhaha.. orang kerja ya harus cuti, kalo mahasiswa mana bisa cuti. Suatu saat kalian akan mengerti ya adik-adik ^_^

Sesuai dengan rencana, jam 3 sore kami tiba di pos 3. Tempat yang pas banget untuk camp. Rombongan lain yang bertemu kami di jalan sebelumnya memilih camp di pos pemancar, karena lebih dekat ke puncak. Tapi kami istiqomah untuk camp di pos 3, dan ini adalah keputusan yang amat sangat tepat, karena ada kejutan indah di sore dan malam harinya.


Negeri di atas awan
(Photo by : Diah)

Menjelang senja, sang fotographer, Dadang, yang udah berjam-jam bermain-main dengan kameranya berteriak-teriak memanggil kami yang sedang menghangatkan diri di tenda. Ternyata di luar sana, matahari sedang memancarkan pesonanya, menunggu untuk dikagumi sebelum berganti tugas dengan bintang-bintang mengisi pemandangan langit. MasyaAllah, baru kali ini saya melihat sunset di gunung, rasanya benar-benar beda, kagum, senang, meski dingin menusuk-nusuk tulang, tapi rasanya ingin tersenyum terus sepanjang senja, haha.. *lebay
 
Sunset Merbabu dan Para Pendaki Kece
(Photo by : Dadang)


Kejutan belum berakhir. Matahari dan bintang-bintang benar-benar melakukan tugasnya dengan amat baik. Selesai makan malam, kami tergoda untuk memandangi bintang-bintang. Dan berhubung kami semua narsis-narsis, maka dengan sukarela dan senang hati kami menjadi objek eksperimennya Dadang sang fotographer, berfoto dengan permainan cahaya headlamp dan bintang-bintang, dan hasilnya keren-keren :) Anto yang dinobatkan jadi Asisten Fotographer sempat protes karena pengen ikut difoto juga, tapi sepertinya Anto emang lebih cocok jadi Asisten daripada jadi model, foto bareng sama dia gagal terus kebanyakan ketawa :p

Pada beberapa kali pendakian yang pernah saya lewati, jarang sekali mendapat momen seperti ini, tenda sudah berdiri sejak sore, cuaca cerah, angin bersahabat, bintang tampil menawan, bercanda, tertawa, saling berbagi, semua senang dan bahagia. Alhamdulillah, Allah telah memudahkan pendakian kami di hari pertama.

(bersambung ke sini)

Badai Pasti Berlalu (Pendakian Gn Gede)



Ketika kelelahan fisik melanda, setiap orang diuji pada egonya masing-masing, apakah masih akan peduli pada orang di sekitarnya, atau hanya peduli pada dirinya yang kelelahan.

Saya termasuk orang yang tidak setuju dengan pendapat “watak asli seseorang akan terlihat ketika di gunung”, bagi saya yang benar adalah “watak asli seseorang akan terlihat jika kita sudah sering saling berinteraksi ”. Jika para pendaki terdahulu mengatakan pendapat yang pertama, itu karena mereka memang sudah sering saling berinteraksi di gunung-gunung dan alam bebas. Yang sebenarnya adalah, naluri seseorang akan berada pada fitrahnya jika berada di alam bebas yang rentan dengan resiko. Gunung adalah tempat dimana kita harus saling menjaga satu sama lain, pergi bersama, pulang pun bersama, tanpa kurang sesuatu apapun. Karena itu, naluri sesama pendaki untuk saling peduli dan saling menjaga akan muncul otomatis, meskipun baru kenal atau bahkan tidak pernah kenal.

Sore itu, ketika kami hampir berhasil menggapai puncak Gede, ketika lelah hampir tergantikan oleh pemandangan cantik dari ketinggian, ketika seharian langit telah cerah bersahabat, tiba-tiba keceriaan kami tertutup awan mendung yang dengan cepat tertiup dan menetap tepat di atas kami. Saat mulai hujan rintik-rintik, saya agak sangsi harus pakai jas hujan atau tidak, sebentar lagi kami sampai puncak dan bisa jadi hujan cuma turun sebentar. Tapi seseorang berseru, “cepetan pake jas hujannya”.  Saya pun menurutinya. Dan beberapa detik setelah selesai memakai jas hujan, tanpa aba-aba lagi, hujan turun dengan deras. Saya terus jalan ke depan, sudah tidak bisa lagi melihat apakah ada teman saya di depan atau tidak, padahal sejak pemberhentian terakhir jarak kami berdekatan.

