Amazing Ranu Pane - Bromo (2)


Hari ke- 2, Selasa, 2 Maret 2013

Dengan semangat 2013, paginya kami bersiap-siap. Ternyata Ibunya Lucy sudah menyediakan sarapan untuk kami (Sungguh keluarga yang ramah). Jam 9, kami menuju Unisma untuk ketemuan dengan Mas Eko dan Mas Ndoyo, temannya Mas Okta yang akan menemani kami sepanjang perjalanan. Mba Ain dan Lucy mengantar keberangkatan kami sampai Unisma, entah kapan bisa bertemu dengan teman-teman yang baik hati ini. Mba Ain bahkan membantu saya naik trail, supaya saya bisa duduk dengan nyaman. (so sweet bangeett..:p)



Perlengkapan perang
Narsis dulu di rumah Lucy

Mba Ain, saya, Arti, Lucy

Seumur-umur belum pernah saya naik motor trail. Sekalinya naik, rutenya menuju gunung, yang.. yah..bisa dibayangkan sendiri gimana tingkat ke-ekstrimannya.. Rasanya naik motor trail itu.. kaya lagi ngetrack di sirkuit F1 (padahal mah belum pernah juga). Awalnya saya deg-degan, karena motor itu ngebutnya bukan main, padahal masih di jalanan kota Malang yang mulus. Tapi lama kelamaan, saya bisa menyesuaikan diri, meski kaki agak pegel karena motor yang saya naiki tidak ada pijakan kakinya. Di jalan kami mampir di bengkel, sepertinya ban motor mau diperbaiki, entahlah. Mas Ndoyo memasang sejenis paku/mur panjang di bagian belakang motor untuk tempat pijakan kaki saya. Sebenernya saya terharu, tapi saya protes jugakok pasang pakunya cuma satu, kakiku kan dua..”, hehe..



Nunggu service motor




Mas Ndoyo lagi muter otak, pasang mur buat pijakan kaki,
tapi anak kecil di sebelahnya lebih menyita perhatian, 'montir wanna be!!' :))

Ini adalah rute yang kami tempuh menuju Ranu Pane – Bromo :
Malang – Tumpang – Jemplang – Ranu Pane – Ranu Regulo – Jemplang – Padang Savana (Bukit Teletubbies) – Padang Pasir (Pasir Berbisik) – Wonokriti – (bermalam) – Pananjakan 1 – Kaldera Bromo - Padang Pasir (Pasir Berbisik) - Padang Savana (Bukit Teletubbies) – Jempang – Malang

Mas Okta bilang, kami ga akan menyesal telah memilih rute ini, karena keindahannya yang menakjubkan. Dan itu benar! Saya ga akan pernah menyesal. Jika saja motor trail ini tidak terlalu menyeramkan untuk saya sehingga kedua tangan saya harus berpegangan kencang, saya pasti akan memegang kamera sepanjang perjalanan, mengabadikan semua yang terlihat mata saya.





Jalur Menuju Ranu Pane

Di tengah perjalanan, motor trail yang dinaiki Arti dan Mas Eko beberapa kali mogok, beberapa kali pula Mas Ndoyo menyuruh saya menunggu di suatu spot karena dia akan balik arah lagi melihat keadaan motor Mas Eko.
Berani ga sendirian?” tanya Mas Ndoyo.
“Berani”, jawab saya
(tapi sambil pucet pasi gitu deh, wong di sekeliling ga ada orang, saya dipinggir jalan sendirian)

Motornya mas eko mogok

Di Pertigaan Jemplang (pertigaan menuju Bromo dan Semeru), kami beristirahat sebentar. Pemandangan Padang Savana menuju Bromo terlihat dari sini, Subhanallah.. luar biasa indah. Mas Eko menunjukkan tower jika kami ingin menikmati pemandangan dari tempat yang lebih tinggi. Dengan semangat membara saya dan Arti menuju tower. Sampai di bawah tower, saya menelan ludah dan mengurungkan niat untuk naik ke tower, sedangkan Arti terus naik ke atas tangga yang lumayan mengerikan itu. Baru setengah perjalanan menuju puncak tower, Arti berhenti, mungkin dia mulai deg-degan, sampai akhirnya dia turun lagi, haha.. “Kok turun lagi?” kata Mas Eko dengan nada menyindir, hihi.. Tau ah.. tangga nya tangga 90 derajat gitu, mana berani..

di Pertigaan Jemplang

Sekitar jam 12.30 kami sampai di Desa Ranu Pane. Kegembiraan saya benar-benar tak terucapkan dengan kata-kata *lebay*. Ranu Pane adalah pos awal pendakian menuju Gunung Semeru. Meski saya belum pernah ke Semeru, menjejak di kakinya saya senang riang gembira bukan main :D Di desa Ranu Pane ini ada dua danau, yaitu Ranu Pane dan Ranu Regulo. Ranu pane lebih besar, tapi menurut saya Ranu Regulo lebih indah karena agak jauh dari pemukiman penduduk, bersih dari sampah dan dikelilingi padang ilalang kaya di film-film India, hehe.. Konon Ranu Kumbolo, sang kakak pertama jauh lebih indah dari kedua danau ini, someday I’ll be there :)

