Tampilkan postingan dengan label gw banget. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gw banget. Tampilkan semua postingan

Listen Up!

I love listening, I don't know why, just love to do it. Saya bisa mendapatkan keuntungan lebih banyak dengan mendengar, dibandingkan dengan berbicara. Pertama, dengan mendengar saya mendapat materi/pengetahuan baru. Kedua, dengan mendengar saya bisa berbicara tentang apa yang pernah saya dengar. Ketiga, akhirnya saya punya kemampuan setingkat lebih tinggi daripada orang yang hanya berbicara. Untung bukan? Lagipula, mendengarkan akan memperkaya sudut padang, persepsi dan wawasan kita.



Mendengar itu simple untuk dilakukan. Kita hanya perlu diam duduk manis, menatap orang yang sedang berbicara, lalu dengarkan dengan penuh antusias. Mendengar antusias artinya menunjukkan kalo kita tertarik dengan apa yang dibicarakan lawan bicara, dengan sesekali menimpali, bertanya atau memberikan pendapat, sesekali saja, tak boleh porsinya lebih banyak dari yang sedang kita dengarkan, (dan jangan memotong pembicaraan kalo ga mendesak) Walaupun sebenarnya kita tak tertarik dengan apa yang dibicarakan? yup.. tetaplah antusias, believe me, it's worth it. Pasti ada sesuatu yang bisa dapatkan dari pembicaraan tersebut. 

Ah ya.. jangan lupa hiasi dengan senyuman. Bukan..bukan bibirmu yang tersenyum, tapi senyumkan matamu, senyumkan wajahmu. Saya punya seorang teman pendengar yang sangat baik. Jika orang lain berbicara, dia tersenyum, sekali lagi bukan bibirnya yang tersenyum (karena toh bisa saja topik pembicaraannya adalah sesuatu yang menyedihkan), tapi mata dan wajahnya yang tersenyum. How to do it? Actually I didn't know, saya sendiri belum yakin apakah saya sudah bisa menerapkan ini atau belum (orang lain yg bisa menilai), tapi menurut saya, senyum ini sebenarnya muncul dari hati. Hati yang tersenyum, hati yang ikhlas, hati yang tulus melakukan apa yang sedang dilakukan. Sepertinya simple ya? :)

Noted : Please jangan mendengarkan sambil maenin gadget! Siapa pula yang ga sebel kalo sedang berbicara dan yang diajak bicara justru fokus pada gadgetnya. Mending usah sekalian, puas-puasin maen gadget dulu deh, baru belajar mendengarkan. Ok!

Mendengar itu menyenangkan. Memangnya kau tidak berbahagia ketika melihat orang yang curhat panjang kali lebar sama dengan luas, kemudian wajahnya terlihat lega dan ringan? Bukankah itu membahagiakan? :) Percaya deh, dengan hanya didengarkan, seseorang akan merasa sangat dihargai dan dihormati. Ga usah berharap balesan sih (kalo berharap mah sama Allah aja, jangan sama manusia), tapi setiap kebaikan pasti akan berbuah kebaikan pula, dalam bentuk apapun itu. 

Pssttt... mendengar juga akan melatih kita bertahan menghadapi orang-orang galak :) Kalo ada orang cerewet lagi marah-marah, cukup diam duduk manis, tak usah mengiyakan, menyaut atau menentang, timpali saja dengan kata-kata "Oo..", "Hmm..", kecuali kalo ditanya, ya jawab apa adanya, atau kalo orang tersebut bilang "Kok diam aja?!", jawablah "Karena saya harus benar-benar fokus mendengarkan anda". Dengarkan sampai benar-benar selesai, nanti dia akan cape sendiri kok :) Malahan mungkin amarahnya akan reda karena terharu melihat wajah tulus kita sedang mendengarkan.

Ada tuh slogan keren salah satu perusahaan asuransi terkemuka. "Always listening, always understanding". Kalo mau mendengarkan, pasti akan memahami.

Anyway, Saya ga akan bilang bahwa mendengarkan itu susah. Mendengarkan itu simple! Sesimple duduk nonton tivi atau dengerin radio. Gak percaya? Hayuk kita coba :)


"Listen up, then speak up" 

Born Day

Selamat tanggal 2 Oktober!