Saat melewati sekumpulan orang yang berteduh di bawah fly sheet, saya spontan bilang,
“permisi mas”,
padahal hujan begitu deras, bisa jadi mereka tak peduli orang yang lewat akan permisi atau tidak. Tapi tiba-tiba ada yang memanggil saya,
“Ka Diah, tunggu disitu dulu, gw mau ngeluarin fly sheet buat tim kita”.
Rupanya ari, sang ketua tim. Kalo saya  tak bilang permisi, mungkin Ari tak akan mengenali suara saya dan saya akan terus berjalan, padahal itu bahaya banget. Kemudian saya berhenti di depan mereka. Ari mengeluarkan fly sheet, kami bergerombol dalam tim kami sendiri. Saya, Ari, Marisa, Andre, Temmy, entah kemana yang lainnya. Angin semakin kencang, hujan semakin deras.

Seseorang dalam rombongan lain di dekat kami terkena hypo dan pingsan.  Sedangkan di dalam tim kami, Marisa mulai mual karena tidak kuat menghirup belerang. Tubuhnya mulai menggigil. Ari menyuruh kami berjongkok untuk menghindari angin masuk ke fly sheet. Saya kalut melihat Marisa, bahkan saat dia bilang,
“belerangnya bau banget, itu beracun ga?”,
padahal saya sama sekali tidak mencium belerang saat itu. Saya memberikan Marisa masker basah, entah itu berpengaruh atau tidak. Kami pun saling berpegangan tangan, untuk menjaga agar tetap ada panas tubuh yang mengalir.

Selama hampir dua jam kami berteduh di bawah fly sheet, selalu bertanya-tanya kepada Ari sebagai ketua, apa yang harus kami lakukan dalam situasi seperti ini. Berkali-kali hujan reda, tapi kemudian turun lagi, membuat kami semakin putus asa karena bisa jadi situasi seperti ini akan berlanjut hingga berjam-jam ke depan. Ari masih ragu apakah akan terus jalan ke atas atau turun lagi ke bawah mencari lahan untuk camp. Saya belum pernah menghadapi badai seperti itu di gunung, tidak tahu apa yang harus dilakukan selain menunggu aba-aba orang lain yang lebih paham. Saking kalutnya, saya hanya berpikir, bergerak berarti hidup, jadi setiap hujan agak reda, saya mendesak Ari dan yang lain untuk bergerak.

Ketika hujan reda (kali ini beneran reda, tapi kami belum berani bergerak), Ucup datang membawa secercah harapan *tsaahh.. menyampaikan beberapa komando, apa-apa yang harus kami lakukan. Sebagian rombongan tertinggal di bawah, dan tiga orang teman drop, tapi kami harus terus bergerak ke atas, mencari lahan untuk camp di Suryakencana. Sesampainya di puncak, kami istirahat sejenak, empat orang teman sudah tidak sanggup untuk jalan.

Mungkin karena situasi gelap, angin kencang, dingin, lagi-lagi kami kehilangan koordinasi. Para lelaki di depan bergegas turun ke Suryakencana, tanpa tahu, ada lima orang yang sedang beristirahat di tenda orang lain, bahkan saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, diam menunggu di atas berdiri di luar tenda (itu tenda orang lain, kami hanya dipersilakan menitipkan yang sakit) atau ikut menyusul turun ke Suryakencana. Akhirnya saya dan Tari memutuskan untuk ikut turun, berjanji dalam hati ketika sudah sampai dan mengisi energi kembali di bawah, kami bisa menjemput teman-teman lain di atas, kalo saya tidak sanggup, mungkin teman2 yang laki2 bisa. Waktu itu saya sama sekali tidak tau kalo jalur menuju Suryakencana itu jauh dan sulit.

Perjalanan menuju Suryakencana tidak semulus yang dibayangkan. Beberapa orang mulai berkali-kali terjatuh, ada yang tidak sanggup lagi membawa tas, ada yang mulai kesal karena harus membawa beban double, ada yang kesal karena ditinggal tanpa senter. Saya hanya bisa berdoa dan berdzikir, sambil memikirkan cara menjemput teman-teman di atas nanti.

Tiba di Suryakencana, perjuangan belum berakhir. Angin lembah sangat kencang dan dingin. Kelelahan fisik kami sudah pada puncaknya. Beberapa orang drop, beberapa tak bisa lagi menahan kekesalannya. Manusiawi memang, dan saat itulah ego kami masing-masing diuji. Sambil menunggu para lelaki mendirikan tenda, saya dan Tari memasak  air. Baru dua tenda didirikan, air baru saja mendidih, lagi-lagi hujan turun tanpa aba-aba. Semua bergegas masuk ke dalam tenda, menyelamatkan keril yang bisa diselamatkan, beberapa peralatan dan logistik yang terlanjur dikeluarkan tak sempat diselamatkan. Hujan, Badai, dan kami terperangkap lagi.