Ranu Pane




pose galau maksimal

Ranu Regulo


Di Ranu Pane kami berkenalan dengan dua orang mahasiswi Unibraw yang katanya lagi iseng maen ke Ranu Pane (enak banget sih orang Malang, ke Ranu Pane aja bisa iseng doang). Ternyata mereka hobby naek gunung, pernah sampai ke puncak Semeru (pantesan aja ke Ranu Pane iseng doang). Yang mengharukan adalah, mereka menawarkan tempat menginap di kos-kosannya kalo mau main ke Malang lagi. Inilah yang saya kagumi dari para backpacker/ pendaki gunung/pecinta alam, mereka begitu ringan tangan membantu orang lain yang bahkan baru dikenal, tanpa rasa curiga sedikit pun, dan tanpa pamrih. Alhamdulillah saya belajar banyak dari mereka

Setelah puas di Ranu Pane dan Ranu Regulo, kami menuju kawasan Bromo. Bagian paling Amazing dari trip ini adalah melewati Padang Savana dan Padang Pasir. It’s like heaven in the earth. Subhanallah, AllahuAkbar. Sungguh saya jatuh cinta pandangan pertama pada Padang Savana yang dikelilingi tebing-tebing hijau, kaya di negeri antar berantah, tapi ini Indonesia!!
Saya tak sabar, meminta Mas Ndoyo memberhentikan motor.
“Berenti duluu..mau foto disini”
“iya nanti disana aja, kita naek bukit”
what!! Naek bukit?? Jalan kaki atau pake motor?? Pertanyaan itu tak sempat keluar dari mulut saya. Motor benar-benar melaju menuju salah satu bukit savana. Motor trail memang didesain untuk melewati medan-medan berat seperti ini. Kengerian yang menyenangkan, karena dari atas bukit, pemandangan memang lebih indah. Banyak orang menyebut savana ini dengan sebutan Bukit Teletubbies, karena mirip seperti perbukitan di film Teletubbies, berpelukaannnn… :D




ini di atas bukit lho ^^


Dari Savana kami menuju padang pasir. Ada ritual yang sudah kami rencanakan sejak dari Malang, yaitu menulis di pasir. Saya ga ada ide mau nulis apa, mau nulis “I love you” ntar kaya abg labil, atau “waiting for you” ntar ketauan galaunya, haha.. ya udah saya tulis aja “diah is here” trus foto deh di sebelahnya. Ternyata masih ada yang lebih ga kreatif daripada saya, Arti Cuma nulis nama “Arti” trus ikut-ikutan saya foto di sebelah tulisan itu.






Waktu semakin sore, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Kaldera (kawah bromo). Tapi karena gerimis kami hanya mampir sebentar di depan Pura (tentu saja untuk berfoto), kemudian langsung menuju Wonokriti, tempat kami akan menginap. Sebelum berangkat dari Malang, Arti dengan bantuan Mas Eko sudah booking penginapan via telpon, jadi sampai sana kami tidak usah repot cari homestay. Tarif penginapan yang kami tempati 250 ribu/malam, dengan 2 kamar tidur dan 1 kasur tambahan di ruang tv. Cukup nyaman dan murah. Saya sengaja memilih penginapan tanpa air hangat, selain supaya lebih hemat ada ritual yang harus saya lakukan disana, yaitu mandi air dingin! Kapan lagi merasakan air dingin di bromo! Dan saya sudah merasakannya, sekali itu, ya.. cukup sekali itu saja seumur hidup, haha..





orang iseng





Our homestay

Saya dan Arti berniat untuk tidur cepat, karena jam 4 subuh kami harus berangkat menuju Pananjakan 1 untuk menyaksikan keajaiban Bromo lainnya, yaitu matahari terbit. Tidur cepat hanya rencana belaka, dua orang sahabat yang udah setahun ga pernah ketemu ini punya bergudang cerita untuk disampaikan, hehe…  

Bersambung ke sini

Amazing Ranu Pane - Bromo (1)

Welcome to Amazing Bromo. Sebuah tempat yang membuat saya jatuh cinta kepadanya, dan pasti akan kesana lagi suatu hari nanti, InsyaAllah. Setelah beberapa kali (sejak tahun lalu) trip ini batal, diundur, dan pesertanya berkurang satu, Alhamdulillah akhirnya saya bisa menjelajahi sepercik keajaiban di Bumi Allah ini bersama sohib saya, Arti.

Sejak seminggu sebelum berangkat, saya udah ga bisa konsentrasi sama kerjaan kantor, kesibukan saya tiap hari cuma searching, browsing, chatting, untuk cari info dan bekal demi sampai tujuan nanti. Lalu saya menemukan grup Backpacker Indonesia di Facebook, dengan lugu dan polosnya bertanya tentang rute yang akan kami tuju. Saat itu, saya memutuskan untuk mencicipi ranu pane di lereng Gunung Semeru sebelum menjejakkan kaki di Bromo.

Berbekal info dari internet, berangkatlah saya dan teman saya, just two of us, dua-duanya cewe dan kami belum pernah pergi ke Bromo. Nekat.. itu kata yang paling banyak dilontarkan kepada saya. Belum tau aja mereka, banyak para backpacker lain yang lebih nekat dari saya. Nih contohnya, dari grup Backpacker Indonesia itu saya kenalan dengan mba Ain, cewe asal Bekasi yang ternyata juga akan pergi ke Bromo pada tanggal yang sama, selain Bromo dia juga pergi ke Jember, Banyuwangi dan daerah lainnya di Jawa Timur, sendiri.. yup sendiri.. hebat kan?