Terima kasih Allah, masih memberiku nafas kehidupan hingga hari ini
Terima kasih Allah, atas fajar, mentari dan alam semesta yang masih setia menjalankan tugasnya dalam menemani hari hariku
Terima kasih Allah, telah mengizinkanku utk selalu berada di sekeliling cinta & kasih sayang orang tua, keluarga, sahabat, dan teman-temanku
Terima kasih Allah, atas segala nikmat, rahmat & berkah, yang sungguh tak pernah bisa terhitung dan terbalas olehku
Terima kasih Allah,atas terkabulnya doa2 yg kupanjatkan selama hidupku dan doa2 orang lain yang menyebut namaku di dalamnya
Terima kasih Allah, untuk hari ini, hari2 kemarin dan hari2 selanjutnya
Terima kasih batik indonesia telah memeriahkan hari lahirku

Allah, mohon bahagiakan keluargaku dan orang-orang disekitarku
Mohon ampuni dosa-dosaku dan mereka
Mohon jauhkan aku dan mereka dari sakit dan kesusahan
Mohon limpahkan rezeki yang baik dan halal bagiku dan bagi mereka
Mohon  mudahkan langkahku dan mereka dalam aktivitas kami masing-masing
Mohon jadikan aku dan mereka sebagai manusia yang bisa bermanfaat untuk sekitar
Mohon teguhkan aku dan mereka di jalanMu
Mohon bimbing aku dan mereka menjadi manusia yang lebih baik dari kemarin
Mohon ijinkan aku segera bertemu dengan tulang rusukku :

I'm always excited when October come. Seru aja, di bulan ini banyak banget yang mendoakan dan meng-amin-kan. Rasanya ingin bersyukur sebanyak-banyaknya sama Allah. Dan karena kita dianjurkan banyak berdoa, saya pun ingin berdoa sebanyak-banyaknya sama Allah :)



IBF I'm in luph ^^

Jika sedang tak ada halangan, saya tak akan pernah melewatkan momen-momen Book Fair yang selalu diadakan di Istora Senayan. FYI, dalam setahun ada 3 kali book fair "bergengsi" yang diadakan di Istora (Islamic Book Fair, Indonesian Book Fair dan Pesta Buku Jakarta). Islamic Book Fair selalu menjadi yang paling padat pengunjung & penerbit.

Bagi saya, berbelanja buku jauh lebih menyenangkan (dan bermanfaat) ketimbang belanja tas/sepatu. Kalo beli tas 300 ribu cuma dapet satu, kalo beli buku duit segitu bisa beli 5-6 buku ^_ ^  Dan yah...jadilah saya pergi ke Islamic Book Fair di hari ketiga. Kenapa? karena hari ini penulis favorit saya Talk Show di panggung utama. Saya penasaran dengan sosok Tere Liye yang begitu melankolis saat menulis novel dan begitu kritis saat menulis notes. Lihat saja, dia duduk di panggung dengan gaya fashion yang sangat cuek, bahkan bersendal jepit! Dan beberapa kali kritikan cadas (tapi sangat memotivasi) dia lontarkan dengan cuek (gw suka gaya lo bang! :D). Sebenernya di sesi tanya jawab saya pengen tanya tentang kemungkinan Tere Liye menulis buku non fiksi bergaya citizen jurnalism, sayang...pertanyaannya tak sempat terlontarkan, hiks...




Setelah puas nonton Tere Liye di panggung (tentu saja saya tak melewatkan sesi Book Signing, klo untuk foto-foto, haha...gak lah... itu urusan para Abege sajah...), saya memulai perburuan buku. Dalam hal membeli buku di Book Fair, sejak dari jauh-jauh hari, saya sudah mendaftar buku apa saja yang mau saya beli, tapi seperti biasa, untuk buku yang ada dalam daftar tersebut, paling hanya 1-2 yang saya temukan. Selebihnya, saya akan sangat selektif membeli buku yang tidak ada di dalam daftar. Kenapa selektif? karena budget saya terbatas, hehe.. 

Biasanya, sebelum membeli saya akan memutar satu kali untuk melihat-lihat semua stand (yaa..semua..!!), stand-nya doank sih, haha.. untuk stand penerbit ternama, saya akan melihat buku-buku terbaru dan best seller, kalo ada yang "klik" maka saya tandai dalam hati, diingat-ingat judul, dan harganya. Untuk stand penerbit yang kurang ternama, saya memilih secara random, pasti dari yang random itu ada yang "klik" untuk kemudian saya ingat-ingat juga judul, harga & letak stand nya. Setelah berjalan satu putaran, lalu saya menimbang, menghitung, membayangkan buku-buku yang sudah "ditandai" tadi, manakah yang paling sesuai kebutuhan dan paling sesuai harganya untuk dibeli. Setelah ketok palu, saya kembali berjalan lagi, mengunjungi stand2 tadi. Pada kondisi sangat padat pengunjung (terlebih di hari minggu) & stand penerbit, mengelilingi Istora bukanlah hal yang mudah dan cepat. Semua proses itu membutuhkan waktu minimal 4 jam, ditambah waktu sholat & antri kamar mandi. Amat melelahkan memang.. tapi tak apa, jika itu untuk buku-buku yang bermanfaat sekaligus menghibur :) 