Sekitar satu jam kemudian hujan reda, saya masih memakai pakaian basah, dan kelaparan. Saat berinisiatif untuk memasak, saya malah dimarahi dan disuruh kembali istirahat ke tenda, hiks.. Padahal sungguh, waktu itu Alhamdulillah saya masih kuat menahan dingin di luar dan memasak untuk teman-teman yang lain. Saya cuma kepikiran teman-teman di atas, masih dengan baju yang basah, tanpa logistik, dan tenda yang berdempet-dempetan. Kalo bisa masak dan semua orang makan, mungkin energi akan terisi kembali dan ada yang bersedia menjemput ke atas. Akhirnya saya kembali diam di tenda, tanpa bisa istirahat.

Saya, Tari, Ari ada di tenda consina (ga tau kenapa tiba-tiba Ari masuk ke tenda kami, yang harusnya khusus cewe). Sisanya yang lain ada di tenda induk. Ini masih kurang, ada satu lagi tenda yang belum didirikan. Ucup berinisiatif keluar, dia melawan egonya untuk beristirahat dan berusaha mendirikan tenda satu lagi, bersama Temmy. Saya jadi inget soundtrack 
Superman, 

"It may sound absurd, but don't be naive

Even heroes have the right to bleed”.
The real hero bukanlah seseorang yang harus selalu sempurna dan kuat setiap saat, tapi ketika dirinya lemah dan dia masih peduli untuk menolong yang lain.

Berkali-kali Ucup memanggil Ari yang sedang terkapar di tenda saya untuk ikut membantu mendirikan tenda. Saya agak khawatir sebenarnya Ari sedang Hypo, badannya menggigil dan saya ga bisa berbuat apa-apa, *iya secara dia cowo kan ga mungkin saya peluk2 biar anget -_-
Saya juga khawatir sama Ucup dan Temmy, di luar super dingin, dan mereka hampir putus asa karena tidak berhasil mendirikan tenda. Akhirnya saya pun keluar, sekedar bertanya,
“itu tendanya Lafuma summer time ya? Ini harusnya begini, ini begitu..”
Damn.. bahkan saya tidak tahu apa yang saya katakan benar atau tidak, saya cuma sekilas menjiplak apa yang pernah teman saya ajarkan waktu mendirikan tenda sejenis. Saya takut tidak bisa tidur semalaman kemudian ikut drop. Saya takut memikirkan teman-teman yang ditinggal di atas, yang sudah pasti ga bisa dijemput malam itu juga. Saya takut Ucup dan Temmy putus asa dan kecewa pada teman-temannya yang sedang terlelap. Berbagai ketakutan menyelimuti saya malam itu.

Tapi kata Chrisye, badai pasti berlalu. Temmy memanggil bapak-bapak penjual nasi uduk untuk mendirikan tenda. Sambil menunggu mereka mendirikan tenda, saya mulai memasak air dan mie rebus  (dan berharap ga dimarahin lagi, hiks..).

Bangun-bangun udah disuguhin energen dan mie rebus (lagi, hehe..). Meski angin masih tetap kencang, tapi melihat matahari yang bersinar terang, saya sedikit lega. Tak sempat melihat sunrise pun tak apa-apa, yang penting pagi itu semua sudah sehat dan ceria kembali. Satu persatu teman-teman yang tertinggal di atas tadi malam, turun bergabung dengan kami, dengan wajah cerianya masing-masing, tanpa perasaan kesal sedikit pun karena ditinggal. Yang saya kagum dari persahabatan para lelaki adalah, meskipun suatu waktu mereka saling tak sepaham, dalam waktu sepersekian jam, mereka sudah akur kembali. What a wonderfull friendship :)


I'm more than a bird, I'm more than a plane
I'm more than some pretty face beside a train
And it's not easy to be me

I know it’s really not easy to be you, melakukan segala hal dengan sepenuh hati, sebagai bentuk tanggung jawab dari apa yang menjadi anugrahnya. Beban berat,  itulah konsekuensi sebuah ketulusan hati, bahkan tanpa imbalan. Thanks a lot for The real hero

The Team

I can't stand to fly, I'm not that naiveI'm just out to find, The better part of me
I'm more than a bird, I'm more than a plane
I'm more than some pretty face beside a train
And it's not easy to be me
Wish that I could cry
Fall upon my knees
Find a way to lie
About a home I'll never see
It may sound absurd, but don't be naive
Even heroes have the right to bleed
I may be disturbed, but won't you concede
Even heroes have the right to dream
It's not easy to be me
Up, up and away, away from me
It's all right, you can all sleep sound tonight
I'm not crazy, or anything
I can't stand to fly
I'm not that naive
Men weren't meant to ride
With clouds between their knees
I'm only a man in a silly red sheet
Digging for kryptonite on this one way street
Only a man in a funny red sheet
Looking for special things inside of me
Inside of me
Inside me
Yeah, inside me
Inside of me
I'm only a man
In a funny red sheet
I'm only a man
Looking for a dream
I'm only a man
In a funny red sheet
And it's not easy
Its not easy to be me

Selamat tanggal 2 Oktober!