Setelah chitchat dengan mba Ain, dan menunjukkan itinerary saya yang super kacau balau, kami janjian ketemu di Malang, dan berencana akan barengan menuju Ranu Pane – Bromo. Ini pertama kali saya pergi bekpekeran, meski sudah tau tujuannya akan kemana, tetapi saya ga tahu pasti gimana cara menuju kesana. Serunya lagi, sohib saya Arti, nurut aja waktu saya beritahukan rencana saya yang sebenarnya sangat tidak matang. Well, the show must go on.. and the journey is begin

Hari ke-1, Jumat, 1 Maret 2013
Saya berangkat dari Soekarno Hatta dan sampai di Bandara Abdurahman Saleh, Malang jam 07.30 pagi.  Sungguh jika bisa, saya lebih suka naik kereta, selain jauh lebih murah, hawa bekpeker nya lebih terasa *halahh.. Tapi karena waktu yang mepet dan saya ga berani naik kereta sendirian untuk waktu  belasan jam, jadi saya putuskan naik pesawat.

Dari hasil browsing internet, saya tahu bahwa satu-satunya transportasi dari Bandara Malang menuju tempat manapun di luar Bandara adalah taksi bandara, dengan tariff 80.000 – 100.000 tergantung regional destinasi. Arti berangkat dari Bandung menuju Surabaya karena dia harus mampir ke kantor pusatnya di Surabaya. Kami janji ketemuan di Terminal Arjosari Malang jam 11. Demi pengiritan, saya nekat menaiki taksi ber-argo yang kebetulan baru aja mengantarkan penumpang bandara dari luar. Mungkin secara etika dunia pertaksian, yang saya lakukan itu ga boleh, but come on.. dengan taksi argo saya hanya mengeluarkan biaya 35.000 sampai ke Terminal Arjosari, bandingkan jika saya naik taksi Bandara, lebih dari dua kali lipatnya! Wow..

Setelah dua jam duduk di terminal Arjosari, akhirnya Arti tiba dari Surabaya. Kami bertemu dalam keadaan yang sama, lapar! Hehe.. Pertanyaan pertama yang dilontarkan Arti adalah “habis ini kita kemana? Naik apa?”
Dan saya cuma bisa bilang “ga tau, aku mau tanya mba Ain dulu”
Saya sadar dalam hatinya Arti kaget sekaligus khawatir dengan jawaban saya, haha.. :D

Sambil makan siang, saya mengabari mba Ain bahwa saya dan Arti sudah sampai di Arjosari. Saya minta petunjuk dimana kami akan bertemu, lalu dengan pedenya saya bilang “Apa kita ketemu di Tumpang aja mba?” 
(saya bahkan ga tau tumpang itu dimana dan bagaimana menuju kesana). Untungnya mba Ain mencegah saya langsung pergi ke Tumpang, saya diarahkan untuk menuju ke SMA 4 Malang, tempat dimana Sang Hero kami berada..*jengjenggg

Arti & Mba Ain di depan gerbang SMA 4 Malang yang nyentrik

SMA 4 ternyata ada di Kawasan Balaikota Malang. Ga asing lagi buat saya, karena pernah ke daerah ini sebelumnya. Sang Hero kami, atau kami memanggilnya mas Okta, adalah alumni SMA 4 Malang yang kemudian menjadi Pembina ekskul HPA di almamaternya. Dia juga punya EO untuk Outbond Training dan tergabung dalam Tim SAR di Malang(ini bener ga sih biografinya, tau deh, hehe..) Mba Ain kenalan dengan Mas Okta di facebook, saya kenalan dengan mba Ain juga di facebook. Ah, betapa facebook ternyata sangat bermanfaat, jika kita mau memanfaatkannya dengan baik.

Saat itulah saya baru menyadari kesalahan saya, yaitu pergi ke suatu tempat tanpa info yang cukup (sebenernya sih sebelum berangkat dari Jakarta juga udah sadar, hehe..tapi apa mau dikata, keinginan kami untuk pergi ke Bromo ga bisa ditunda lagi, lagian tiket udah dibeli, masa cuma gara-gara kurang info ga jadi pergi, cemeennn…haha..). Mas Okta memberi arahan panjang kali lebar samadengan luas mengenai Rute Ranu Pane dan Bromo. Pergi kesana ternyata tak semudah yang kami pikir. Terutama mengenai transportasi. Karena kami cuma bertiga, jika menyewa Jeep akan sangat mahal (satu Jeep sekitar 600 ribu). Alternatif lainnya adalah dengan menggunakan motor. Sewa satu motor per hari biasanya cuma 50-60 ribu. Tapi dengan kondisi mendadak dan pas weekend, akan sulit menemukan sewa motor. Saya mulai sadar,  mas Okta yang juga Tim SAR ini sepertinya amat peka dan khawatir jika kami yang lugu dan polos ini hanya pergi bertiga begitu saja.

Mas Okta ngajak keliling2 Balaikota





Di sebuah bangunan tua deket Balaikota Malang

Menjelang sore mba Ain menghubungi Lucy, mahasiswi asli Malang (mereka berdua juga kenal dari facebook via grup Backpacker Indonesia). Kami akan bertemu Lucy, juga untuk membicarakan rencana ke Ranu Pane – Bromo. Sambil menunggu Lucy pulang kerja, kami bertiga ditemani mas Okta jalan-jalan keliling alun-alun Malang. Jam 3 kami menuju kos-kosan pacarnya Lucy, dan kembali membicarakan rencana kami. Disini saya mulai merasa takjub. Saya dan Arti, bahkan baru mengenal mereka beberapa jam, lihatlah bagaimana mereka memperlakukan kami, disediakan tempat transit, diajak diskusi, difasilitasi bagaimana agar kami bisa berangkat ke Ranu Pane – Bromo dengan aman dan nyaman. Raut wajah mas Okta semakin memperlihatkan kekhawatiran, entah mungkin dia sedang ingat adiknya, kakaknya atau saudara perempuannya, jadi dia kasihan sama saya, Arti dan mba Ain, hehe..  Setelah diskusi panjang, diputuskan bahwa kami akan pergi dengan menggunakan motor. Sore itu Mas Okta dan Arti pergi berkeliling, mencari motor yang bisa disewa dan orang yang bisa menemani kami berangkat sampai pulang lagi.