Oia, tadi juga kebetulan ada Asma Nadia & Helvy Tiana Rosa di stand Toko Gunung Agung, jadi sekalian aja ikutan Book Signing :)


Baiklah, inilah hasil perburuan saya di Islamic Book Fair 2012 :
  1. Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah - Tere Liye
  2. Indonesia Incorporated - Zaynur Ridwan
  3. Sakinah Bersamamu - Asma Nadia
  4. From Pesantren with Fun - Irvan Aqila
  5. Think Dinas - Endy J. Kurniawan
  6. Pilar-Pilar Kebangkitan Umat - Prof Dr. Abdul Hamid Al Ghazali
  7. Majalah Ummi Special Edition Islamic Wedding 


Beraneka ragam penulis dan beraneka ragam kategori :) karena saya tak mau pilih kasih pada buku-buku, mereka semua sahabat saya, memberitahu tanpa menggurui, menjawab tanpa merendahkan, menghibur tanpa melenakan... Jangan minta saya ceritakan apa isi buku-buku tersebut, karena saya juga belum baca :D dan kalo mau tau, belilah.. atau bacalah ringkasan di cover belakangnya :) Buku From Pesantren with Fun akan saya berikan untuk keponakan saya yang dua tahun lagi SMPnya akan masuk pesantren. Sebenernya buku-buku Seri Jilid seperti Kumpulan Risalah Dakwah, Tafsir Fizhilalil Quran, dll, itu harganya super murah di IBF, tapi mengingat kamar kost yang luasnya pas-pasan ini, saya tangguhkan dulu pembeliannya, hiks.. Eniwei, saya bener-bener butuh lemari buku lagi nih.. -_-'

“Buku yang kubaca selalu memberi sayap-sayap baru. Membawaku terbang ke taman-taman pengetahuan paling menawan, melintasi waktu dan peristiwa, berbagi cerita cinta, menyapa semua tokoh yang ingin kujumpai, sambil bermain di lengkung pelangi.” --Abdurahman Faiz--


P.s : saya cari2 "Di bawah lindungan Ka'bah" & "Tenggelamnya Kapal Van der wijck" - Buya Hamka , tapi gak ketemu di IBF :(




C-nya sudah hilang

29 Februari 2012,
Page 60 of 366,

Tanggal ini istimewa karena hanya ada 4 tahun sekali. Hari ini istimewa karena setelah 22 bulan, huruf C hilang dari status kepegawaian saya.


Bersama sebagian Angkatan 74 Prajab

Sejak kecil sampai lulus kuliah saya sudah berkali-kali ganti cita-cita, pernah ingin jadi dokter, jadi wartawan, jadi peneliti, jadi aktivis lingkungan, sampai saat itu saya tak pernah memikirkan cita-cita menjadi PNS. Lalu tiba-tiba saja orangtua menginginkan saya ikut tes-tes rekruitmen CPNS ini itu. Semua saya ikuti, tentu saja demi membuat orangtua saya senang.

Tahun 2008-2009, dalam setahun saya bisa mengikuti sekitar 6-7 tes rekruitmen CPNS, kebanyakan di Kementrian dan Badan, satu kali ikut di Sukabumi, dan Jakarta. Yang terakhir ini, Alhamdulillah atas ijin Allah dan doa orang tua, saya diterima.

Ada banyak orang yang meskipun telah diterima pada pekerjaan lain, tapi sangat berat meninggalkan pekerjaan sebelumnya. Dan itu terjadi pada saya. Posisi saya saat itu sedang bekerja di sebuah LSM lingkungan yang fokus pada bidang advokasi, di mana hampir semua kebijakannya bertentangan dengan pemerintah. Kemudian saya harus resign dengan alasan diterima menjadi PNS. Imagine how they thought about me! Tidakkah saya terlihat seperti seorang pengkhianat? 

Tapi bagi saya, ridho orang tua jauh lebih penting dan berkah. Saya pernah melihat pemerintah dari sisi dunia luar (LSM), dan ini saya jadikan salah satu pegangan jika saya salah langkah kelak, bahwa pemerintahan (dan saya yang berada di dalamnya) selalu diperhatikan oleh orang banyak, baik masyarakat awan ataupun kaum intelektual & idealis. 

Bahkan ketika hari pertama masuk kantor, ada yang langsung mempertanyakan "idealisme" saya, dengan dasar bahwa saya lebih memilih jadi PNS daripada kerja di LSM. Sejak itu saya tak ingin lagi menggunakan kata "idealisme" dan menggantinya dengan Istiqomah (bisa dibaca disini )

Saat di LSM, saya dididik untuk mengkritik pemerintah, sekarang setelah berada di pemerintahan saya membiasakan diri untuk tidak takut mengkritik kebiasaan buruk sesama PNS, perintah atasan yang agak "aneh", atau kebijakan yang tidak pro rakyat, dengan cara yang lebih halus tentunya. Saya ingin membuktikan ketidaktepatan perkataan seorang kawan aktivis LSM yang berkata bahwa pemerintahan hanya bisa "digebrak" dari luar.