Selamat tanggal 2 Oktober!

Alhamdulillah..


Terima kasih ya Allah, telah memberiku nafas kehidupan dengan berbagai nikmat yang melimpah dan tak henti-henti. 

Yeay!! Hari ini datang lagi. 
Biarlah orang-orang menganggap saya seperti anak kecil yang gegap gempita menyambut hari lahirnya. Bagi saya, inilah cara saya menghargai, mengapresiasi dan mencintai diri sendiri. Pun sejak dulu, dalam keluarga saya, kami selalu bergembira jika ada yang berulang tahun, ada hidangan makanan/kue spesial, ada doa spesial, ada hadiah-hadiah spesial, sungguh semua itu bukan untuk mengikuti budaya-budaya negatif dari barat, kami melakukannya dengan cara yang baik, dan inilah cara kami menunjukkan kasih sayang dan kepedulian dalam keluarga. 

And no matter what, October is always special for me. Di bulan ini, menenangkan sekali ada orang-orang yang mengingat hari lahir kita, memberi hadiah, dan mendoakan saya. Semoga Allah membahagiakan mereka di dunia dan akhirat.

Anyway, hari ini dapet hadiah unyu-unyu dari bos paling gaooll.. :D


Review Film Leher Angsa

Ga sabar pengen review film yang agak aneh tapi super kocak ini. Awalnya saya ga tau kalo Leher Angsa ini film anak-anak. Saya cuma tau kalo latar viewnya Gunung Rinjani. Akhir-akhir ini semua gambar, foto dan video tentang gunung telah membuat saya sangat bersemangat. Maka ketika ada film berlatar Rinjani (gunung  tertinggi ketiga di Indonesia) tentu saya merasa harus menontonnya. Untuk setiap film Indonesia yang berkualitas, saya selalu usahakan menontonnya di bioskop, ya kali aja dengan begitu saya bisa berkontribusi untuk kemajuan film-film Indonesia. 

Tadinya ada kekhawatiran bahwa film ini akan seperti 5 cm. Film yang dibuat di Gunung Semeru, yang berhasil memukau mata saya dan jutaan penonton di Indonesia sekaligus berhasil mengganggu keindahan alam Semeru, bahkan berdampak hingga sekarang. Apakah tidak cukup Semeru menjadi korban? Apakah Rinjani harus ikut diganggu demi kepentingan komersial? Tapi saat melihat berita di internet bahwa syuting film ini hanya dilakukan di sebuah Desa di kaki Gunung Rinjani, bukan di kawasan gunungnya, maka saya cukup merasa lega.

Memasuki Teater saya dan teman saya tertawa cekikian, isinya sebagian besar adalah anak-anak dan ibu-ibu yang mengantar anaknya, ada juga sih beberapa pasangan abege. It's oke, walaupun film ini segmentasinya untuk anak-anak, demi melihat view Rinjani dari sorotan kamera-kamera canggih, saya tetap semangat menonton.

Nah ini Sinopsisnya :



Ada sebuah desa yang seluruh penduduknya buang air besar di kali. Satu-satunya fasilitas buang air besar yang sehat di desa itu adalah sebuah WC Leher Angsa milik kepala desa. Dan di desa itu ada seorang bocah lelaki cerdas bernama Aswin yang gemar membaca. Karena dengan gemar membaca, Aswin jadi mengerti banyak hal.

Aswin kehilangan ibunya ketika sebuah pesawat latih ringan jatuh menimpa sang ibu yang sedang bekerja di ladang.
 Mestinya saat itu giliran ayahnya, Pak Tampan yang bekerja di ladang, tapi sang ayah lebih memilih pergi menyabung ayam. Sudah kehendak Tuhan kata sang ayah, tapi Aswin tak menerima dan tak mengerti. Sejak saat itu Aswin jadi tidak suka kepada ayahnya.

Segera Aswin mendapat ibu baru, Aswin menyukai ibu barunya. Dan karenanya merasa kasihan melihat ibu barunya yang tak terbiasa buang air besar di kali. Aswin meminta ayahnya untuk membuatkan ibu barunya sebuah WC leher angsa seperti milik kepala desa. Ditambah dengan keinginan memiliki sepeda yang tak pernah dipenuhi ayahnya, Aswin semakin
 tidak suka pada ayahnya.