Di kos2an cowonya Lucy, galau menanti esok hari

Kalo Arti mah galau juga tetep narsis :p
Hujan mulai turun di Malang. Saya sebenernya ketar-ketir, khawatir dengan ketidakpastian trip ini. Meskipun saya juga sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang sangat baik hati dan penolong. Saya teringat pesan orang tua, jika kita menjadi orang baik dan bersikap baik kepada orang lain, maka orang lain pun akan baik dan tak segan menolong kita. Alhamdulillah, benarlah nasihat itu, percaya atau tidak, kejadian ini mempengaruhi alam bawah sadar dan membuat saya berjanji pada diri sendiri untuk selalu menolong orang yang sedang kesulitan, apapun kondisi saya.

Akhirnya Mas Okta dan Arti kembali dengan kabar yang cukup menggembirakan, sudah fix dua motor dengan dua orang yang akan menemani kami sepanjang perjalanan menuju Ranu Pane – Bromo. Sayangnya, karena hanya ada dua motor, mba Ain tidak ikut bersama kami. Saya tahu betapa kecewanya mba Ain, tapi saya yakin hati dan jiwanya yang besar dengan cepat akan mengobati kekecewaannya. Mas Okta sendiri yang akan mengantar mba Ain hari Minggunya dengan rute yang sama. Saya ingat betul perkataan Mas Okta waktu itu “Saya baru bisa bener-bener lega kalo kalian bisa pergi dengan aman”. huwaaa...beneran speechless dehh, thanks a bunch mas Okta Hero.. ^_^

Malam itu kami menginap di rumah Lucy dan tidur dengan nyenyak. Saya tak sabar menanti esok hari!

Bersambung ke sini


Dagang (2) : Learning By Doing

Lanjut cerita...

Ternyata banyak teman kantor yang menyukai kebaya yang saya beli. Mereka meminta saya untuk membawa sampel kebaya lainnya, ada pula yang minta dibelikan kebaya sesuai pesanan mereka. Rok yang dipesan pun bertambah modelnya. Ada yang ingin ini, ingin itu, saya mulai pusing memenuhi keinginan-keinginan pembeli. Tapi bukankah saya baru mulai, tidak mungkin berhenti begitu saja. Saya pun bolak balik ke Tanah Abang saat hari kerja di jam istirahat. Area jualan saya bertambah luas dan pelanggan bertambah banyak, padahal banyak di antara mereka yang baru saja saya kenal. Saya merasa tertantang untuk berkomunikasi dengan orang-orang baru dan mempengaruhi mereka untuk membeli atau memesan kebaya dan kainnya pada saya. Seperti sales? Yup, bisa dibilang saya ini sales girl, hehe.. malu? untuk apa malu, 9 dari 10 pintu rejeki ada pada perdagangan, meski keuntungan yang saya ambil tidak besar, tapi semoga ada keberkahan di dalamnya.

Sekarang saya mengerti bagaimana rasanya mbak-mbak yang jualan di tanah abang begitu sumringah jika ada pembeli. Terkadang saya merasa khawatir jika sampel yang saya beli tidak laku, tapi masyaAllah, pikiran itu pun saya buang jauh-jauh, karena Allah yang menjamin rezeki kita. Pada akhirnya, ada saja yang membeli sampel yang saya bawa, Alhamdulillah.

Saya benar-benar belajar banyak dari berdagang. Sejak kecil saya memang sudah mulai berdagang, tapi saat itu saya belum mengerti manfaat dan filosofinya (*tsahh..pake filosofi segala). Waktu kecil yang saya pahami adalah saya akan mendapat uang jajan tambahan dari hasil berjualan. Beda dengan sekarang, saya merasakan manfaatnya, tidak hanya dalam segi materi. Karena saya learning by doing,  kira-kira bini yang saya pelajari ketika berdagang :
1. Belajar komunikasi & marketing (mempengaruhi orang lain), terutama dengan orang yang baru dikenal
2. Belajar melayani orang lain dengan ramah dan penuh senyuman, sejelek apapun kondisi mental kita
3. Belajar sabar ketika menghadapi pembeli yang seenaknya menukar barang yang sudah dipesan, atau pembeli yang tak kunjung membayar hutangnya
4. Belajar berani mengambil resiko
5. Belajar manajemen keuangan

Poin yang terakhir masih agak sulit saya jalani, karena kelemahan saya adalah kurang rajin mencatat. Padahal tidak selamanya saya bisa mengandalkan ingatan saya, berapa item yang saya beli, berapa yang terjual, siapa memesan apa. Pencatatan saya masih kacau balau, mungkin ini tanda-tanda kalau saya lebih cocok jadi bos dan menggaji pegawai, hehe.. Amin..