Eniwei, saya baru 22 bulan mendiami sistem yang orang-orang bilang kacau ini, saya hanya bagian sangat kecil daripadanya, saya anak baru kemaren sore, masih ada 30 tahun lagi jika umur saya panjang. Doakan saya Istiqomah, dan bisa menjadi bagian dari orang-orang yang "menggebrak" dari dalam. Semoga status PNS saya barokah.

PNS = PelayaN maSyarakat


Ps. : Setelah dibaca2 (terbiasa nulis dulu baru baca ulang) postingan ini agak narsis, ga apa2 yah, kan hari istimewa :D 


Bertanya

Yah, ketika saya bertanya apa, mengapa, kapan, bagaimana, sebenarnya saya memang bertanya dengan sungguh-sungguh dan mengharap jawaban sungguh-sungguh. Bertanya bukan untuk menjadikan diri lebih rendah dari orang yang ditanya. Bertanya juga bukan untuk menyombongkan diri karena ternyata kitalah yang lebih tau dari orang yang ditanya. Bertanya ya bertanya saja, untuk sesuatu yang tidak kita ketahui, untuk sesuatu yang tidak bisa kita temukan jawabannya atau yang tidak kita pahami hanya dengan membaca buku, jurnal, (apalagi artikel internet).

Maka peluang terbesar kita adalah ketika seorang guru/dosen/pembicara seminar “Ada yang ingin bertanya?” Kita sebaiknya lebih banyak bertanya daripada mendebat mereka. Bertanya akan membuat ilmu kita bertambah, dibandingkan mendebat hanya untuk mempertahankan pengetahuan kita yang itu-itu saja.

“Karena bertanya tak membuatmu berdosa” 



How I'm Thinking of


Hasil Test Gaya BerpikirAnda adalah seorang yang memiliki gaya berpikir: Acak Konkret. Pemikir tipe ini mempunyai sikap eksperimental (suka coba-coba, trial and error) yang diiringi dengan perilaku yang kurang ter-struktur. Mereka lebih berorientasi pada proses dari pada hasil. Proyek-proyek yang mereka kerjakan sering kali tidak berjalan sesuai dengan yang mereka rencanakan, karena waktu mereka habis untuk mengerjakan sesuatu yang tidak direncanakan, karena terlalu meng-eksplore permasalahan-permasalahan yang muncul. Mereka yang berpikir tipe ini, tidak suka diatur dan cenderung tidak mau berpikir yang rumit-rumit.


eh, ini ga ada hubungannya sama meja kerja yang berantakan yaa.. :D


***


tes ada disini : http://www.yaminsetiawan.com/cgi-bin/click.pl?id=test03&url=/test/test03.html
hasil tes : http://www.yaminsetiawan.com/cgi-bin/test03.pl


5000 Kicauan




Hari ini twitter saya mencapai angka 5000. Kalo rata-rata setiap tweet 140 karakter (kadang kurang kadang lebih), berarti saya sudah menulis sebanyak 700.000 karakter atau sekitar 466 halaman A4, wow!! Ini sudah cukup untuk jadi satu buku yang sangat tebal :) 

Saya lupa kapan tepatnya mulai punya akun di twitter, sepertinya sekitar akhir tahun 2009. .Waktu itu twitter belum seramai facebook, saya pun cuma ikut-ikutan aja, yang difollow artis-artis, hehe.. Lama-lama maenan twitter seru juga, saya bisa update tweet sepuasnya tanpa di bilang narsis dan kurang kerjaan, beda dengan update status di facebook, yang kalo keseringan orang pasti bakal sebel. Eh, tapi apa pentingnya juga sih update status, haha...entahlah..tanya aja sama yang sering update status :P

Seru nya lagi, di twitter berita dan informasi akan mengalir sangat deras dan cepat, dalam hitungan sepersekian detik. Pernah saya online di twitter, dalam waktu 5 menit aja di timeline saya sudah ada 200an tweet baru. Wew, padahal saya cuma follow 90an akun. Makanya saya cukup selektif untuk follow sebuah akun, karena sayang aja tweet segitu banyak malah ga terbaca. Begitu juga dengan follower, ini lebih selektif lagi, ada banyak  request yang saya cuekin atau malah di decline (untuk akun promo2). Kenapa? karena di twitter saya apa adanya dan apa adanya saya tak perlu diketahui oleh banyak orang :D

Kata Donny Dirganthara, ngetweet itu juga termasuk menulis, yaa..walaupun cuma 140 karakter dan terkesan instan, tapi disitulah ide orisinil milik kita sendiri bisa tertampung.