Pak Tampan, terkena kutukan - paling tidak itu pikiran Aswin - tumbuh bisul di bokongnya. Sudah tentu Pak Tampan
 yang pelit tidak mau berobat ke dokter atau puskesmas. Bisul itu akan sembuh dengan sendirinya, pikirnya. Tapi ternyata tidak. Rupanya itu jenis bisul yang bandel. Dan Aswin makin yakin bahwa bisul itu adalah hukuman atas dosa-dosa ayahnya. Dosa itu adalah tidak mau membuat WC leher angsa buat ibu barunya dan tidak mau membelikannya sepeda. Tak mau panjang lebar berdebat dengan anaknya, Pak Tampan mengakui saja kesalahannya, dan berjanji akan membuat WC leher angsa di rumah.

Apakah Pak Tampan benar-benar menepati janjinya? Apakah bisul Pak Tmapan pecah setelah ia buatkan WC dan membelikan Aswin sepeda? (Sumber : www.21cineplex.com )




Siapa yang sangka kalo maksud dari leher angsa dalam judul film ini adalah WC leher angsa (padahal tadinya saya udah membayangkan yang romantis-romantis gitu, haha..) Banyak adegan lugu dan lucu khas anak-anak dalam film ini. Dialog-dialognya sederhana, mudah dicerna, pun banyak kalimat nasehat yang mudah dipahami anak-anak. Walopun ada saja kata-kata yang menurut saya belum bisa dipahami anak-anak tapi ternyata ditertawakan oleh mereka. Anak-anak jaman sekarang terlalu cepat dewasa sebelum waktunya ya (-__-)" 

Namun persahabatan Aswin, Najin, Asfar dan Johan yang tulus dan apa adanya mengingatkan saya kembali pada pergaulan saya di dunia orang dewasa kini. Apakah saya sudah setulus anak-anak itu.. Aswin yang selalu peduli dengan keadaan teman-temannya. Ketika Safar tidak masuk sekolah karena bisulan, hanya Aswin yang berpikir untuk menjenguk temannya itu. Bahkan Aswin membawakan ikan asin untuk Safar yang ternyata setiap harinya hanya makan ubi rebus. Najib yang agak keras dan kasar tapi selalu berusaha untuk melindungi dan membela teman-temannya. Adegan Najib menggendong Safar yang sedang bisulan ketika terburu-buru ingin melihat kondisi Ayah Safar yang tertimbun longsor, berhasil membuat dada saya sesak dan mata saya berkaca-kaca. 

Adegan lain yang membuat saya kembali berkaca-kaca adalah ketika Aswin dengan pikiran dan emosi kanak-kanaknya, berhasil menggugah dan mengingatkan dosa-dosa sang ayah. Tentu saja tidak ada manusia yang bisa menentukan suatu perbuatan itu dosa atau tidak, bahkan ketika Aswin bilang bahwa salah satu dosa Ayahnya adalah menyebabkan Ibunya meninggal. Tapi bukankah sebagai umat Muslim kita punya pedoman hidup yang akan menuntun kita mana perbuatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan.

Nilai minus untuk film ini adalah animasi menjijikan tentang (maaf) perjalanan kotoran manusia dari kali hingga ke laut dan dimakan oleh ikan. Menurut saya ga harus segitunya. Entah siapa yang berlebihan. Saya atau si pembuat animasi. Tapi saking menjijikannya, selama adegan itu saya ga mau liat ke layar (keingetan popcorn dan lemon tea yang masih harus dihabiskan, hehe..)

Film ini mengalir dengan sangat biasa seperti kehidupan masyarakat desa sehari-hari. Meski saya agak kaget dan bertanya-tanya, apa benar masih ada di Indonesia warga satu desa tidak ada yang mempunyai WC di rumahnya atau paling tidak fasilitas WC umum yang dibangun pemerinah. Ternyata teman saya bilang, di daerah timur, seperti di Bali misalnya, mayoritas warga memang tidak mempunyai WC. Mereka buang hajat dimanapun dan kapanpun mereka ingin. Weww..

Seperti yang diutarakan Aswin, si Anak cerdas, cukup sulit merubah kebiasaan masyarakat yang sudah mendarah daging.  Ketika pada akhirnya warga di Desanya Aswin membangun WC di rumahnya, masih ada beberapa warga yang tidak bisa merubah kebiasaan buang hajat di sungai. Tetapi merubah kebiasaan bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Dengan dorongan yang terus menerus untuk merubah kebiasaan ke arah yang lebih baik, fasilitas yang memadai serta tekad yang kuat, semua itu tentu bisa terjadi.

Ah, saya lupa bercerita tentang view Rinjani, bukankah itu tujuan awal saya menonton film ini.. Well seperti Semeru yang membuat saya terbius lewat kamera di Film 5 cm, begitu pun dengan Rinjani. Sekilas hamparan savana nya mirip bromo, indah bukan main. Barisan bukit hijau dan liukan-liukannya bikin hati ini meleleh *tsaahhh :D Awan-awan berarak dengan setia menaungi Dewi Anjani. MasyaAllah.. begitu sempurnanya Allah telah menciptakan semesta ini, dan itu ada di sekitar kita. 