Kalo dikira-kira, dalam dua bulan ini omset saya sudah hampir 4jutaan, dengan total item 40an. Kira-kira sih begitu.. Sekarang sedang mikir-mikir, mau dibawa kemana hubungan #eh bisnis jualan ini.. :D

Dagang (1) : Nekat, Iseng & Sedikit Modal Duit


Kata sebuah akun twitter, “Kadang dibutuhkan kenekatan untuk memulai suatu bisnis, trus bisa jadi ketagihan”. Entah sudah bisa dibilang bisnis atau belum, tapi hampir sebulan ini saya nekat berdagang pakaian kebaya dan kainnya. Bermula dari Big boss yang mewajibkan seluruh pegawai Pemda DKI mengenakan pakaian khas daerah seminggu sekali, untuk wanita memakai kebaya encim dengan bawahan rok/kain motif pucuk rebung dan pria memakai sadariyah .

Ide awalnya sederhana, suatu hari saya memakai rok motif pucuk rebung model A-line warna cokelat. Rok ini sangat memudahkan saya untuk bergerak ketimbang memakai kain/rok span, selain itu modelnya bagus dipakai (menurut orang-orang sih) dan warnanya yang netral cocok untuk segala warna kebaya. Hampir semua orang yang melihat saya memakai rok itu bertanya “Beli dimana?”, ada juga yang komentar “Kalo beli lagi, nitip dong”, yang paling saya ingat adalah komentar “Kamu jualin aja, nanti aku beli”.

Dari situlah kenekatan dan keisengan saya untuk berjualan muncul. Besoknya saya langsung menuju ke ATM, lalu pergi ke Tanah Abang dan membeli 10 helai rok dengan model yang sama, tapi motif berbeda-beda. Saya benar-benar nekat, karena saat itu yang titip rok cuma 3 orang, tapi saya membeli 10. Agak bingung menentukan harga jual, karena saya beli rok itu di Tanah Abang yang deket banget dengan kantor saya. Setelah tanya sana sini, saya pun tetapkan harga jual, dengan untung yang tidak terlalu besar. Saya ingin menciptakan Brand "Gaya ga harus Mahal" :D Alhamdulillah kesepuluh rok itu langsung habis di hari pertama saya berjualan, dan datanglah pesanan-pesanan lainnya.

Ini pelajaran pertama, perkirakan karakter para pembeli kita, jika kebiasaan mereka menunda bayar alias berhutang (padahal saya yakin mereka punya cukup uang untuk bayar saat itu juga, tapi mungkin mereka mendapat sensasi lain ketika berhasil mendapatkan barang hutang-an, haha..). Nah, jika karaker para pembeli kita memang senang berhutang, berikan harga yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan bayar kontan. Ini akan membuat pembeli berpikir dua kali jika hendak berhutang.

Karena saya masih harus membeli pesanan lainnya padahal saya belum balik modal, akhirnya saya membobol celengan berisi  lembaran 20ribuan. Kenapa 20ribuan? Saya punya cerita tentang celengan ini, kapan-kapan saya posting :) Bermodalkan hasil celengan itu saya pun belanja lagi 10 helai rok. Kali ini dengan tambahan baju kebaya, titipan teman.  Dari sinilah dagangan saya sedikit berkembang menjadi rok & kebaya.

Bersambung besok yah.. :D





Places I Wanna Go!


"...Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang.."

This is my Dreamland, someday.. I'll be there

1. Makkah Al Mukarramah


Ini dreamland pertama yang harus saya datangi. Tempat yang dimuliakan dan disucikan oleh Allah. Tempat dimana Rasulullah SAW lahir. Tempat dimana seluruh umat Muslim di dunia berkumpul menjadi satu. Semoga tahun 2020 tabungan saya cukup dan bisa pergi kesana. Aamiin.. :)



2. Paris




I'm fallin love with Paris n Eiffel. Don't know why. Terkadang jatuh cinta itu tak memmerlukan alasan :p Setiap ada kenalan yang pergi ke Paris, saya ga akan terlewat untuk titip oleh-oleh miniatur Eiffel. Saya punya mimpi bisa kuliah S-2, setahun atau dua tahun disana. Saking cintanya, saya belajar cara menggambar Menara Eiffel dari internet. Ini hasilnya :




3. Mahameru




Mahameru adalah sebutan lain bagi Gunung Semeru yang puncaknya berada pada 3.676 mdpl. Saya jatuh cinta pada Mahameru setelah menonton film 5 cm. Sebelumnya saya mendeskripsikan sendiri dalam pikiran saya tentang Mahameru, dari novel 5 cm dan biografi Soe Hok Gie. Tapi setelah melihat visualisasinya lewat film, ternyata Mahameru dan tempat-tempat yang harus  dilalui untuk menuju kesana, jauh lebih keren dari yang saya pernah bayangkan, dan saya pun langsung jatuh cinta. Hmm.. bersyukur ya orang-orang yang pada suka naik gunung sejak muda (eh, saya juga masih muda lho..:D ). Sayangnya jaman SMA dan kuliah dulu ga pernah ada temen yang ngajak naik gunung, emang gaulnya bukan sama anak-anak gunung sih. 

Someday I'll be there. Yakin aja. Entah gimana caranya, yang penting gantungkan dulu mimpi itu setinggi mungkin. Setidaknya itu membuat saya setingkat lebih tinggi daripada orang yang tidak punya mimpi :)




Untuk para kakak di seluruh dunia


Kau mengambil alih tugasku ketika ku malas disuruh ibu
Kau menghibur ketika ku menangis
Kau menemaniku ketika ku sendiri tanpa teman
Kau membela ketika ku terancam
Kau memenuhi keinginanku dengan caramu sendiri ketika ku merengek
Kau memberi semangat ketika ku putus asa dan mengeluh
Kau memberi hadiah manis ketika ku menurut agar berbuat kebaikan
Kau menyayangi ketika ku bahkan tak pernah menyadari kemuliaan hatimu
Kau berkorban ketika kau lebih membutuhkan kebahagiaan itu daripada ku
Hatimu cantik secantik bidadari surga
Untuk para kakak di seluruh dunia..
Terima kasih..