Hati-Hati dengan Egois yang Tak Disadari

Hari ini, sejarah berulang. Ya, Indonesia kembali bertemu melawan Malaysia di final Sea Games, persis sama seperti akhir tahun 2010 lalu, di final piala AFF. Hasilnya juga persis, Indonesia runner up a.k.a kalah. Eniwei, bukan itu topik utama saya.

Hari ini, saya baru menyadari bahwa dunia ini tak seramah yang kita pikir, bahwa orang-orang di sekitar kita tak setulus yang kita pikir, bahwa saya terlalu polos dan terlalu kecewa. Eniwei, biarin aja sih.. ini bukan hal yang worth it untuk diperbincangkan (kenapa juga ditulis?!? he2... curcol..)

Hari ini, pertahanan hati, jiwa dan emosi saya diobrak-abrik oleh berbagai macam hal secara bersamaan (ga ada hubungannya sama kekalahan Indonesia loh) . Ini cukup membuat saya sedikit labil. Mau menguatkan diri sendiri ya susah juga, sebagai makhluk sosial tentu saja saya membutuhkan orang lain, dan sebagai hamba Allah, tentu saja saya membutuhkan Allah untuk bertopang.  Jadi bohong banget kalo ada seseorang yang dilanda segala kesulitan dan kegelisahan lalu dia memulihkannya sendiri, pasti ada campur tangan lain. 

Seringkali saya sebagai manusia yang berteriak menuduh orang egois, padahal saya sendiri bertindak egois tanpa sadar. Bukankah kita mendapat perlakuan seperti apa kita memperlakukan? Contoh sederhananya, saya hanya mengadu dan menangis kepada Allah saat mendapat kesusahan, sedangkan ketika mendapat kebahagiaan, saya lupa, lupa untuk bersyukur, lupa untuk sekedar khusyu ketika sholat. Atau contoh lain, ketika saya sedang sedih, saya mendatangi atau curhat sama temen saya, minta dia mendengarkan dengan sepenuh hati dan memberi solusi, tapi disaat yg bersamaan saya justru tak pernah menanyakan bagaimana kabarnya pada saat itu, jangan-jangan dia sedang sedih juga (dan saya menambahnya dengan cerita sedih saya!). 

Duhai, janganlah menuduh meski itu hanya dalam hati.



Tulus, No "Jutek" !


Tak sengaja, mendengar pembicaraan seseorang tidak berseragam yang sedang menelpon, “Iya, orang-orang di lantai 20 tuh judes-judes banget, parah..”. Refleks kepala saya menengok ke orang tersebut, kami bertatap mata, dia langsung menunduk dan pergi dari tempatnya (padahal saya ga ngapa-ngapain lho). Mungkin karena melihat saya berseragam, dia mengira saya juga bagian dari orang-orang “judes” di lantai 20. Untungnya saya tidak berkantor di gedung itu, jelas saya bukan bagian dari lantai 20, tapi kebetulan saja waktu itu saya memang akan menuju lantai 20.

Tapi..ah daripada saya cerita bahwa benarkah yang dikatakan orang tidak berseragam yang sedang menelpon itu, alangkah baiknya kalau saya instrospeksi diri sendiri saja. Meski saya tidak bekerja di bagian pelayanan atau loket atau meja dimana harus menghadapi orang-orang datang hilir mudik, tapi sesekali memang ada tamu yang datang. Saya bertanya pada diri sendiri, sudahkah saya ramah dan tersenyum kepada tamu-tamu tersebut? Jangan-jangan di depan kantor saya ada orang yang bilang “males ah, orang-orang di lantai 5 jutek-jutek”. Wow, bisa jadi saya termasuk salah satu orang tersebut.

Ngaku-ngaku pelayan masyarakat, tapi sekedar menjawab pertanyaan saja sambil jutek, apalagi kalo di demo sama masyarakat? Atau bisa jadi ini salah satu faktor (salah satu aja lho ya) yang menyebabkan masyarakat apatis terhadap pemerintah. Jadi inget yel-yel waktu orientasi pegawai di awal dulu “Melayani dengan tulus”. Tulus itu ngga pake jutek lho :D




Luv my mom

Ibuku adalah :

- Orang yang tak pernah mengeluh sejak mengandung, melahirkan dan membesarkanku hingga sekarang

- yang paling banyak berkorban untukku

- yang tak pernah melewatkan sedetik pun untuk memikirkanku

- yang selalu berbinar bangga melihat perkembanganku

- yang memanjatkan doa untukku siang dan malam

- yang paling peka tentang apa yang terjadi padaku, meski aku tak memberitahunya

- yang memberi motivasi dan dukungan, saat aku terjatuh

- yang tersenyum gembira bersamaku, saat aku bahagia

- yang menguatkanku saat aku terjatuh

- yang mengajariku tentang berjuang dan berusaha

- yang mengajariku tentang pengorbanan dan keikhlasan

- yang paling berpengaruh dalam hidupku

- yang mencurahkan cintanya yang tak terhingga untukku

- yang selalu berkata padaku ”kamu pasti bisa”