Yup, akhirnya film yang disutradarai Ari Sihasale ini saya kasih nilai 7 dari 10 (nilai minus untuk animasi menjijikan itu, hehe..). Maju terus Film Indonesia :)





Amazing Ranu Pane - Bromo (3)



Hari ke-3, 3 Maret 2013

Jam 3 dini hari, alarm saya berbunyi. Saya benar-benar ga mau kesiangan menyaksikan amazing golden sunrise-nya Bromo. Sedikit tips kalo ga mau kesiangan dan grabak-grubuk, packing lah sejak malam hari sebelum tidur, untuk baju tidur, gunakan pakaian untuk besoknya, jadi pas bangun jam 3 kita ga usah repot packing lagi, tinggal cuci muka, sikat gigi, dandan dikit, berangkaatttt…



siap tempur!! *halahh


Hari ini saya dan Arti bergantian motor. Duhai Arti, silakan rasakan naik motor yang ga ada pijakan kakinya itu (devil mode : ON), haha.. Sepanjang jalan menuju Pananjakan saya terus memperhatikan langit. Harap harap cemas, semoga  kami bisa melihat sunrise, karena dari info banyak orang, di musim hujan jarang banget bisa keliatan sunrise. Saya sedikit lega ketika melihat bulan dan bintang-bintang bergelantungan di langit hitam. Itu tandanya, langit cerah.
“Kayanya pagi ini cerah ya?”
“iya mudah-mudahan bisa liat sunrise” jawaban Mas Eko tuh kaya orang yang lagi PHP dan aku mau aja di PHPin :p
Sampai di Pananjakan semangat saya semakin menggebu. Masih memakai helm dan menggendong ransel, kami menuju Pendopo tempat untuk menyaksikan Amazing Sunrise. Disnilah terjadi sesuatu yang ga pernah saya duga sebelumnya akan terjadi pada saya. Baru saja berjalan beberapa langkah, saya mulai ngos-ngosan dan sulit bernafas. Apa-apaan ini, saya yang setiap minggu jogging minimal 2 km, baru nanjak segini aja udah ga kuat nafas, whatda??!! Karena ga tahan, saya berhenti dalam diam (gengsi maksudnya), membiarkan yang lainnya jalan duluan. Setelah nafas saya normal barulah jalan lagi.
*Sekembalinya  di Jakarta saya berdiskusi dengan Mas Okta, karena ga terima dengan kepayahan saya waktu itu, hehe.., ternyata pagi itu saya terserang Hypoxia, ketidakmampuan tubuh untuk menyerap oksigen karena perbedaan ketinggian suatu tempat akan menyebabkan perbedaan tekanan udara dan kadar oksigen. Kata Mas Okta lagi, dalam pendakian terutama ketinggian di atas 3000 mdpl harus disediakan jeda waktu bagi tubuh untuk beraklimatisasi, menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar (nah aku mengingat dengan baik pelajaran ini Mas Okta :p)*

disini nih, kena hypoxia, sedangkan mereka santai2 aja -__-

Dan ternyata pendopo ramai sekali sodara-sodara!! Kami harus berdesak-desakan mencari spot paling pas untuk berdiri melihat sunrise. Cahaya jingga mulai terlihat di ufuk timur. Saya menyerahkan kamera pada Mas Eko yang badannya paling tinggi. Saya dan Arti berdiri di atas bangku yang harusnya untuk duduk, hehe.. daripada ga keliatan, secara badan kami kecil-kecil. Dalam detik-detik menegangkan menunggu Sang Surya terbit, mulai terdengar sorakan aneh dari sebelah kiri saya.
“wahh kabuutt..kabuuut!!”
“Jangaann..Jangaann!!”
“tidaaakkkk!!”
 Kabut dengan ganasnya bertiup dari arah kiri, sempurna jahat ketika pesona Sang Surya tertutup olehnya. Lalu semua hitam.. gelap.. pekat.. ah.. saya belum sholat subuh.


cahaya jingga terakhir yang terlihat mata kami

bayangan hitam inilah yang nutupin amazing golden sunrise
Tadinya kalo ga ketemu mushola, saya mau sholat di trotoar pinggiran jalan. Sebenernya sejak sebelum berangkat saya udah membayangkan akan sholat di pinggir pendopo, ditemani Sang Surya terbit, tapi boro-boro, bisa berdiri tegak disitu aja udah bagus. Alhamdulillah ada mushola kecil, ya.. kecil, kotor, tidak terawat, sepi dan gelap. Wow.. ada berapa ratus orang yang sedang menyaksikan matahari terbit (meskipun gagal) dan mushola sekecil itu ternyata sepi peminat. Astagfirullah.. pantas saja Kabut dengan gagahnya menutupi kecantikan Mentari. Mungkin kami yang ada disitu belum pantas menyaksikan keajaiban Allah tersebut.