Terinspirasi dari Film Bidadari-Bidadari Surga 





Pengalaman Super di MTGW

Akan ada hadiah manis untuk setiap ujian yang berhasil kita lewati dengan kesabaran dan keikhlasan yang kita upayakan di dalamnya. I believe it.. :) Ini seminggu yang berat tapi berakhir menyenangkan karena saya mendapat hadiah manis itu. Kesempatan menonton langsung Mario Teguh Golden Ways di studio metro tv. 

Tau MTGW kan?? Yang host-nya si pria kharismatik Hilbram Dunar itu lho :D Sekitar dua minggu yang lalu ga sengaja lihat pengumuman pendaftaran untuk jadi audience di acara Mario Teguh Golden Ways. Sebelumnya saya pernah beberapa kali kirim email pendaftaran dengan mendaftarkan nama saya sendiri tapi belum pernah berhasil. Nah, kali ini saya iseng daftar lagi, dengan menuliskan nama saya dan 2 orang best friend saya di email tersebut (mereka sama sekali ga tau kalo namanya saya daftarkan). Karena hanya iseng-iseng, jadi saya ga terlalu berharap bakal dapet tiket masuk. Tapi ternyata, bener kata kebanyakan orang, yang iseng-iseng itu biasanya berhasil :D 

Seminggu kemudian, bahkan ketika saya sudah lupa pernah mendaftar MTGW, datanglah email sakti tersebut, email yang baru saya buka setelah 3 hari mendarat di akun saya. Isinya e-ticket MTGW sebagai pass masuk studio metro tv . Rasanya pengen jingkrak-jingkrakan sambil teriak WOW!! :)) Saya dan dua orang teman saya akan jadi audience acara MTGW, menyimak langsung motivator keren Mario Teguh, menonton host  kharismatik Hilbram Dunar, dan yang paling penting sih..masuk tipi..hehe... Maka dengan semangat 2012 saya menyampaikan kabar gembira ini pada 2 orang teman saya tersebut. Saya yakin mereka juga senang bukan kepalang, cuma kegedean gengsinya aja :p saya pun meyakinkan mereka untuk datang karena ini kesempatan amat langka. 


e-ticket yang udah bikin seneng sekaligus galau

Sayangnya, kedua teman saya ini membatalkan kepergian di malam hari sebelum pergi keesokan harinya. Hufftt... Agak kesel sih ya.. mbok ya kalo mau membatalkan tuh yang niat dan bertanggung jawab gitu lho, jangan mepet waktunya.. Karena pembatalan yang mendadak, susah banget cari pengganti orang yang mau berangkat bareng saya ke MTGW. Bukannya saya takut berangkat sendirian, tapi karena sayang banget kalo tiket  untuk 3 orang ini sia-sia begitu aja. Nyatanya ketika saya tawarkan pada beberapa orang teman, saudara, kerabat, banyak yang berminat menggantikan, hanya saja mereka sudah terlanjur ada acara lain di hari itu. Tapi akhirnya saya pun berhasil menggaet sepupu saya untuk berangkat bareng ke MTGW, sedangkan jatah untuk satu orang lagi hangus. 

Dengan berbekal sedikit info dari internet, saya dan sepupu saya berangkat naik busway jurusan Harmoni-Lebak Bulus, turun di halte Duri Kepa. Dari situ kami harus berjalan sedikit ke perempatan lalu disambung naik Kopaja 16 yang ternyata adalah jurusan Tn.Abang-Ciledug sodara-sodara!! Tau gitu mah, saya naik kopaja ini aja dari Tanah Abang -__- 

Saat kami sampai, metro tv sudah dipenuhi orang-orang yang akan menjadi audience MTGW. 90 % di antara mereka adalah pemuda pemudi, 70 % nya adalah jomblo-jomblo bahagia, hehe.. (kesimpulan pribadi sih). Kenapa? Karena Taping MTGW hari ini judulnya "Less Is More" dan "The Making of Jodoh". eh saya sendiri waktu daftar beneran ga ngeh kalo ternyata materinya adalah tentang jodoh. Kayanya Allah ngasih saya hadiah yang bener-bener manis minggu ini :)


Duduk paling depan viewnya paling oke


Jam 10.00 peserta mulai registrasi. Kami dibagikan nasi box. Nasi ini harus habis dimakan saat itu, karena nanti saat Taping berlangsung tidak bisa dititipkan. Hehe.. bayangkan kami harus makan nasi jam 10 sambil khawatir dengan status nasi tersebut, apakah itu untuk makan pagi atau makan siang (untuk makan siang kepagian dan untuk makan pagi kesiangan). Jam 11.30 peserta dipersilakan masuk ke studio. Karena saya malas berdesak-desakkan, jadi saya menunggu sampai orang-orang selesai masuk, pikir saya, biar saja dapat tempat paling belakang. Biasanya orang kalo berdesak-desakkan masuk dalam ruangan, mereka ingin duduk di tempat strategis. Tapi ternyata tempat strategis di studio ini adalah kursi-kursi tengah dan belakang, saya agak kaget melihat kursi kosong yang tersisa hanya di barisan paling depan. Oh.. rupanya mereka kurang pede duduk di barisan paling depan, persis ketika ujian, hehe. Saya dan sepupu saya kok ya malah cengar-cengir duduk di depan, bisa sering-sering kesorot kamera. Aye masuk tipi maakkkk!!! wkwk...