- yang terbaik yang pernah aku miliki di dunia ini


Aku meneteskan air mata saat berpikir, aku takkan sanggup membalas semua itu. Tapi melihat tatapannya yang begitu sejuk dan penuh kasih sayang, seolah ia pun berkata ”Kau tak perlu membalas apa-apa untukku..”. Sebuah ketulusan dari seorang ibu...telah mengantarkanku menjadi seperti sekarang...


Ya Allah...

Berilah balasan yang sebaik-baiknya pada ibu

atas didikannya padaku

atas kasih sayang yang dilimpahkan untukku

peliharalah ibu seperti ia memeliharaku

Apa saja gangguan yang ia rasakan

atas kesusahan yang diderita karena aku

atas hilangnya hak nya karena perbuatanku

jadikanlah itu semua

penyebab rontok dosa-dosanya

dan meninggi kedudukannya di hadapanMu

dan bertambahnya pahala kebaikannya dengan perkenanMu

For my dearest mom

In mother’s day...




Sebagian orang berharap dapat menikah dengan laki-laki yang mereka cintai, Doaku sedikit berbeda: Aku dengan rendah hati memohon kepada Tuhan agar aku mencintai laki-laki yang aku nikahi...



Mimpi di awal dualima



My Dreams on twenty five:

  1. Get Marriage
  2. Continue my study, Master Degree in Paris, majoring : Regional Urban Planning
  3. Be an idealism civil servant (jadilah pelayan masyarakat yang pro rakyat)
  4. Share an happiness for my family and friends
  5. Memorizing 5 juz Al Qur’an for a year
  6. Having a bike
  7. Having a smart phone Android



Aku dan Dua Puluh Lima



Segala Puji dan syukur hanya kepadaMu ya Rabb, atas segala anugerah dan karunia tak terhingga sampai kini.

Dua Puluh Lima dan aku menjadi manusia seperempat abad. Tak tahu bagaimana rasanya, tak bisa pula menerka. Yang terpikir adalah, bahwa menyandang dua puluh lima pastilah teramat berat. Di usiaku, banyak orang besar muncul dengan karya besarnya. Di usiaku, tak sedikit pula orang yang pergi dari dunia fana ini dengan meninggalkan harum. Lalu apalah aku?

Selama puluhan tahun ini… Amalan apa yang tercatat oleh malaikat? Kebaikan apa yang sudah kuberikan pada orang-orang disekelilingku? Karya apa yang sudah kuukir agar orang lain merasakan manfaat atas keberadaanku. Jika aku pergi saat ini, akankah ada orang yang menangisi? Adakah sepuluh tahun lagi orang yang mengingat namaku?

Aku terlahir bagaikan debu, dan akan pergi bagaikan debu pula. Ah.. bahkan setitik debu pun cukup berharga bagi pesisir pantai.

Ampuni hamba yang telah menyia-nyiakan nikmat usia dariMu ya Rabb. Berikan aku kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya. Jadikan aku hamba yang Istiqomah di jalanMu. Genggamlah aku dalam dekapan kasihMu. Berkahilah hidupku di dunia dan akhirat.

Ku mohon ridhoMu agar aku bisa menjadi insan yang lebih baik, menjadi hamba yang lebih bertakwa padaMu, dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi umat. aamiin..

Sesungguhnya hitungan nafas telah ditetapkan, hitungan detik telah diperhitungkan.
Sebodoh bodohnya manusia adalah yang diberi modal tapi tidak digunakannya,
Sebodoh bodohnya manusia adalah yang diberi nafas tapi disia-siakannya,
sebodoh bodohnya manusia adalah yang diberi waktu tapi disia-siakannya

Demi Allah, sesungguhnya semakin dekat ujung kehidupan kita, Hisab semakin nyata, dan sesungguhnya Hisab Allah amatlah berat, Janganlah sia-siakan nafas kita, jangan sia-siakan waktu kita, Sesungguhnya Hanya Allahlah tujuan kita. Perjalanan hidup manusia, menempuh alam dunia menghabiskan waktu, yang tiada lama. Usia bertambah makin senja, tiada terasa tak tersadar. Semakin dekatlah kematian, akan menjelang tiba.


All about the books

Berapa jumlah buku milikmu?

Ehmm..berapa yah..belum pernah diitung, kayanya sekitar lima puluhan. Kalo ditambah diktat n majalah (eh itu buku bukan sih) sekitar tujuhpuluhan deh..