Kami menunggu kabut berbaik hati pergi dari Pananjakan.  Meski sunrise udah lewat, tapi konon katanya pemandangan dari Pananjakan pesonanya luar biasa indah. Barisan Bromo, Semeru dan pegunungan lainnya terlihat dari sini. Sampai jam 6 kabut belum menunjukkan tanda-tanda akan beranjak. Mas Eko dan Mas Ndoyo menghibur saya dan Arti yang udah mulai keliatan putus asa, 
“Kalo mau liat pemandangan disini coba nanti liat foto-foto yang ada di kalender, itu sama kok”. 
Beuhh.. gaya menghibur macam apa itu, haha.. Karena kabut ga kunjung pergi, dan kami masih harus berburu dengan waktu, akhirnya setelah puas foto-foto dengan background kabut (iya..!! kabut!! Bukan sunrise ataupun barisan pegunungan.. hufftt), jam setengah 7 menuju Kawah Bromo.













Kecewa dengan sunrise yang tertutup kabut? Iya sih, tapi beneran deh, kekecewaan itu segera menghilang ketika saya melihat pemandangan sepanjang jalan dari Pananjakan menuju Kawah Bromo yang Amazing banget! Keindahan yang ga cukup hanya diungkapkan dengan kata-kata, Subhanallah, Allahuakbar, Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk melihat mahakarya ini. Foto-foto, ya teteplah.. ^_^








so beautiful n amazing, isn't it?

Memasuki Kawasan Bromo sebelum melewati Gunung Batok, kami berhenti sebentar, tentu saja untuk bernarsis dan berfoto ria. Arti mendapat kesempatan langka seumur hidupnya, yaitu mencoba motor trail! Saya tau dia kerja keras banget buat menyalakan motor itu (katanya sih susah), dan ternyata berhasil.
















Sekitar kawah Bromo sudah ramai pengunjung yang pasti pada belum mandi, hehe.. Banyak juga pedagang dan pemandu wisata bersama kudanya. Setelah sarapan nasi pecel, saya, Arti dan Mas Ndoyo menuju Kawah Bromo. FYI, Mas Eko sama Mas Ndoyo tuh suit dulu buat nentuin siapa yang bakal nemenin saya & Arti ke kawah, dan berbahagialah yang menang suit, karena ga harus melewati ratusan anak tangga itu, jadi pemandu sekaligus fotografer kami, hehe..










ni fotografer ga mau kalah narsisnya :p







Untuk mencapai puncak kawah, kami harus melewati bukit-bukit pasir yang pasirnya sudah bercampur baur dengan kotoran kuda. Harusnya sih ya, jalur kuda dan pejalan kaki di pisah, biar bau-baunya ga kecium gitu. Saya dan Arti bersemangat menghitung anak tangga, konon katanya siapapun yang menghitung anak tangga secara berbarengan, hasilnya tidak akan sama (masa sihh, itu mah ngitungnya aja ga bener kali saking capenya naek tangga, hehe..). Karena padatnya arus manusia di tangga, kami naik tangga selangkah demi selangkah, lambat banget jadi ga terasa cape (suer deh, ga cape.). Dan anak tangga yang kami hitung pun jumlahnya sama (Nah kan..mitos tentang hitungan anak tangga pun terpatahkan).

Pemandangan dari kawah Bromo pun ga kalah amazing. Hamparan lautan pasir yang begitu.. wow banget pokoknya.. Kami menuju spot yang agak sepi dan berfoto-foto disitu (*narsis is me! Haha..) Entah siapa yang dapet ide duluan, kami turun ke bawah dengan merosot di pasir! “Berani ga diah? Kalo ga berani ga usah” kata Arti. Takut sih, tapi masa gini aja ga berani, semeru jauh lebih curam dari ini. Belum sempat saya jawab pertanyaan Arti, Mas Ndoyo dan Arti udah cabut duluan, merosot di pasir. Sebenernya ga merosot juga sih, Mas Ndoyo ngajarin cara berjalan di kemiringan ekstrim, katanya kalo turunan badan kita dicondongkan ke belakang, setiap melangkah kaki ditancapkan ke pasir. Sebaliknya kalo tanjakan badan dicondongkan ke depan. Ternyata seru juga! Jadi ada ceritanya bisa pamer ke orang-orang, “eh aku turun dari Bromo merosot di pasir lho”, haha.. Noraknya kumat.