Sebelum Taping di mulai, kami di briefing. Aturan main disampaikan oleh kru MTGW. Mulai dari HP yang harus dimatikan, kapan waktunya harus tepuk tangan, Polling yang..ehmm..ternyata alatnya bohong-bohongan, hihi.. (polling ternyata diambil sebelum kami masuk studio dengan menggunakan kertas). Setelah briefing dari kru, tampillah sang host Hilbram Dunar (yang emang beneran kharismatik, pinter dan ganteng, hehe.). Hilbram Dunar menyampaikan  materi pendahuluan dan menampung pertanyaan dari peserta yang nantinya akan ditanyakan kembali ke Pak Mario Teguh saat rekaman berlangsung. Tak berapa lama, keluarlah Pak Mario Teguh bersama istrinya Ibu Lina (yang beneran cantik dan anggun). Saya duduk persis di sebelah Ibu Lina (peluang kesorot kamera semakin besar, haha..). Hampir di setiap break, Pak Mario mendekati Bu Lina dan dengan manjanya bilang "mimi..", kemudian Bu Lina menyodorkan air minum untuk Pak Mario, aih.. romantisnya.

Menonton langsung MTGW di studio ternyata lebih seru daripada di tv (ya iyalahh.. :D) Pak Mario Teguh ternyata kocak banget, Hilbram Dunar juga kocak, host yang interaktif (gayanya udah kaya motivator kelas atas, penggantinya Mario Teguh nih). Entah kenapa, saya melihat semua kru yang ada di studio juga terlihat ceria sepanjang Taping berlangsung sambil sesekali ikut tertawa mendengar gurauan Pak Mario Teguh. Sepertinya karena mereka, para kru, yang paling sering mendengar motivasi dari Pak Mario Teguh, jadi sedikit banyak pasti terpengaruh dengan motivasi-motivasi tersebut. 


Host keren ^_^

Satu Episode dibutuhkan sekitar 1,5 jam untuk Taping, dan selama itu kami tidak boleh jalan-jalan, karena break hanya sekitar 2-3 menit. Saya paling ga tahan duduk diam lama-lama, tapi ya mau gimana lagi, dipaksain aja.. worth it kok.. :) Selesai Taping kesatu, kami dipersilakan sholat dan makan siang. Yup, makan siang (lagi), padahal baru dua jam yang lalu makan -entah pagi entah siang-

Taping kedua tentang "The Making of Jodoh" ternyata lebih seru dari yang pertama (pastinyaaa...), karena itulah saya bilang 70 % dari peserta adalah jomblo-jomblo bahagia :D Buktinya mereka tak henti-hentinya bergantian mengajukan pertanyaan, sambil cengar-cengir, tersenyum dan tertawa. Persoalan tentang jodoh memang takkan selesai dibahas dan takkan bosan didengar. Ah, sayang.. teman saya yang dua orang tadi ga jadi berangkat, betul-betul disayangkan.. 

Pengalaman yang seru, tak terlupakan dan Super Sekali!!. Lain kali saya mau daftar lagi. Di perjalanan pulang, saya pastikan dua teman saya yang membatalkan pergi tadi akan menyesal kalau mereka mendengar cerita saya, hehe.. Satu yang terlupakan.. saya lupa tanya kru MTGW kapan dua episode ini akan tayang di tv, duh..  


Ini sedikit oleh-oleh dari Taping MTGW dua episode :
Menjadilah sederhana untuk mendapatkan yang lebih
"Less is More"
Bukan menemukan atau mencari jodoh,
tapi jadikan diri kita sebagai orang yang akan dicari jodoh. 
Be the best soulmate for somebody
"The Making Of Jodoh"



Eyaampun.. panjang bener ini postingan, haha.. Salam Super!!



Let's Do It Again


Saya pernah lebay, selebay-lebaynya..
Saya pernah galau, segalau-galaunya..
Saya pernah putus asa, seputus asa-putus asanya..
Saya pernah patah hati, sepatah hati - patah hatinya..
Namanya juga anak muda..

Ada masa-masa dimana kita pernah mengalami hal yang paling tidak menyenangkan. Saat mengalaminya, kita beranggapan saat itu adalah saat yang "paling", kita tidak sadar bahwa masih ada detik selanjutnya, jam selanjutnya, hari selanjutnya. Bagaimana jika esok hari ada hal yang lebih tidak menyenangkan? Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok bukan? 

Positifnya adalah, ketika kita merasa itu adalah hal yang "paling", tapi ternyata esok hari terjadi hal yang lebih dari "paling", kita sudah belajar untuk tidak menanggapinya secara berlebihan. Kita akan semakin terlatih lebih bijak untuk menghadapi sesuatu. Itulah kedewasaan. Tanyakan pada seorang sarjana fresh graduate yang melamar kerja kesana kemari di belasan perusahaan, apakah tidak diterima bekerja itu menyakitkan? (tentu saja), tapi karena itu berkali-kali ia rasakan, maka ia berdamai dengan rasa sakit hatinya itu. Lebih baik ketimbang ia sakit hati terus menerus, berefek ada lamaran kerja selanjutnya, akhirnya jadi tidak fokus.