Buku yang terakhir dibeli?

Jilbab Traveler (Asma Nadia) dan No Excuse (Isa Alamsyah), dua-duanya beli online di penerbit asma nadia, lumayan dapet diskon 30 %

Buku-buku yang terakhir dibaca?

#Eat, Love and Pray (Elizabeth Gilbert), baru dibaca setengah. #No Excuse (Isa Alamsyah), tinggal seperempatnya lagi belum dibaca. #Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan (Tasaro), yang dibaca baru seperempatnya

wow..baru nyadar, saya membaca tiga buku sekaligus, bukannya sombong atau terlalu pinter, walopun dua dari tiga buku di atas adalah novel, tapi terlalu berat buat saya, jadi bacanya putus nyambung, hehe..

Lima buku yang sangat berarti untuk saya?

Lima?? Bagi saya semua buku sangat berarti :) ....Ada cerita begini. Bulan lalu, waktu tetangga kost-an saya kebakaran, saya dan penghuni kost lainnya cepat-cepat packing barang-barang, takut apinya merambat ke kost. Saat itu barang yang paling pertama saya bawa adalah surat-surat dan buku-buku..

Bacaan wajib?

Al Qur’an, pastinya

Bacaan sampingan?

Semua yang bisa kebaca oleh mata saya :D



Partners in crime


I really need partners in crime..
Saya butuh seorang partner, ah..bukan seorang (nanti dikira saya membutuhkan "seseorang", meski saya memang sedang mencarinya :D), boleh dua orang, tiga orang atau lebih, yang bisa diajak diskusi, tentang banyak hal. Saya tak tau dimana harus mencarinya, menemuinya lalu berbicara dengannya.

Tak cukup berbicara saja, tapi juga mencari solusi, memutuskan yang harus dilakukan pada solusi tersebut, lalu benar-benar bergerak melakukannya.

Saat seusia saya, banyak tokoh-tokoh besar, bisa dengan tegar dan kuat berdiri sendiri. Tak gentar menghadapi pandangan orang lain terhadapnya. Saya tak tahu apa yang membuat mereka menjadi demikian, barangkali situasi dan kondisi yang memaksa, tapi keterpaksaan ini justru melahirkan nilai keikhlasan tertinggi, dan hadirlah kekuatan yang sulit terbantahkan itu.

Saya? Boleh kan saya jujur.. bahwa saya tak bisa bergerak sendiri. Suatu hari seorang teman berkata, jawabannya adalah komunitas, saya membutuhkan komunitas jika menghadapi situasi seperti yang sekarang saya alami. Dan saya percaya itu.

Tapi bagaimanalah.. komunitas pun sudah punya banyak urusan, saya harus menyederhanakan terlebih dahulu semua hal yang saya bawa saat berada di sana.. untuk itu.. saya butuh berdiskusi, butuh partners in crime...



Just a shoes


Dulu waktu jadi mahasiswa, saya pernah punya mimpi memakai sepatu kerja yang modelnya kira-kira seperti ini :

Terlihat elegan, tegas dan modis

Pekerjaan saya di dua tahun pertama ternyata bukanlah pekerjaan dengan suasana formal yang mengharuskan saya bersepatu saat kerja. Sepatu-sepatu yang saya miliki saat itu hanyalah sepatu teplek yang nyaman dipakai untuk turun naik tangga dan berjalan jauh. Setelah pada akhirnya saya bekerja, dimana kantor saya berikutnya mengharuskan saya bersepatu formal dan berwarna hitam, maka mimpi memakai sepatu dengan model seperti di atas pun semakin menggebu.

Tapi kawan, ternyata yang terlihat bagus dipakai orang lain belum tentu terlihat bagus jika dipakai saya. Sebenernnya bagus-bagus aja, asalkan pede. Tapi ini bukan masalah pede atau gak pede, hanya saja memakai sepatu seperti itu “bukan gw banget”. Barangkali benar kata pepatah, "sepatu mencerminkan kepribadian orangnya" (ini pepatah saya sendiri, hehe..). Jadi saat itu, saat memilih-milih di toko sepatu, setelah coba sana coba sini, saya merasa cocok dengan sepatu model begini :



Terlihat manis, elegan, anggun, dan “gw banget”

Sepatu ini cukup memenuhi kriteria, dan ternyata nyaman sekali dipakai. High-nya hanya 5cm dan tidak lancip.

Tapi saya masih punya mimpi, memakai sepau boot suatu saat nanti, kira-kira yang modelnya seperti ini :


Terlihat sporty, hangat dan penuh mimpi

Sepertinya sepatu boot ini cocok dipakai di musim dingin. Dipadupadankan dengan jilbab putih, gamis pink di atas mata kaki, mantel pink panjang di bawah lutut dan celana panjang hitam. Ya, suatu hari nanti..