Finally, waktunya pulang.. saat itu yang terbesit di pikiran saya adalah, “saya harus balik lagi kesini”. Bukan masalah puas atau ngga puas sih, ya karena pengen aja. Pokoknya saya harus balik lagi, titik. Ketika kami turun dari kawah, dari kejauhan terlihat gumpalan pasir beterbangan, katanya Mas Ndoyo sih lagi ada badai pasir. Karena badai pasir itu, akhirnya kami melewati jalur yang berbeda dari kemarin, kali ini lebih ekstrim, lewat bukit-bukit pasir gitu deh. Tapi seru, sirkuit F1 nya makin terasa, haha.. Yang paling menyenangkan adalah kami melewati padang savana lagi!! As I told before, I’m fallin love with place, Amazing savana!


"Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak"

Kami janjian akan bertemu dengan Mas Okta dan Mba Ain yang baru aja mau mulai petualangan di Ranu Pane – Bromo (janjian yang aneh, karena kami ga menetapkan waktu dan tempat, yang penting seketemunya aja, karena jalanan disana hanya satu-satunya). Awalnya kami janjian di Jemplang, tapi di Jemplang ga ada satupun sinyal hp yang nyala. Kami menunggu dua orang itu tanpa kepastian sambil istirahat dan foto-foto. Setelah menunggu hamper setengah jam, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang, dengan harapan nanti akan papasan dengan Mas Okta dan Mba Ain di Coban Pelangi, padahal itu probabilitasnya kecil banget, bisa jadi kami papasan dijalan lagi naek motor trus ga liat kiri kanan. Sepanjang jalan saya hampir putus asa mencari sinyal HP, berusaha menghubungi mba Ain atau Mas Okta, sekedar menanyakan mereka udah sampe dimana. Tapi saya pun pasrah, kalo emang jodoh nanti pasti ketemu *apa coba!

Di tengah jalan, motor Mas Ndoyo mogok. Heran padahal itu motor kemaren waktu saya yang dibonceng baik-baik aja, justru kemaren motor Mas Eko yang notabene Arti lagi dibonceng malah mogok melulu. Ada apa denganmu Arti, hehe.. Akhirnya motor Mas Ndoyo jalan tanpa mesin, untungnya sih jalannya turunan.


Baru kali ini liat edelwiss di pohonnya ^^

Full Team


Masih di tengah jalan, entah kenapa deh, tiba-tiba motor Mas Eko oleng, saat Mas Eko lagi berusaha keras menstabilkan motor yang masih digas, saya pun dengan sigap turun dari motor, bukannya apa-apa sih, tapi itu di pinggir saya jurang tinggi banget. Ngeri! Mungkin tersadar tiba-tiba motornya jadi enteng, Mas Eko menoleh ke belakang
“Lho kok turun?”
“Aku tadi mau jatohh, takut..”
Belakangan saya baru tau, atas kejadian ini Mas Eko menyebut saya manusia tanpa ekspresi, udah mau jatuh kok diem-diem aja turun sendiri, haha..

Sampailah kami di Coban Pelangi, Guess what?! Saya melihat mba Ain berdiri di depan plang Coban Pelangi lagi nyari-nyari sinyal HP, tuh kan, akhirnya kami ketemu bahkan tanpa komunikasi. Ini namanya sudah ditakdirkan untuk bertemu, hehe.. Setelah puas berhaha-hihi bercerita, masing-masing kami melanjutkan perjalanan. Mba Ain dan Mas Okta akan naik ke Ranu Pane – Bromo, kami berempat akan turun ke Malang. Motor Mas Ndoyo akhirnya bisa jalan lagi pake mesin.


Personel lengkap : Arti, Mba Ain, Mas Ndoyo, Mas Okta, Mas Eko, saya ^^

Sebelum Tumpang, kami transit di Desa Poncokusumo, rumah seorang teman Mas Eko, dan mas yang lainnya (cape disebutin mulu satu-satu :p). “Kita Silaturahim dulu ya”, kata Mas Eko. So Sweet banget deh pertemanan mereka ini, hehe.. Kami dipersilakan bersih-bersih dan mandi. Lho, masih inget sama mandi toh? saya malah lupa kalo saya belum mandi dari kemarin malem :D

Dua hari naik trail di jalanan ekstrim, ketika kembali di jalanan mulus di Malang, rasanya ngantuk bukan kepalang. Saya dan Arti diantar sampai Terminal Arjosari. Kami akan melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Dari Surabaya saya langsung terbang ke Jakarta, dan Arti melanjutkan perjalanan dinasnya di Surabaya.

Meski banyak foto-foto yang saya abadikan, kisah yang saya ceritakan, tulisan yang saya goreskan, rasanya semua itu belum cukup untuk mewakili perjananan yang saya alami. Pemandangan yang indah luar biasa, pertemanan yang tulus dan menyenangkan. Semuanya amazing and unforgettable. Alhamdulillah, syukur kepada Allah atas kesempatan ini semua..  

-TAMAT-