Jadi jika sedang mengalami "paling galau" "paling putus asa" "paling patah hati" atau "paling" yang lainnya, please jangan sampai kita berhenti sampai disitu, jangan takut untuk sekali lagi atau berkali-kali lagi mengalaminya, berdamai sajalah. Sambil berdoa, suatu saat Allah akan memberi hadiah manis untuk ketangguhan dan keberanian kita dalam menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan.

So, let's do it again.. Ini namanya move on.. :)




[EnjoyJakarta] Menikmati Pesona Bahari di Pulau Pari


Ingin menikmati keindahan alam sekaligus ketenangan di Jakarta? Tentu saja bisa. Datanglah ke Pulau Pari di Kepulauan Seribu. Ya, Pulau Pari menawarkan keindahan, ketenangan, dan kesunyian yang dirindukan para pengunjung dari kota yang ramai dan padat penduduk, terutama para backpacker yang berburu liburan murah.

Pulau Pari merupakan salah satu dari gugusan pulau wisata bahari di Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Dengan jumlah penduduk yang sedikit, rumah tinggal yang tidak terlalu padat, serta pengunjung yang dibatasi maksimal hanya 200 orang, Pulau Pari memiliki suasana yang penuh dengan ketenangan. Untuk mencapai Pulau Pari, kita dapat menggunakan speed boat dari Marina Ancol selama 1 jam atau jika ingin biaya lebih murah, pilihlah transportasi dengan menggunakan kapal kayu dari Pelabuhan Muara Angke dengan lama perjalanan ± 2 jam.  




Untuk keperluan penelitian, Pemerintah membangun Pusat Penelitian Oseanografi LIPI di Pulau Pari, inilah salah satu sebab mengapa ekosistem dan biota laut di Pulau Pari masih terjaga dengan baik, selain karena penduduk sangat menjaga lingkungan tempat tinggal mereka tentunya.

Ada banyak homestay nyaman yang disediakan di Pulau Pari. Pengunjung yang sudah memesan paket travel biasanya akan mendapatkan fasilitas lengkap seperti Local Guide, homestay, sepeda, sewa peralatan snorkeling, serta Barbekyu di malam hari. Pengunjung yang ingin datang tanpa memesan paket travel pun memungkinkan untuk menikmati wisata bahari yang berbasis masyarakat ini. Salah satu  kelebihan dari Pulau Pari adalah penduduknya begitu kompak dan ramah melayani para pengunjung. Itinerary yang ditawarkan pada para pengunjung (meski berbeda rombongan) dilaksanakan secara serentak, sehingga seluruh aktivitas wisata terlihat tertib dan rapi.

Menjelajah Pulau Pari tak perlu khawatir kelelahan, karena untuk masing-masing pengunjung disediakan Sepeda. Jangan bayangkan ada jalan beraspal atau kendaraan roda 4 di sini, jalan utama di Pulau Pari adalah jalan yang diberi paving blok, dengan sepeda hilir mudik, dan sesekali motor atau gerobak motor (untuk yang tidak bisa naik sepeda/motor).


Siang hari setelah makan, aktivitas snorkeling dimulai secara serentak. Beberapa kapal kecil dikerahkan untuk mengangkut para pengunjung yang akan snorkeling di lokasi Bintang Rama dan Dermaga APL. Terik matahari yang menyengat  akan terlupakan saat terjun ke  dalam air laut yang jernih dan penuh pemandangan yang mempesona. Siluet cahaya matahari yang menerabas permukaan air laut menambah indah terumbu karang, tumbuhan anemone laut yang melambai-lambai, ikan-ikan mungil warna-warni yang berenang kesana kemari, serta beraneka ragam biota laut lainnya. Usai snorkeling, ada beberapa water sport yang bisa dicoba seperti jetski, banana boat dan donat boat. 

Di malam hari kita akan dimanjakan dengan hidangan Barbekyu di pinggir pantai. Penduduk Pulau Pari yang bertugas melayani pengunjung membuat api unggun besar untuk memanggang aneka makanan laut, dan para tamu duduk beralaskan tikar di sekeliling api unggun, sesekali ada tamu yang penasaran ingin memanggang makanannya sendiri, diselingi canda tawa. Suasana keakraban yang menyenangkan. Di sudut pulau yang lain ada Pasar Malam yang bisa kita datangi jika tertarik untuk berbelanja.

Keindahan yang mempesona lainnya adalah Pantai Pasir Perawan. Tempat yang tak boleh dilewatkan untuk menikmati matahari terbit sepanjang pagi di Pulau Pari. Pasirnya yang putih dan lembut, air laut yang jernih dan tenang tanpa ombak, hamparan hutan bakau dengan aneka ragam ikan dibawahnya, membuat betah untuk berlama-lama ada di sana. Kita bisa memuaskan diri untuk sekedar duduk-duduk di pinggir pantai atau berenang di laut, bahkan mengelilingi hutan bakau dengan kano. Jika takut panas, ada banyak pohon rindang dengan ayunan yang dipasang dibawahnya atau gubuk-gubuk yang menjajakan bebagai macam jajanan.



Liburan di Pulau Pari memenuhi segala kerinduan akan kedamaian dan ketenangan dari keriuhan hidup di kota. Dengan biaya yang cukup murah, Pulau Pari juga menjanjikan keindahan alam dan keanekaragaman biota laut, sehingga menjadi liburan tak terlupakan. Selamat berlibur di Pulau Pari, Enjoy Jakarta!