Let's Do It, that we love this country


"Keprihatinan, seperti halnya kebanggaan, juga kecemasan, seperti halnya optimisme—semua itu adalah pertanda rasa ikut memiliki. Atau rasa terpanggil. Barangkali karena tanah air memang bukan cuma sepotong geografi dan selintas sejarah. Barangkali karena tanah air adalah juga sebuah panggilan” -Goenawan Mohamad-


Membaca quote ini saya baru mengerti, mengapa ada banyak anak negeri bernama Indonesia melakukan dua hal berikut :

  1. Di hari-hari besar nasional (HUT Kemerdekaan RI, Hari Kebangkitan Nasional, Hari Kartini, dll), dengan lantang berteriak sambil mengepalkan tangannya “Saya bangga dan cinta pada tanah air Indonesia”
  2. Di saat harga-harga naik, atau saat ada koruptor yang terbukti bersalah dinyatakan bebas, atau saat melihat fasilitas umum sedang rusak, pun dengan lantang dan tanpa ragu memaki-maki pihak-pihak yang terkait.


Ah..manusia.. Penduduk negeri ini pun manusia, yang telah lahir dan dibesarkan di negeri ini, yang meski kapasitasnya berbeda, tapi masing-masing pasti punya rasa memiliki, then I agree with that quote.


Saya pernah mengalami hal ini berkali-kali, ada kumpulan beberapa orang, asli orang Indonesia. Lalu lemparkan satu topik yang sedang hangat dibicarakan di negeri ini. Lima menit saja, masing-masing dari mereka sudah bisa menjadi pembicara yang hebat, mengutarakan dengan detail permasalahan terkait topik tersebut, lengkap dengan berbagai macam solusi-solusinya, hebat bukan?


Teringat slogan sebuah perusahaan asuransi terkemuka “always listening, always understanding”. Seandainya sang eksekutor, sang legislator, dan sang yudikator mau mendengarkan lebih banyak (dan lebih sering) suara-suara di sekitar mereka, barangkali keruwetan mereka “mengurus” negeri ini akan terasa jauh lebih ringan.


Kemudian saya berandai-andai membayangkan ini, kumpulkan beberapa orang, asli orang Indonesia. Berikan orasi kebangsaan yang menggugah jiwa dan semangat, teriakkan kata-kata cinta tanah air. Setelah itu ajaklah mereka untuk ikut kerja bakti setiap hari minggu di lingkungan rumahnya masing-masing. See what will happen!


Well, I don’t wanna say too much. Mari lakukan (bukan buktikan), bahwa kita memang cinta tanah air!




Dirgahayu Indonesia


Ada yang beda di bulan Agustus tahun ini. Tak ada lomba-lomba ataupun panggung (dangdutan). Ramadhan memang membawa berkah. Ah..saya tak keberatan jika segala macam “kemeriahan” berganti dengan kekhusyukan. Bukankah dengan begini, Agustus yang bertepatan dengan Ramadhan sebenarnya adalah momen yang sangat pas untuk benar-benar memaknai perjuangan para pahlawan Indonesia saat merebut kemerdekaan. 65 tahun yang lalu, 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 8 Ramadhan 1364 H.

Dengan suasana Ramadhan, semua orang sedang mendekatkan diri kepada Allah, dan masing-masing insan sedang membuka hati seluas-luasnya untuk bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan, salah satunya adalah nikmat kemerdekaan. Membuka pikiran sedalam-dalamnya untuk belajar dari para pahlawan yang berjuang hingga tetes darah penghabisan.

Malu rasanya 65 tahun yang lalu, pun dengan suasana Ramadhan, pemuda-pemudi Indonesia gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Semua orang produktif dan sibuk mempersiapkan segala persiapan untuk proklamasi. Bulan Ramadhan, tak jadi halangan untuk mencetak sejarah.

Saya, pemudi berusia hampir setengah abad, bulan Ramadhan dan Agustus ini, apa yang sedang bisa saya lakukan. Apa yang sudah saya berikan untuk negeri tempat saya dilahirkan dan dibesarkan ini? Entahlah..Paling banter besok mengikuti upacara bendera. Lalu..ah..bahkan nama-nama pahlawan pun sudah banyak yang lupa.

Saya cinta dan bangga menjadi bagian dari negeri ini, tapi apakah itu cukup? Selama ini saya merasa berputar-putar saja, mendengar orang lain mencaci maki negeri ini saya pun ikut mencaci maki. Melihat orang lain menyatakan cinta dan bangga pada negeri ini di tanggal 17 Agustus, saya pun ikut menyatakan cinta, ya..hanya pernyataan, bukan realisasi. Maafkan saya..

"Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu." - John Fitzgerald Kennedy -